Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Huda Modus


__ADS_3

"Maaf Mas Huda, saya di suruh menunggu Umik di sini jadi saya tidak bisa meninggalkan ruangan ini." Desy yang merasa punya kewajiban untuk mentaati apa yang di perintahkan oleh sang guru.


"Tunggu di sini biar Aku yang izinkan!" ujar Mas Huda berjalan masuk ke dalam ruangan di mana Zahra dan Umik berada.


"Assalamualaikum, Umik!" panggil Huda setelah mengetuk dan membuka pintu ruangan Zahra.


"Iya ada apa, Nak?" sahut Umik menghentikan kegiatannya yang sedang melihat desain gamis yang tterbaru.


"Umik, Desy Aku ajak milih baju untuk ZiZi apa boleh?" Huda meminta izin untuk mengajak Desy pergi memilih baju bersamanya.


"Boleh, tapi jangan keluar dari butik!" Umik mengizinkan Huda untuk mengajak Desy peegi memilih baju.


"Umik tenang aja, Aku cuma milih baju di dalam butik aja." sahut Huda dengan wajah yang terlihat berseri.


Huda kembali menutup pintu dan berjalan menghampiri Desy yang terlihatmasoh duduk di tempat semula sebelum Huda meninggalkannya.


"Ayo jalan!" ajak Huda.


"Jalan ke mana?" sahut Desy yang masih diam di tempat dengan ekspresi bingung.


"Temani Aku pilih gamis!" jawab Huda.


"Apa Umik sudah memberi izin?" Desy yang begitu taat pada sang guru kembali bertanya kebenarannya.


"Sudah, ayo!" ajak Huda yang di turuti oleh Desy.


Desy yang mendengar ajakan Huda langsung berdiri mengikuti langkah Huda menuju deretan gamis dengan model baru.


"Masya allah gamisnya bagus-bagus," lirih Desy saat melihat deretan gamis yang ada di hadapannya.


"Pilihlah!" titah Huda.


"Pilih? maksudnya?" tanya Desy yang tak mengertidengan perintah yang di berikan padanya.


"Pilihlah beberapa gamis yang menurutmu bagus!" titah Huda yang kini berdiri di samping Huda.


Desy yang mendapat perintah dari Huda langsung berjalan memilih baju yang menurutnya bagus.

__ADS_1


"Ini beberapa gamis yang menurutku bagus." Desy memberikan lima potong baju yang terlihat begitu bagus.


"Tidak buruk," respon Huda yang langsung mengambil alih beberapa potong baju yang di ambil oleh Desy.


Huda berjalan menuju kasir untuk membayar baju-baju yang di ambil oleh Desy dan membayarnya. Desy mengambil enam potong gamis.


Setelah selesai membayar Huda berjalan kembali menuju ruang tunggu yang tadi di tempati oleh Desy.


"Duduklah!" titah Huda saat melihat Desy hanya berdiri dan tak kunjung duduk.


"Saya duduk aja Mas gak apa-apa." Sahut Desy yang merasa segan jika harus duduk di sebelah Huda.


Huda yang mengerti jika saat ini Desy merasa segan akhirnya memilih untuk menggeser beberapa deret bangku agar Desy mau duduk.


"Sekarang duduklah!" sambung Huda yang akhirnya di turuti oleh Desy.


Sikap Desy sungguh bisa membuat Huda terkesan, selain ucapan Desy terdengar bijak sekarang di perlengkap dengan sikap Desy yang taat dan begitu menjaga diri membuat sudut hati Huda tergerak.


************


"Tidurlah dulu!" titah Hasan yang sedang serius menatap laptop di pangkuannya.


Cukup lama Arum perhi keluar dari kamar dan kembali masuk ke dalam kamar dengan satu nampan berisi dua cangkir yang berisi kopi dan susu sapi asli kesukaan Arum.


"Abi, ini minum untukmu." Arum memberikan satu cangkir kopi ke hadapan Hasan.


"Terima kasih." Ujar Hasan meraih satu cangkir kopi yang di berikan oleh Arum.


Desy tersenyum manis ke ara Hasan yang membuat Hasan resah karena harus menahan sesuatu yang masih belum bisa di salurkan.


