
Hari semakin petang cahaya keemasan yang tadi terlihat perlahan berubah gelap, menandakan malam akan segera tiba.
Samar-samar terdengar suara Adzan yang berlomba dengan deburan ombak. Meski masjid yang ada di perkampungan tepi pantai berada lumayan jauh dari Villa yang di tempati Arum dan Hasan, tapi suara Adzan masih terdengar meski samar.
"Lebih baik kita sholat berjamaah dulu," ucap Hasan setelah suara samar adzan tadi telah berhenti berkumandang.
Arum yang mendengar ajakan Hasan tak menjawab hanya bisa menganggukkan kepala seraya tersenyum ke arah Hasan.
"Irfan," panggil Hasan.
"Iya, Tuan," sahut Irfan berjalan mendekat ke arah Hasan, sejak tadi Irfan hanya bisa memperhatikan kedua sejoli yang duduk bersama terlihat jelas kecanggungan yang tergambar di wajah mereka.
"Kita sholat berjamaah, suruh semua orang bersiap-siap! kecuali para juru masak yang masih belum selesai suruh mereka bergantian." Titah Hasan.
"Baik, Tuan," jawab Irfan.
Hasan berjalan masuk ke dalam Villa,"Arum!" panggil Hasan.
"Iya, Kak," jawab Arum yang kini menghentikan langkahnya karena Hasan yang tiba-tiba berhenti.
"Kamu pergi ke kamar itu, mandi dan ambil wudhu' di sana. Ada banyak baju wanita fi lemari yang ada di kamar itu, ambillah mana yang kamu suka!" titah Hasan.
"Baik, Kak," jawaban Arum sama seperti jawaban yang di berikan oleh Irfan sang sekertaris.
Arum berjalan menuju kamar yang di tunjuk oleh Hasan sedang Hasan sendiri berjalan menuju kamar pribadinya yang ada di lanati dua.
"Masya Allah kamarnya indah banget," gumam Arum yang langsung menutup pintu dan berlari menuju jendela yang cukup besar yang ada di dalam kamar tersebut.
Terlihat jelas pemandangan di laut, lampu yang berkelap kelip dengan deburan ombak yang masih terlihat jelas, karena ada lampu yang tertancap tepat di pinggir pantai.
Arum yang mulai sadar jika Hasan pasti sedang menunggunya saat ini langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap menyusul untuk sholat berjamaah.
Hanya butuh waktu lima menit untuk Arum membersihkan diri, Arum memang termasuk orang yang simple jika dalam keadaan terburu-buru seperti sekarang. Mengingat waktu sholay Maghrib begitu singkat Arum meringkas waktu mandinya.
Dengan gerakan cepat Arum melangkah mendekat ke arah lemari dengan handuk yang masih melilit di badannya.
"Masya allah bajunya banyak banget," ucap arum yang tercengang melihat abaya yang berjejer rapi di dalam lemari lengkap dengan kerudung yang terselip di tengahnya.
"Ini baju siapa ya?" melihat abaya yang begitu banyak timbul tanya di benak Arum tentang pemilik baju yang saat ini tergantung rapi di dalam lemari.
Awalnya Arum berfikir jika Hasan hanya menyiapkan satu baju untuknya, tapi setelah melihat deretan baju yang tertata rapi di dalam lemari membuat fikiran Arum berkelana ke dunia anta berantah.
__ADS_1
'Apa mungkin ini semua baju Umik?' benak Arum mulai menerka.
'Tapi kenapa model bajunya seperti baju yang di miliki anak muda ya?' Arum kembali menerka-nerka.
Arum menebak tentang abaya yang berjejer rapi tergantung indah di dalam lemari, hingga suara ketukan di pintu membuat lamunannya buyar.
"Nona Arum!" panggil salah seorang pelayan wanita.
"Iya, sebentar," sahut Arum yang langsung menyambar satu abaya tanpa memilih, karena merasa ada yang manggil dengan buru-buru Arum memakai baju yang tadi telah di ambilnya.
Arum mengambil satu abaya berbahan jeans model anak muda zaman sekarang, dengan kedua tali yang berada di pundak kanan dan kiri yang di padukan dengan kaos pressbody berwarna merah muda.
