
Bulan madu kali ini terasa begitu indah dan lengkap, Arum menatap indahnya langit jogja di tepi pantai, butuh waktu empat puluh delapan menit untuk sampai di pantai parangtritis, pantai penuh keindahan dengan dua bukit yang mengapitnya.
Sejak subuh setelah sholat subuh Arum dan hasan sudah siap begitu pula dengan Zahra dan Husein yang juga sudah siap berangkat ke pantai untuk menikmati indahnya matahari terbit di sana.
"Abi, apa kamu sudah menghubungi Husein dan bertanya mereka sudah siap atau belum?" tanya Arum setelah merapikan kerudung dan meraih tas selempang yang akan dia pakai, kini dia sudah siap untuk pergi.
"Justru mereka sudah menunggu kita di bawah bersama yang lain." Jawaban hasan cukup membuat Arum terkejut karena dia menyangka jika dirinyalah yang lebih dulu siap, tapi ternyata sang Adik Ipar sudah siap sejak tadi.
Tanpa banyak bertanya lagi Arum langsung beranjak pergi mengikuti langkah Hasan untuk menemui Zahra dan Husein.
"Tumben kamu lelet Kak?" celetuk Husein yang duduk di kok bagian belakang.
"Aku sudah punya ratu Husein, jika kau lupa itu," jawab Hasan seolah menegaskan jika saat ini Hasan sudah punya istri yang harus dia tunggu jika ingin pergi bersama, sejak dulu Hasan memang selalu jadi yang pertama selesai saat akan bepergian, dia orang yang paling simpel dan tak pernah ribet jika mau bepergian, tapi saat ini dia sudah punya istri yang cukup ribet saat ingin pergi dan Hasan selalu sabar menunggu Arum bersiap tanpa mengeluh.
"Bukan kami yang lelet Husein, tapi kamu yang terlalu bersemangat," sahut Arum saat mendengar percakapan kedua kakak beradik di samping dan belakangnya itu mengisyaratkan jika Hasan menjadi lelet karenanya.
Husein yang tak ingin suasana bahagia penuh semangat pagi ini berubah menjadi perdebatan sengit yang pasti akan terjadi jika Husein membalas ucapan Arum. Sedang Hasan yang sudah mengerti dengan sifat istri dan Adiknya itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Empat pulub delapan menit perjalanan menuju pantai parangtritis terlewati dengan suasana penuh keheningan, tak ada satu kata yang terucap dari para penumpang maupun sopir yang ada di dalam mobil, semuanya terdiam.
Husein sedang sibuk tidur di paha sang istri yang dia gunakan untuk tidur, sedangkan Zahra sibuk menikmati indahnya pemandangan meski langit masih gelap tapi Zahra menganggap perjalanan kali ini di penuhi keindahan dengan tangan yang berada di kepala Husein sesekali mengusap lembut di sana, Hasan dan yang lain memang menggunakan mobil fortuner dan Husein duduk di jok paling belakang yang cukup luas hingga dia bisa sedikit merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Arum dan Hasan juga melakukan hal yang sama, Arum bersandar di dada bidang Hasan sejenak mengistirahatkan badan setelah semalam kembali bertempur, dan Hasan sibuk mengecek satu persatu email yang masuk di dalam ponselnya dengan satu tangan sedang tangan yang lain sibuk mengusap lembut lengan Arum.
__ADS_1
Begitu juga dengan Ifan yang sibuk memangku laptop mengurus semua pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Husein, tapi Ufan tak pernah mengeluh ataupun menyesal menjadi asisten pribadi Husein karena bosnya itu sangat pengertian, saat seperti ini gaji Ifan naik dua kali lipat plus jalan-jalan dan makan gratis yang Husein berikan sudah cukup menggantikan kerja kerasnya membantu sang bos menyukseskan bulan madunya.
"Masya Allah indah sekali," spontan Zahra membuat Husein terbangun.
"Syei', bangunlah kita sudah sampai," tutur lembut Hasan seraya mengusap pelan pipi Arum setelah memasukkan ponsel yang sejak tadi menemani perjalanannya ke dalam kantong celana.
"Mmmm," Arum menggeliat merasakan ototnya yang terasa kaku karena posisi tidur yang tak benar, begitu juga dengan Hasan mengibaskan tangan yang terasa sedikit kram karena telah menjadi sandaran bagi sang istri.
"Sakit ya Bi? maaf," lirih Arum sambil memijat pelan lengan sang suami.
"Kak, mesra-mesraannya nanti aja, sekarang Kakak lebih baik turun! aku gak bisa keluar kalau Kakak tetap di situ," celetuk Husein sambil menatap jengah dua sejoli yang di mabuk cinta di hadapannya itu.
"Sabar dikit kenapa sih, Dek," sahut Arum membuka pintu dan segera keluar dari dalam mobil.
"Kalian ini mirip tikus dan kucing aja, debat mulu dari tadi," Hasan yang sudah tak tahan akhirnya mengatakan apa yang dia rasakan sedang yang bersangkutan malah cuek bebek tak peduli.
"Kita mau makam dulu atau nikmati pemandangan?" tanya Arum mengalihkan topik pembicaraan.
"Menurut kalian enaknya gimana?" Hasan meminta pendapat Zahra dan Husein.
"Bukannya di mobil masih banyak camilan dan minuman ya Kak? bagaimana kalau kita nikmati pemandangan sambil menghabiskan stok makanan dan minuman yang ada?" usul Husein.
"Ide bagus, aku setuju, yang lain bagaimana?" Hasan menanyakan hal yang sama pada Zahra dan Arum.
__ADS_1
"Aku ikut saja," jawab Zahra.
"Kamu Syei', bagaimana setuju atau tidak?" kini Hasan bertanya pada sang istri.
"Tiga lawan satu, aku jelas ikutlah Bi," jawab Arum beranjak masuk ke dalam mobil mengambil satu kantong penuh makanan ringan yang sengaja dia sediakan sebelum berangkat ke Jogja waktu itu.
"Ayo jalan!" ajak Arum menggandeng lengan Hasan sang suami berjalan mendekat ke arah pantai.
"Eh tunggu!" baru beberapa langkah Arum berhenti dan berbalik setelah menyerahkan kantong makanan yang dia bawa pada Hasan.
"Ada apa Syei'?" tanya Hasan bingung melihat sang istri justru berjalan kembali menuju mobil.
"Aku lupa memberi pesan Pak Marto dan Ifan kalau makanan mereka masih di mobil." Jawab Arum sambil terus berjalan meninggalkan Hasan dan yang lain kembali ke dalam mobil di mana Pak Marto masih santai menikmati rokoknya sambil bersandar di pintu mobil sedang Ifan masih serius menatap laptop yang ada di pangkuannya.
"Fan!" panggil Arum.
"Iya, Neng, ada apa? apa ada yang ketinggalan?" sahut Ifan yang langsung keluar dari mobil setelah mendengar suara Arum.
"Enggak cuma lupa mau ngasih tahu kamu sama Pak Marto, di belakang kursi Pak Marto ada camilan dan minuman dalam kantong plastik berwarna Putih, kamu dan Pak Marto bisa memakannya karena itu jatah milik kalian, dan satu lagi, jangan kerja terus! setidaknya nikmati liburanmu," Jawab Arum dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, Neng," ucap Ifan.
"Neng, terima kasih ya," Pak Marto yang sejak tadi hanya jadi pendengar juga ikut berterima kasih.
__ADS_1
Arum memang selalu perhatian pada semua orang, dan hal itulah yang membuat dia sangat di sayangi juga di segani.