
Desy hanya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan sang Ibu, hal ini sukses membuat sang Ibu dan Ayah merasa bersalah karena menerima pinang orang tanpa bertanya terlebih sulu pada Desy.
"Jika kamu tidak setuju dan merasa keberatan dengan keputusan ini, Ayah masih bisa membatalkannya untukmu," ucapan Ayah Desy cukup membuatnya terkejut, pasalnya Desy cukup tahu dengan pasti jika sang Ayah membatalkan segalanya maka dia dan seluruh keluarganya juga akan malu karenanya.
"Tidak, Ayah! jangan lakukan hal itu! Desy tak ingin Ayah dan yang lain malu karena pembatalan sepihak yang Ayah lakukan." Cegah Desy yang mengerti dengan pasti akibat yang akan terjadi jika sang Ayah membatalkan pertunangan yang terjalin meski tanpa sepengetahuannya.
'Ternyata, cincin yang selama ini selalu aku gunakan sebagai alasan jika aku telah bertunangan pada Reyhan, memang cincin tunangan sungguhan, aku benar-benar tidak menyangka' batin Desy memikirkan apa yang telah dia katakan pada Reyhan bukanlah kebohongan melainkan kenyataan yang baru terungkapkan.
"Tapi Ayah tak ingin melihatmu bersedih seperti itu, Nak, Ayah akan lakukan apapun agar kamu bisa bahagia," Ayah Desy kembali berucap sambil mengusap punggung sang putri mencoba meyakinkan dirinya.
"Tidak apa-apa, Ayah, Desy bisa menerima semua keputusan kalian dengan ikhlas, tapi untuk saat ini biarkan Desy berfikir dulu." Pinta Desy dengan senyum yang dia paksakan agar kedua orang tuanya tak tahu jika saat ini hati Desy masih bimbang.
"Terima kasih kamu sudah mau menerima keputusan kami, percayalah kami tidak akan mengecewakanmu," sahut Ibu Desy sambil memeluk sang Putri dari samping, mencoba meluapkan rasa rindu yang selalu merasuk ke dalam dirinya.
"Terima kasih juga untuk segalanya, bagiku apapun yang kalian pilihkan adalah pilihan terbaik yang bisa aku terima, karena aku yakin kalian tidak akan sembarangan memilih, apalagi ini tentang pasangan hidup yang akan menemaniku seumur hidupku," ungkap Desy yang sukses membuat kedua orang tua Desy terkejut dengan ungkapan sang Putri sekaligus bangga dengan pemikiran sang anak.
"Alhamdulillah," ujar Ayah dan Ibu Desy bersamaan.
Hal seperti inilah yang biasa di harapkan orang tua ketika mereka menaruh putra dan putri mereka di pesantren, ketaatan dan kebaktian yang di miliki para santri bisa membuat orang tua manapun bangga dan senang karenanya.
"Ibu, Ayah, apa aku boleh bertanya sesuatu pada kalian?" Desy yang begitu penasaran akhirnya bertanya.
"Apapun yang akan kamu tanyakan, kami pasti akan menjawabnya," jawab Ibu Desy dengan senyum lembut yang selalu menenangkan hati siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
"Apa semua yang Ayah dan Ibu kasih selama ini dari dia? maaf kalau pertanyaan Desy menyinggung kalian," tanya Desy, terlihat jelas kekhawatiran dan keraguan di wajahnya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Nak! harusnya kami yang meminta maaf padamu, karena kami tidak mengatakan semuanya padamu terlebih dulu, dan apa yang kmu tanyakan itu memang benar, selama hampir satu tahun ini dia yang menanggung semua biaya dan kebutuhanmu selama di pesntren," jawab Ibu Desy.
"Ibu tidak perlu mint maaf, Desy tidak masalah kok, yang terpenting Ayah dan Ibu bahagia karenanya," ujar Desy.
Ketiganya berbincang panjang lebar, meluapkan rasa rindu yang kini sudah terobati.