"Abi mau ke mana?" tanya Arum yang sedikit bingung melihat Hasan tiba-tiba berdiri berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar Arum.


"Ke kamar mandi. Kenapa? apa kamu mau ikut?" Hasan yang mendengar pertanyaan Arum seolah mendapat bahan untuk menggoda Arum.


"Enggak terima kasih," jawab Arum sembari mengalihkan perhatiannya dan meminum susu yang tadi dia bawa.


Arum menghabiskan satu gelas penuh susu yang tadi dia bawa."Alhamdulillah," lirih Arum yang merasa kenyang dan senang karena bisa menikmati segelas susu sapi asli, biasanya dia hanya bisa minum air putih sebagai ganti.

__ADS_1


"Kamu suka minum susu?" tanya Hasan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lebih tepatnya susu sapi asli, Aku sangat menyukai itu." Sahut Arum.


"Oh," Hasan hanya mengangguk dan ber "O" riya.


Arum dan Hasan saling diam setelah bertanya, semuanya hening tak ada satupun yang berbicara. Sampai akhirnya suara Arum memecahkan keheningan.


"Abi, Aku tidur dulu ya." Pamit Arum saat melihat Hasan hanya diam menatap laptop tanpa berbicara.


"Tidurlah dulu. Aku masih ada beberapa email yang harus ku selesaikan." Sahut Hasan, sejenak mengalihkan pandangannya pada Arum kemudian kembali menatap laptop yang masih ada di hadapannya.


Arum yang mendengar sahutan Hasan langsung berjalan ke arah kasur merebahkan diri tanpa membuka hijab yang masih melekat di kepalanya.


"Apa kamu tidak risih tidur sambil pakai kerudung seperti itu?" tanya Hasan yang melihat Arum masih memakai kerudung di kepalanya.


"Oh maaf Aku lupa," ujar Arum seraya duduk dan perlahan melepas hijab yang menghiasi kepalanya. Melihat Arum melepas hijab dan mahkota kepala yaitu rambut Arumyang begitu hitam nan panjang membuat Hasan terpesona.


Arum begitu cantik seperti seorang putri dalam negeri dongeng, rambutnya yang panjang terikat seperti ekor kuda perlahan di lepas dan tergerai indah membuat siapapun terpanah karenanya.


"Abi!" panggil Arum saat melihat Hasan hanya diam menatapnya.


"Abi! apa ada yang salah?" Arum yang bingung kembali menegur Hasan yang masih setia menatapnya lekat.


"Eh, ti~tidak ada, tidurlah!" jawab Hasan dengan gugup.


Arum yang mendengar pertanyaan Hasan hanya bisa tersenyum manis kemudian kembali tidur untuk mengistirahatkan badan. Tapi keadaan berbeda terjadi pada Hasan yang langsung berdiri berjalan menuju balkon setelah melihat Arum tidur.


Arum dan Hasan memang sudah sepakat untuk saling mengenal lebih dulu baru melangkah ke langkah yang lebih jauh, awalnya Hasan mengira akan mudah untuk di lewati tapi kenyataannya Hasan justru merasa begitu tersiksa karena hasrat yang timbul saat melihat Arum yang semakin cantik tanpa hijabnya.


"Semoga Aku bisa kuat menahannya." Lirih Hasan yang saat ini sedang berada di balkon kamar Arum, menengadahkan wajah ke langit mencoba meredam sesuatu yang sebenarnya ingin di salurkan.


Dan malam panjangpun berlalu, Hasan yang awalnya begitu sulit terpejam kini telah terlelap dengan tangan memeluk guling hidup di sampingnya yaitu Arum.


Malam berlalu berganti mentari pagi yang mulai bersinar, menerangi setiap sisi dunia ini. Perlahan tapi pasti Arum mulai membuka mata merasakan sesuatu yang berat tengah menimpa perutnya.


"Duuhh berat banget!" keluh Arum sembari menghempaskan benda berat yang ternyata tangan Hasan yang sedang melingkar indah di perut Arum.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" spontan Hasan yang merasakan tangannya terhempas begitu kasar ke sembarang arah.


"Maaf," Arum yang baru tahu jika benda yang dia hempaskan adalah tangan Hasan yang saat ini telah sah menjadi suaminya langsung meminta maaf.


__ADS_2