
Desy langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan jus jerum yang di minta oleh Umik, dia membuat dua gelas untuk Umik dan Kakaknya.
'Tumben sekali ada Ibunya Mas Huda di sini? aku jadi keinget dia lagi,' batin Desy.
Menahan rindu itu jauh lebih berat dari pada menghadapi ujian semester bagi Desy, meski dia tahu dengan pasti jika Huda tak pernah mengatakan perasaannya tapi perasaan Desy yang tumbuh tanpa bisa di kendalikan terus saja tumbuh dan berkembang.
"Umik, ini jusnya." Desy memberikan dua gelas jus yang tadi dia buat.
"Kenapa jusnya ada dua Desy?" tanya Umik yang penasaran dengan jawaban Desy.
"Yang satu buat Neng Imah," jawab Desy.
Di pesantren sebutan Neng biasa di sematkan untuk keluarga ndalem atau keluarga pwmilik pesantren.
"Terima kasih, Desy," ucap Imah tersenyum manis melihat sikap Desy yang mengerti apa yang harus dia lakukan tanpa di perintah.
"Sama-sama, Neng," jawab Desy seraya kembali menyelesaikan pekerjaannya menata baju yang sudah ada di depannya.
Ketiganya menyelesaikan pekerjaan memilih baju yang masih di pakai dan tidak di pakai, biasanya Umik akan menyumbangkan baju yang masih bagus dan sangat layak untuk di pakai pada pihak panti asuhan atau memberikannya pada santri yang mau memakainya.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai sudah," ucap Umik menaruh baju terakhir yang belum di masukkan.
Semua baju telah selesai di rapikan, kini Umik dan Imah sedang duduk di sofa dan Desy hanya diam duduk di tempat tadi saat dia merapikan baju dengan kepala menunduk tak bergerak ataupun merubah posisinya.
"Bagaimana kalau setelah ini kita pergi nyari bakso?" usul Imah.
"Boleh juga, kebetulan siang-siang gini enaknya makan bakso Kak," sahut Umik.
"Aku pengen makan bakso iga yang ada di persimpangan jalan, menurutmu bagaimana?" usul Imah meminta pendapat Umik.
"Di situ enak Kak, kita ke situ aja." Jawab Umik menyetujui usulan Imah.
"Menurutmu bagaimana Desy?" Imah tiba-tiba meminta pendapat Desy yang sejak tadi diam tanpa suara di tempat.
__ADS_1
"Eh, maaf Neng, maksudnya bagaimana ya?" tanya Desy yang bingung dengan pertanyaan Imah yang tiba-tiba melempar pertanyaan padanya.
"Menurutmu bagaimana kalau kita makan bakso di tempat yang tadi kita bahas? apa kamu setuju atau tidak?" Imah menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
"Kalau saya terserah Umik dan Neng Imah saja," jawab Desy dengan senyum yang mengembang bibirnya, meski sebenarnya dalam hati Desy masih banyak sekali pertanyaan yang bersarang di benaknya.
Imah dan Umik tersenyum lucu melihat senyuman di bibir Desy, padahal mereka tahu dengan pasti jika saat ini Desy masih bingung dengan pertanyaan yang di ungkapkan oleh Imah.
"Baiklah, ayo berangkat!" ajak Imah berdiri dan memberi isyarat pada Umik juga Desy untuk ikut berdiri.
"Maaf Neng, apa maksudnya saya juga ikut?" tanya Desy dengan ekspresi ragu-ragu.
"Tentu saja, aku meminta pendapatmu agar kamu memberi saran karena aku juga mengajakmu ikut," jawab Imah dengan senyum manis yang terlihat di wajah Imah.
"Kamu mau siap-siap dulu, atau mau langsung berangkat dengan kita?" tanya Umik yang sangat mengerti jika kebanyakan santri akan bersiap setidaknya dandan dulu sebelum ikut pergi bersamanya.
"Tidak Umik, langsung berangkat saja," tolak Desy dengan tutur kata yang lembut.
