
"Abi!" panggil Arum, tapi tak ada sahutan sedikitpun dari dalam kamar membuat Arum bingung dan mulai mencari keberadaan Hasan yang tadi duduk di teras rumah.
Arum terus mencari keberadaan Hasan di setiap sudut kamar, tapi tak ada seorang pun di sana kecuali kamar mandi. Arum sejenak duduk di kursi sambil berfikir apakah dia harus masuk ke kamar mandi untuk mencari Hasan atau keluar dan mencari Hasan di tempat yang lain.
Arum terus saja diam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga suara gemericik air memecahkan masalah yang sejak tadi bersemayam di benaknya.
"Suara air," lirih Arum sembari berjalan mendekat ke depan pintu dan menempelkan telinganya ke daun pintu.
"Itu artinya Abi sedang mandi, huft untunglah," sambung Arum yang masih setia menempelkan telinga di daun pintu.
Cukup lama Arum menempelkan telinganya ke daun telinga tanpa merubah posisinya, hingga Hasan yang sudah selesai mandi keluar membuat Arum yang sejak tadi menempelkan telinga di daun pintu langsung jatuh kedalam pelukan Hasan.
Keduanya kembali terdiam saling menatap satu sama lain, kejadian tadi pagi terulang kembali membuat Hasan merasa begitu senang baru hari pertama tapi dia memiliki banyak kesempatan untuk mendekati Arum sang istri tercinta.
"Syei' enak ya di peluk sama Abi?" celetuk Hasan dengan senyum menggodanya.
Mendengar ucapan Hasan membuat Arum langsung tersadar jika saat ini dia sedang berada di pelukan Hasan.
"Maaf," ujar Arum.
"Loh, kok minta maaf? Abi seneng kali kalau kamu peluk-peluk gitu, peluk lagi juga boleh, sini peluk Abi!" Hasan yang begitu senang menggoda Arum merentangkan kedua tangannya memberi kode agar Arum memeluknya lagi.
"Ishhh siapa juga yang peluk-peluk? tadi kan gak sengaja peluk Abi," gerutu Arum.
"Sengaja juga gak apa-apa, peluk suami sendiri pahalanya gedhe loh Syei',"seru Hasan seraya menaik turunkan alisnya.
Arum yang tadi telah mendapat begitu banyak wejangan tak lagi mendebat ataupun membantah Hasan, karena dia tahu jika saat ini dia adalah istri Hasan yang artinya Hasan berhak atas dirinya dan dia tak bisa membantah apa yang Hasan ingin juga perintahkan kecuali jika sesuatu itu terlarang.
"Abi mau ngapai?" spontan Arum yang melihat Hasan berjalan ke lemari sambil membuka setengah jubah mandinya.
__ADS_1
"Mau ganti baju, kenapa? kamu mau ambilin baju gantiku?" sahut Hasan sambil menutup kembali jubah mandi yang sudah ada di perutnya.
"Iya, Aku akan siapin baju gantinya. Tapi tutup dulu jubah mandinya!" Seru Arum sembari menutup kedua matanya dengan kedua tangan.
"Kenapa harus di tutup? bukankah wajar kalau suami ganti baju di depan istrinya?" cicit Hasan, bukannya menutup kembali jubah mandinya Hasan justru berjalan mendekat ke arah Arum.
Entah mengapa menggoda Arum membuat hatinya begitu bahagia, Hasan merasa memiliki sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum senang dan hasrat untuk memiliki seutuhnya dalam waktu bersamaan.
"Syei', jangan di tutup matanya! lihat Aku!" titah Hasan yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Arum dengan jarak yang cukup dekat.
"Tutup dulu jubah mandinya! baru Aku buka mata." Sahut Arum.
"Sudah Aku tutup. Sekarang buka dan lihat Aku!" Hasan yang sebenarnya sudah tak tahan untuk memeluk dan mencium sang istri karena gemas akhirnya memegang pundak Arum.