Ceklek ....
Arum membuka pintu kamar tampaklah seorang wanita paruh baya yang tadi menyambutnya sedang berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengembang.
"Ada apa ya Bik?" tanya Arum pada sang asisten rumah tangga.
"Nona di tunggu Tuan di mushollah." Ucap sang asisten rumah tangga.
"Bik, saya gak tahu mushollahnya di mana, apa Bibik bisa mengantar saya ke sana?" tanya Arum.
"Bibik tunggu!" Arum memegang tangan Bibik yang ada di depannya yang membuat sang empu langsung diam.
"Ada apa ya Non?" tanya Bibik.
"Bik, apa Bibik bisa ngajarin saya memakai kerudung ini dengan benar?" tanya Arum.
Saat ini Arum memakai kerudung syarifah panjang, karena terburu-buru tadi Arum hanya memakainya asal. Saat itu Arum berfikir yang penting kerudungnya sudah bertengger di kepalanya.
"Nanti setelah sholat akan Bibik ajarkan Non," jawab Bibik dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih Bik, sudah mau ngajarin saya." Ucap Arum.
"Terima kasihnya nanti saja Non, lagi pula saya belum mengajari Nona. Lebih baik sekarang segera menyusul Tuan di mushollah." Bibik mengingatkan tujuan awal dia menjemput Arum.
"Oh iya, ayo Bik!" dengan penuh semangat juga senyum yang mengembang Arum menggandeng tangan Bibin untuk berjalan lebih cepat menuju mushollah.
Setelah sampai di depan mushollah, terlihat Hasan dan beberapa asisten rumah tangga juga Irfan dan sopir yang mengantar mereka tadi terlihat sudah siap dan menunggu Arum.
"Assalamualaikum," sapa Arum membuat semua orang yang sejak tadi duduk menghadap ke kiblat langsung menoleh ke arah Arum.
__ADS_1
"Waalaikum salam," sahut mereka serempak.
Tersungging senyum samar di bibir Hasan saat melihat penampilan Arum yang terlihat begitu berbeda, tapi senyum itu langsung luntur saat Hasan mulai sadar jika ada laki-laki lain yang ada di sana. Meski laki-laki itu hanya seorang supir dan asisten pribadinya tetap saja Hasan tak rela jika penampilan Arum saat ini di lihat oleh mereka.
'Seandainya sekarangkau sudah jadi istriku, tak akan ku biarkan kamu keluar kamar dengan penampilan seperti itu saat ada laki-laki lain di dalam Villa ini;,' batin Hasan.
Arum memang sedang memakai abaya yang lumayan press di badannya, dengan kerudung pasmina yang hanya di selempangkan asal membuat leher putih Arum terlihat karena tak memakai jarum pentul untuk menutupinya.
Arum benar-benar terlihat cantik alami padahal saat ini dia baru saja mandi belum memakai riasan apapun, bibirnya yang memang sudah merah asli tanpa lipstik berpadu dengan wajah yang putih, hidung yang mancung membuatnua terlihat begitu cantik alami bak bidadari yang baru turun dari langit.
"Khem," dehem Irfan mencoba menyadarkan bosnya yang sedang terpaku menatap gadis cantik yang baru saja datang.
"Astaghfirullah," lirih Hasan mengusap dadanya pelan.
"Tuan, mari kita mulai sholatnya!"ajak Irfan yang melihat bosnya sudah sadar dari lamunannya.
Arum berjalan mendekat meraih mukenah yang di sodorkan oleh Bibik yang lain, menempati shof kedua tepat di belakang kedua pria yang ikut berjamaah di sana.
-
-
-
-
-
-
-
Kakak2 pembaca yang paling lope-lope, author kok tiba-tiba pengen buat cerita tentang Arif dan Imah yachπ€π€π€π€
seandainya kalau author nulis cerita mereka di cssdp season satu bareng cerita Ilzham dan Uqi kira2 kalian setuju gak?
kalau setuju langsung komen ya....
ku tunggu masukan dari kalian.
ππππππππ
__ADS_1