Ketiganya berangkat bersama, dan Desy duduk di tengah-tengah antara Umik dan Imah. Sungguh Imah calon mertua yang memiliki hobi baru, menjahili sang calon menantu, bagaimana tidak? posisi duduk di tengah-tengah antara Neng Imah dan Umik adalah posisi yang paling membuat orang tidak nyaman.
'Tinggal satu hal lagi yang harus aku tahu, apa Desy bisa masak ya? dan bagaimana masakannya?' batin Imah menatap lurus ke depan.
"Dek, bagaimana kalau kita masak bareng?" tanya Imah saat ketiganya baru saja sampai di halaman rumah setelah menikmati seporsi penuh bakso iga.
"Wah pasti seru itu Kak," sahut Umik.
"Desy nanti bisa bantuin kami masak, Kan?" Imah menoleh ke arah Desy yang berdiri tak jauh dari keduanya dengan satu kantong plastik berwarna hitam berisi dua tiga bungkus bakso untuk Arum, Hasan dan Hana.
"Bisa, Neng," jawab Desy.
"Baiklah sekarang kamu antar bakso itu ke Hana! bakso buat Hasan dan Arum biar Umik yang berikan sendiri. Setelah itu kamu bisa istirahat, datanglah ke dapur setelah sholat asar nanti!" titah Umik yang langsung di jalankan oleh Desy tanpa membantah ataupun menyahuti ucapan Umik.
"Astaghfirullah, aku sampai lupa sama bumil, dari tadi aku belum lihat keadaannya," gumam Imah saat menyadari jika sejak dia sampai di pesantren tak sempat melihat Arum malah sibuk meneliti calon mantunya.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak apa-apa Kak. Lagi pula Arum juga gak sakit, mending kuta jenguk dia sekarang." Ajak Umik berjalan beriringan menuju rumah Hasan.
"Assalamualaikum," ucap keduanya hampir bersamaan.
"Waalaikum salam," sahut Hasan berjalan keluar dari ruang keluarga menuju ruang tamu di mana Umik dan Imah berada.
"Budhe," panggil Hasan saat melihat Imah datang.
"Bagaimana kabarmu Hasan?" tanya Imah.
"Budhe kapan datang?" tanya Hasan seraya duduk di kursi ruang tamu.
"Astaghfirullah, telingaku rada gimana gitu tiap denger kamu panggil Budhe," ucap Imah.
"Kenapa telinganya Kak?" sahut Umik dengan ekspresi khawatir.
"Rada gak enak, karena berasa tua tiap kali dengar sebutan Budhe, he he he," Imah terkekeh geli setelah mengatakan alasannya.
"Astaghfirullah Kak, emang udah tua kali Kak, emang ular yang bisa ganti kulit dan bisa tetep kenceng meski udah tua," seru Umik yang ikut terkekeh mendengar ucapan Imah.
"Budhe bisa saja," sahut Hasan sambil geleng kepala mendengar percakapan kedua wanita paruh baya yang kini duduk tepat di hadapannya.
"Eh ngomong-ngomong, istrimu mana Hasan?" Imah langsung menanyakan keberadaan Imah setelah mengingat dan selesai tertawa.
"Dia sedang rebahan di ruang keluarga, baru saja muntah Budhe, jadi badannya masih lemes." Jawab Hasan.
"Apa muntah-muntahnya separah itu?" tanya Umik.
"Dia memang bisa makan Umik, tapi setelah makanannya habis keluar lagi, sampai gak tega aku lihatnya." Tutur Hasan.
"Apa sudah di bawa ke dokter?" sahut Imah.
"Sudah, bahkan obatnya juga rutin di minum, tapi tetep aja muntah-muntah," jelas Hasan.
__ADS_1
"Apa kami boleh menemuinya?" Imah yang merasa tak enak hati mendengar keadaan Arum bertanya terlebih dahulu sebelum menemui Arum.
"Tentu saja boleh," Hasan berdiri memberi isyarat agar Umimk dan Imah ikut bersamanya.