"Syei'," Hasan mengulangi panggilannya, membuat Arum terpaksa membuka mata perlahan.
Sejenak Arum terpaku menatap tubuh sixpack sang suami, Hasan memang menutup jubah mandinya tapi dia tak memasang tali untuk menutupi bagian perutnya dan Hasan ternyata memakai boxer.
'Masya Allah perutnya bagus banget, ingin rasanya Aku menyentuhnya.' batin Arum.
Arum juga manusia yang bisa tergoda saat melihat keindahan yang ada di depan matanya, pelan tapi pasti tangan Arum terangkat mendekat ke arah perut Hasan yang terlihat begitu sempurna.
Apa yang di lakukan oleh Arum membuat senyum Hasan merekah, ternyata usaha dia berolahraga selama beberapa bulan ini untuk membuat istrinya kagum berhasil, senyum Hasan semakin merekah ketika tangan Arum sudah mendarat indah di perutnya, tapi ada hal lain yang membuat Hasan harus segera menyadarkan Arum.
Di sentuh Arum yang notabennya istri yang dia cintai membuat sesuatu dalam diri Hasan bangkit, sentuhan Arum memberikan sensasai yang luar biasa membuat Hasan merasa seperti tersetrum oleh aliran listrik bertegangan tinggi.
"Syei' jangan bangunkan singa lapar yang sedang tidur!" akhirnya Hasan menyerah, dia tidak bisa terus membiarkan Arum menyentuh perutnya, karena singa lapar yang tadinya sedang tertidur pulas kini mulai terusik.
"Eh singa, maksudnya apa Bi?" sahut Arum tanpa menjauhkan tangannya yang masih menyentuh bagian perut Hasan.
__ADS_1
"Iya, singa lapar yang siap menerkammu!" jawb Hasan seraya menatap tangan Aeum yang menempel di perutnya membuat Arum baru sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Maaf, tadi Aku ke sini mau nyuruh Abi turun untuk sarapan bareng. Aku pergi dulu." Entah apa yang di fikirkan Hasan Arum tak tahu, yang dia tahu saat ini dirinya merasa malu dan tak ingin terus berada di hadapan Hasan, pipinya begitu merah merona mengingat apa yang telah dia lakukan. Arum bersandar di balik pintu sambil memegang jantungnya yang berdetak begitu kencang saat mengingat apa yang dia lakukan barusan.
"Kamu lagi ngapain di situ Dek?" tanya Steve yang baru saja keluar dari kamar dan melihat tingkah aneh sang Adik.
"Eh, Kak Steve," sahut Arum.
"Kakak nanya, kamu ngapain di situ?" Steve yang tak mendapat jawaban kembali bertanya.
"Aku gak ngapa-ngapain, emangnya Kakak lihat Aku lagi ngapain?" Arum yang tak ingin kakaknya tahu jika dia sedang salah tingkah ikut melempar pertanyaan.
"Dasar aneh, di tanya malah nanya balik," lirih Steve seraya berjalan meninggalkan Arum yang masih menetralkan detak jantungnya.
"Huft, selamat," ucap Arum setelah melihat Steve melenggang pergi meninggalkannya.
"Selamat? kamu kenapa? kok bilang selamat?" suara Hasan kembali mengejutkan Arum.
"Astaghfirullah," spontan Arum saat mendengar suara Hasan yang tepat berada di sampingnya.
"Kenapa?" Hasan kembali bertanya.
"Ishh Abi ngagetin aja," protes Arum yang merasa terkejut dengan kehadiran Hasan yang tiba-tiba.
"Kamu habis ngapain? kok sampek kaget lihat Aku," tanya Hasan.
"Habis olahraga jantung gara-gara lihat roti sobek pagi-pagi,"jawab Arum sambil melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih bingung dengan jawaban Arum.
"Olahraga jantung bagaimana maksudmu Syei'?" Hasan ikut berjalan mengejar Arum yang semakin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Au ah gelap," jawab Arum tak menjawab pertanyaan Hasan malah terus berjalan menuju dapur.