"Ibu dan Ayah pulang dulu ya, Nak. Kamu harus bisa jaga diri baik-baik di pesantren! dsn ingatlah sekarang kamu itu sudah punya tunangan maka jangan lupa jaga hati juga!" pesan Ibu Desy sebelum pulang.
"Baik, Ibu, Desy mengerti," jawab Desy.
Ayah dan Ibu Desy akhirnya kembli pulang meninggalkan pesantren setelah merasa cukup meluapkan rasa rindu pada sang putri, dan Desy kembali masuk dengan segala pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Desy!!" Shinta sedikit berteriak memanggil Desy yang terlihat berjalan sambil melamun.
"Astaghfirullah, kamu ini kenapa sih Shinta? teriak-teriak mulu," sahut Desy yang cukup terkejut dengan suara Shinta yang menggelegar.
"Dari tadi aku manggil kamu tapi gak di respon, giliran aku teriak kamunya protes, dasar kau ini," gerutu Shinta.
"Kamu manggil-manggil aku dari tadi kenapa?" Desy yang sadar jika sejak tadi dirinya memang berjalan sambil memikirkan ucapan orang tuanya memilih untuk bertanya pada Shinta.
"Harusnya aku yang nanya gitu ke kamu, dari tadi aku perhatiin kamu itu jalan sambil ngelamun, memangnya ada apa? apa kamu ad maslah?" tanya Shinta.
__ADS_1
"Ikut aku!" Desy menarik tangan Shinta agr dia mengikuti langkahnya menuju Aula di mana Desy duduk sebelum menemui orang tuanya tadi.
"Kamu ada masalah apa Desy?" kini Shinta memasang wajah seriusnya menatap ke arah Desy yang duduk tepat di hadapannya.
"Ibu dan Ayahku tadi bilang jika saat ini aku telah bertunangan dan di jodohkan dengan laki-laki pilihan mereka," ujar Desy dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"What?? di jodohkan? sejak kapan?" sahut Shinta, dia begitu terkejut mendengar penuturan sang sahabat.
"Benar Shin, dan aku bingung harus bagaimana? menolakpun tidak akan bisa," Desy mulai mengungkapkan seluruh unek-unek yang ada dalam hatinya.
"Kenapa gak bisa? kamu juga punya hak untuk memilih dan bahagia Desy, jadi kenapa tidak kamu tolak saja?" ujar Shinta.
"Mana bisa aku menolak? jika pertunangan sepihak ini telah terjadi hampir satu tahun lamanya, dan kamu tahu Shinta, selama ini uang dan kiriman juga termasuk cincin ini pemberian darinya tanpa sepengetahuanku," ungkap Desy.
"Apa kamu tahu siapa laki-laki itu?" selidik Shinta dan Desy hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kok bisa gitu?" Shinta semakin penasaran dengan cerita yang di ungkapkan oleh sahabatnya itu.
"Aku lupa nanya sama Ayah dan Ibu siapa laki-laki yang menjadi tunanganku itu," ungkap Desy.
"Astaghfirullah, dasar kau ini, tapi tunggu dulu! kamu bilang laki-laki itu yang selama ini mencukupi kebutuhanmu di pesantren dan memberikan uang lewat orang tuamu, apa mungkin laki-laki itu Mas Huda?" tebak Shinta.
"Mas Huda, maksudmu bagaimana? kenapa jadi Mas Huda?" tanya Desy antusias saat mendengar perkataan Shinta.
__ADS_1
"Coba kamu fikir selama hampir setahun Mas Huda selalu mengirim makanan dan kebutuhanmu di pesantren, juga makan setiap pagi dan sore, satu lagi apa yang di kirimkan Mas Huda itu sama persis dengan apa yang pernah orang tuamu bawakan, tapi semenjak Mas Huda mengirimkan kebutuhanmu lewat Erwin orang tuamu datang hanya membawa uang dan makanan yang bisa di makan saat itu juga, mereka tak lagi membawakan hal lain." Shinta menjelaskan kecurigaan yang dia rasakan pada Desy.