
Di belahan dunia yang lain, terlihat Huda sedang duduk santai di sofa kamarnya, menatap lekat ke arah surat yang saat ini dia pegang, jantungnya terus berpacu seperti kuda yang tengah mengikuti lomba.
Ini surat pertama dari seorang gadis, entah mengapa rasanya jauh berbeda dengan chat yang biasa dia dapatkan dari para mantannya dulu.
Perlahan tapi pasti, Huda mulai membuka sepucuk kertas dengan senyum yang terlihat merekah.
Dear Mas Huda Terkasih,
Maaf jika aku terkesan kurang sopan dengan mengirim surat ini padamu, entah mengapa hatiku tergerak untuk membalas surat yang kamu kirimkan.
Seutas rindu dari balik penjara suci yang memisahkan kita ingin ku torehkan di secarik kertas yang mungkin tiada artinya.
Aku selalu menghitung setiap detik yang ku lewati tanpamu, berharap jika waktu akan segera berlalu, wahai pemilik hatiku, kapan engkau kembali?
Aku selalu menunggu meski mereka bilang penantianku ini akan sia-sia, tapi hatiku tak lagi bisa aku kendalikan.
Rinduku sudah menumpuk tak lagi bisa aku timbun, hanya satu harapanku, engkau kembali dengan kabar yang akan membuatku bahagia.
Salam rindu untukmu yang tersayang,
***Desy***
Singkat padat dan jelas tapi memiliki arti yang cukup dalam, begitulah isi surat yang di kirimkan oleh Desy, meski kata-katanya tak terlalu banyak, tapi cukup menjelaakan jika saat ini Desy mencintai Huda dan masih setia menunggunya.
"Andai kau tahu Desy, selama ini aku berjuang menekan rasa rindu yang semakin menyiksa ini, mencoba menyelesaikan semua yang ada di sini secepat yang ku bisa," lirih Huda sambil menatap langit membayangkan senyum manis Desy yang selalu membayanginya.
__ADS_1
~
Pagi ini Desy terlihat begitu bersemangat, dengan senyum yang mengembang dan tak pernah luntur dia berangkat ke sekolah. Hatinya begitu bahagiasetelah mendengar jika Huda sudah menerima sepucuk surat yang dia kirimkan lewat Erwin.
"Hay, cantik," sapa Reyhan yang sejak tadi menunggu Desy berangkat sekolah di depan gerbang besar penghubung antara pondok putri dan gedung sekolahan.
Mendengar sapaan Reyhan sama sekali tak mengusik Desy yang langsung merubah ekspresinya. Wajah yang awalnua cerah secerah mentari pagi kini berubah menjadi awan mendung yang siap menghentakkan siapapun dengan petir yang terkandung di dalamnya.
"Kok diem aja?" Reyhan masih saja berusaha mengajak Desy berkomunikasi tapi tetap saja Desy tak merespon Reyhan, dia masih acuh jangankan menyahuti sapaan Reyhan menoleh saja Desy terlihat enggan.
"Cantik, udah sarapan belum?" tanya Reyhan, dia benar-benar keras kepala, meski Desy sudah cuek dan tak memperdulikannya Reyhan tetap saja berusaha mendekat.
"Bisa tidak jangan ganggu aku?" sarkas Desy saat Reyhan kini menghadang jalan Desy.
Saat ini Desy memang berangkat sendiri tanpa Shinta, tadi pagi Shinta berangkat lebih dulu karena Desy masih mengerjakan PR yang lupa dia kerjakan semalam, semua itu terjadi karena dia memikirkan surat yang dia kirim, dia terus saja terbayang-bayang oleh wajah Huda yang tampan dengan swnyum yang mempesona, semua itu sukses membuat Desy lupa akan tugas sekolah yang harus dia kumpulkan besok.
