
"Dasar pelit, semalam aja gak boleh," gerutu Umik.
"Biarin," sahut Arif, keduanya memang sudah punya anak mantu dan bahkan sebentar lagi akan memiliki seorang cucu, tapi sifat mereka yang suka berdebat tetap melekat dan tak lekang oleh waktu.
"Sudahlah, jangan berdebat terus! kalau kalian berdebat tak akan pernaj ada ujungnya, terus aku kapan bisa ketemu calon mantu? lagi pula tadi katanya Mas Arif buru-buru ada meeting sekarang malah berdebat di sini, meetingnya jadi apa engga?" sela Imah yang sangat mengerti dengan tabiat kedua insan yang ada di hadapannya itu, jika tidak di pisah maka perdebatan mereka tak akan pernah berujung, ada saja yang di ributkan.
"Astaghfirullah," ucap Arif seraya melirik jam tangan yang melingkar indah di lengannya.
"Ini gara-gara kamu, Dek, aku jadi telat," ujar Arif menyalahkan Umik.
"Yee, salah sendiri suka ngeyel gak mau ngalah sama Adik," bela Umik.
"Sudah-sudah jangan di terusin! kalian ini gak bisa apa tenang sedikit aja?" Imah kembali menyela keduanya.
"Mas Arif katanya sudah telat, kenapa malah debat di sini? sudah cepat berangkat." Imah sedikit geram melihat tingkah keduanya yang terlihat seperti sepasang anak kecil yang berebut lolipop.
"Baiklah, aku berangkat dulu. Ingat nanti aku jemput!" pesan Arif.
"Iya, Mas," sahut Imah sambil meraih punggung tangan sang suami kemudian menciumnya.
"Dek, aku berangkat dulu. Titip istriku jangan sampai lecet!" pesan Arif pada sang adik.
"Tenang gak bakal lecet, paling-paling entar aku gadaikan ke pasar loak," sahut Umik memancing perdebatan kembali.
"Maaas," Imah memanggil Arif sambil menggelengkan kepala tanda jika dirinya tidak di izinkan untuk membalas ucapan Umik agar tak ada perdebatan kembali.
"Aku berangkat assalamualaikum," pamit Arif masuk ke dalam mobil.
"waalaikum salam," sahut Imah dan Umik hampir bersamaan.
__ADS_1
"Kita masuk yuk, Kak!" ajak Umik sambil menggandeng tangan Imah masuk ke dalam rumah.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Imah merasa aneh melihat Umik membereskan tumpukan kertas yang tertata rapi di meja ruang tengah.
"Ini hasil ulangan para santri dan aku bertugas mengoreksi hasil ulangan yang mereka kerjakan," jawab umik.
"Kayaknya kedatanganku ganggu kamu ya, Dek," terka Imah merasa tak enak hati saat melihat tumpukan kertas putih tersusun rapi di atas tempat meja.
"Tidak Kak, kertas ini masih bisa aku kerjain besok atau lusa, lagi pula aku kan gurunya jadi tidak ada yang bisa mengaturuku Kak," jawab Umik dengan senyum manis di wajahnya, dia tak ingin sang Kakak Ipar merasa tak nyaman berada di rumahnya.
"Oh iya, Kamu punya ide gak? bagaimana caranya biar aku bisa menghabiskan waktu bersama Desy?" tanya Imah.
"Kakak tenang saja, hari ini sekolah diniyah sedang libur karena tahu baru islam, jadi Desy pasti punya waktu untuk kita mintai tolong," jawab Umik.
"Di mintai tolong bagaimana maksudmu, Dek?" Imah kembali bertanya karena dirinya tak mengerti dengan maksud dari ucapan Umik.
"Desy itu anaknya rajin dan penurut, dia sangat menghormati guru, jadi apapun yang di minta sang guru selama itu baik dia pasti akan melakukannya tanpa mengeluh, dan kebetulan hari ini aku ingin bongkar-bongkar lemari baju, jadi aku akan memintanya membantuku untuk membereskan isi lemari." Umik menjelaskan ide yang ada di kepalanya.
