
Huda menyambut kedatangan Desy yang terlihat seperti seorang ratu tercantik yang pernah dia temui, senyum Huda terlihat begitu merekah dan terlihat begitu sumringah, setelah sekian lama menunggu akhirnya kini Desy bisa menjadi miliknya.
Keduanya duduk di kursi yang telah di sediakan bagai raja dan ratu yang terlihat begitu berkarisma dan mempesona. Semu tamu undangan satu persatu hadir memberi ucapan selamat dan hadiah yang bermacam-macam. Malam semakin larut, acara yang tadinya meriah kini perlahan mulai sepi karena para tamu undangan banyak yang pulang.
"Malam ini kita menginap di hotel saja, besok baru pindah ke rumah baru kita," ucap Huda.
Saat ini keduanya sedang duduk berhadapan di kamar setelah semua acara selesai, keluarga Huda dan Desy juga sudah kembali pulang ke rumah mereka masing-masing meninggalkan dua sejoli yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri.
"Rumah baru bagaimana maksudnya, Mas?" tanya Desy yang tak mengerti maksud daei ucapan Huda.
"Aku sudah menyiapkan rumah yang akan kita tempati setelah menikah, jadi besok sore semua keluarga akan datang ke sana untuk acara syukurannya." Jawab Huda.
__ADS_1
"Besok sore, bagaimana aku bisa menyiapkan semuanya dengan waktu yang singkat, Mas?" tanya Desy dengan ekspresi wajah bingung yang tampak jelas di wajah Desy.
"Untuk saat ini kamu tidak perlu khawatir karena aku sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum kita menikah, maaf jika aku tudak membicarakannya dulu denganmu," ucap Huda.
"Tidak apa-apa, Mas, lagi pula sudah menjadi kewajibanku untuk ikut ke manapun suamiku pergi," ujar Desy yang sukses membuat Huda tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah jika kamu tidak marah ataupun tersinggung dengan keputusan yang ku buat, aku bahagia bisa memilikimu sebagai istriku," Huda menatap lekat ke arah Desy yang kini justru tertunduk malu di hadapannya.
"Mas, aku ke kamar mandi dulu mau ganti baju gerah." Pamit Desy yang terlihat salah tingkah, dia langsung berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi, Desy hanya bisa diam tanpa membalas ucapan Huda, kini hatinya sedang berpacu seperti kuda yang ingin berlomba. Perlahan Desy membersihkan diri dan mengganti baju hingga dia melupakan hal paling penting yang harusnya juga dia bawa ke kamar mandi tadi.
__ADS_1
"Mas Huda!" panggil Desy dengan nada suara ragu yang terdengar dari balik pintu.
"Iya, Sayang, ada apa?" sahut Huda yang langsung berjalan cepat mendekat ke arah kamar mandi dengan semangat yang terlihat berkobar.
"Apa aku boleh minta tolong?" tanya Desy.
"Kamu mau minta tolong apa?" sahut Huda.
"Emmm, maaf sebelumnya jika aku tidak sopan sama Mas, tapi aku butuh banget barang itu," Desy kembali berucap dengan nada suara gemetar karena takut bercampur ragu.
"Memangnya kamu mau minta tolong ambilkan apa? katakan saja! biar Mas yang ambilkan!" ujar Huda dengan nada suara tegas.
__ADS_1
"Emm, aku butuh pembalut yang ada di dalam tas kecil yang tadi aku bawa, Mas," dengan ragu Desy mengatakan tujuannya meminta tolong pada Huda.
'Apa? pembalut? apa itu artinya Desy sedang libur, astaghfirullah, bisa gagal rencanaku malam ini,' batin Huda setelah mendengar permintaan Desy.