Tapi Desy yang sudah terlanjur jatuh hati pada Huda tak lagi bisa melihat wajah yang jauh lebih tampan dan mempesona selain Huda, aura yang di miliki Reyhan seolah sirna tertutup awan mendung seperti ekspresi wajah Desy saat ini.
Desy merasa lelah dengan sikap Reyhan yang terlihat begitu keras kepala, dia menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengumpulkan sejuta kesabaran yang dia miliki.
"Baiklah, sekarang apa mau mu?" tanya Desy dengan wajah jengah melihat ke arah Reyhan yang tetap saja setia dengan senyum yang sebenarnya terlihat menjengkelkan di mata Desy.
"Kalau kamu tidak mau jadi pacar atau calon Ibu dari anak-anakku, maka bagaimana kalau kita berteman saja?" Reyhan masih belum mau menyerah, baginya Desy adalah gadis yang unik dan langka, sejauh ini tidak ada satu gadis pun yang menolak dirinya, sekalipun gadis itu sudah memiliki pasangan, mereka akan meninggalkan pasangannya demi dirinya.
"Baiklah, aku mau jadi temanmu, tapi aku punya satu syarat yang harus kamu penuhi! apa kamu sanggup?" Desy sudah kehabisan akal untuk menghadapi sifat keras kepala Reyhan, hanya ini satu-satunya cara agar Reyhan berhenti mengganggunya, semoga saja.
__ADS_1
Reyhan terdiam memikirkan tawaran yang di berikan oleh Desy, tapi dia tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang di tawarkan Desy.
"Baiklah, aku akan menyetujui syarat darimu, asal jangan pernah bersikap galak lagi padaku!" sanggup Reyhan yang terlihat mantap mengatakannya.
"Baik," sahut Desy yang bersyukur jika Reyhan mau menerima tawarannya berarti dia akan terbebas dari gangguan Reyhan, meskipun dalam hati Desy tidak yakin jika Reyhan akan menyanggupinya, tapi Desy tetap harus mencoba.
"Katakan! syarat apa yang kamu berikan?" ujar Reyhan dengan ekspresi wajah penasaran bercampur khawatir yang terlihat jelas di wajahnya.
"Jika kamu mau jadi temanku maka jangan pernah ganggu aku lagi! bersikaplah seperti seorang teman! sama seperti yang lain," Desy mengatakan syarat yang di berikan oleh Desy.
"Mengganggu seperti apa maksudmu?" tanya Reyhan yang sama sekali tak mengerti dengan kata mengganggu yang di katakan Desy.
"Seperti saat ini, kamu sangat menggangguku." Jawab Desy tegas.
"Aku tak berniat mengganggu hanya ingin menyapa saja," Desy mencoba membela diri.
"Tapi aku merasa terganggu karena sikapmu ini," Desy masih bersikukuh mengatakan jika Reyhan mengganggunya.
"Aku hanya ingin menyapamu Desy, sungguh tak ada niat lain yang terselubung di dalamnya," tutur Reyhan dengan ekspresi wajah sendu penuh kesedihan.
"Baiklah, kamu boleh menyapaku, dan menjadi temanku tapi hanya sebatas itu tidak lebih! dan kamu harua selalu ingat jika aku sudah punya tunangan!" Desy memilih berbohong pada Huda jika dirinya sudah tunangan, semua dia lakukan hanya untuk mempersingkat waktu.
"Terima kasih, aku tidak masalah jika hanya menjadi teman, yang terpenting kamu tidak bersikap galak lagi padaku," seru Reyhan dengan senyum yang benar-benar lebar, terlihat jelas kebahagiaan di wajahnya.
"Oke, tapi sekarang apa kamu bisa minggir dulu? aku sudah telat karena dirimu," ujar Desy.
__ADS_1
"Silahkan Tuan Putri!" ucap Reyhan dengan senyum kebahagiaan yang terlihat jelas di wajahnya. Sedang Desy hanya memutar bola mata jengah melihat sikap Reyhan yang masih saja menggombal, sungguh bukan tipe laki-laki idaman Desy.