"Kakak tunggu di sini dulu! biar aku panggilkan Desy." Titah Umik menyuruh Imah duduk di sofa ruang tengah dan menunggunya yang berjalan menuju dapur mencari Hana agar dia memanggilkan Desy dan menyuruhnya datang menemui Umik.
"Mbak Hana!" panggil Umik.
"Iya, Umik," sahut Hana menghentikan kegiatannya yang sedang membersihkan dapur.
"Tolong panggilkan Desy! suruh dia menemui saya di ruang keluarga!" titah Umik.
"Siap, Umik," Hana langsung berjalan melenggang pergi meninggalkan Umik untuk menemui Desy.
"Kak!" panggil Desy saat melihat sang Kakak ipar justru sibuk mengetik huruf yang tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Iya, kenapa Dek? apa Desy tidak bisa ke sini?" sahut Imah sambil memasukkan ponsel yang tadi dia pegang.
"Tidak Kak, Desy sebentar lagi pasti ke sini, aku cuma manggil aja, Kakak tadi terlihat serius menatap layar ponsel, jadi aku penasaran apa yang Kakak lihat," jawab Umik jujur.
"Oh; tadi Mas Arif ngirim pesan, jadi Kakak harus hati-hati balasnya, kalau enggak bisa di suruh pulang nanti," jawaban yang sungguh membuat Umik tercengang, dalam benaknya timbul berbagai pertanyaan, sejak kapan Kakaknya itu menjadi seorang pria yang posesif? setahu Umik Kakaknya itu pria biasa saja yang tak terlalu mengekang atau mempermasalahkan hal-hal yang menurutnya tak penting dalam suatu hubungan. Tapi setiap orang berhak berubah dan Umik hanya bisa diam tanpa banyak bertanya.
"Assalamualaikum, Umik," suara lembut seorang gadis menyita perhatian dua Ibu-Ibu yang sedang asyik berbincang.
"Desy, kemarilah, Nak!" sahut Umik yang susah sangat hafal dengan suara lembut Desy tanpa harus menoleh ke arahnya.
"Umik manggil saya?" tanya Desy saat sudah sampai di dekat Umik.
"Iya, Desy aku mau beres-beres lemari, apa kamu busa bantu?" jawab Umik.
"Bisa Umik," Desy menjawab pertanyaan Umik sambil menundukkan kepala tanda jika dia sangat menghormati wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.
Tanpa ada kata yang terucap lagi, Umik langsung berdiri berjalan menuju lemari yang berada tak jauh dari tempatnya duduk tadi, di ruang keluarga memang ada satu lemari baju milik Umik, dia sengaja menaruhnya si sana karena lemari yang ada di kamarnya sudah penuh.
Desy mengikuti langkah Umik dari belakang dan mulai membantunya mengeluarkan baju-baju lama Umik. Sedang Imah yang melihat Desy sudah melakukan tugasnya kini mulai ikut bergabung untuk melihat bagaimana calon menantunya dari dekat.
"Ngomong-ngomong nama kamu siap, Nduk?" tanya Imah.
"Nama saya Desy, Neng," jawsb Imah penuh rasa sungkan karena yang sedang di ajaknya bicara adalah Kakak dari pemilik pesantren.
"Maksudku nama panjang kamu siapa?" Imah memperjelas pertanyaannya.
"Desy permatasari, Neng," jawab Desy dengan kepala yang masih setia menunduk sebagai tanda jika dia menghormati yang lebih tua.
Tapi meski kepalanya menunduk dan tak berani menatap mata lawan bicaranya, tangan Desy terus membantu Umik menata setiap baju yang di keluarkan dari lemari di hadapannya. Imah yang dulu juga seorang santri sangat mengerti dengan karakter setiap santri lewat sikap dan tutur bicara juga nada bicaranya, dan Desy termasuk dari salah satu santri yang baik dan taat menurutnya.
__ADS_1
"Desy, Umik haus, apa Umik boleh minta tolong buatkan es jus jeruk?" tiba-tiba Umik meminta Desy untuk membuat jus saat keduanya sedang membereskan baju.
"Bisa, Umik," sahut Desy.