
Kini semua anggota sudah siap untuk berangkat menuju rumah Arum, semua barang juga sudah tersusun rapi di dalam mobil tinggal menunggu sang supir yang belum juga muncul dari dalam rumah.
"Astaghfirullah, Stev ini benar-benar menguji kesabaran," gerutu Bunda Fia saat menunggu Stev yang saat ini mendapat tugas menyetir tak kunjung keluar dari dalam Rumah.
"Sabar, Bunda," sahut Rifki.
"Ini sudah jam berapa Ayah? tapi Stev tak kunjung keluar, katanya cuma ambil jaket tapi kok lama banget." Bunda Fia yang sudah tak sabar ingin segera berangkat untuk bertemu dengan Arum dan melihat keadaannya kembali menggerutu karena Stev sang putera tak juga keluar dari dalam rumah.
"Sabar, Nak!" kali ini Oma yang berbicara sembari mengusap pelan lengan Bunda Fia yang terbungkus baju.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Stev keluar dari rumah dengan penampilan yang terlihat rapi dan tampan.
"Kamu ambil jaket apa mandi sih? lama banget," Bunda Fia kembali menggerutu saat melihat Stev masuk ke dalam mobil.
Tak ada jawaban yang terdengar dari Stev yang begitu hafal dengan sifat sang Bunda yang bawel, dia hanya diam sambil tersenyum lembut ke arah sang Bunda yang justru mengabaikan senyuman Stev. Apa yang terjadi hari ini sudah biasa terjadi saat keluarga Bunda Fia akan bepergian.
"Arum!" panggil Bunda Fia dengan hebohnya berjalan cepat mendekat ke arah Arum yang sedang berdiri di depan pintu rumah Umik, saat ini Arum sedang mencari Hasan yang sejak subuh tadi tak terlihat, meski sebenarnya Arum masih bingung kenapa dirinya begitu rindu di sertai bingung saat tak melihat sang suami dalam beberpa jam saja, tapi Arum tetap mengikuti perasaan dan nalurinya.
"Bunda," lirih Arum sambil terbengong kaget melihat Bunda Fia yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Bunda kangen kamu, Arum," ucap Bunda Fia sambil memeluk erat tubuh Arum yanh masih diam mematung dengan tatapan tak percaya jika sang Bunda sudah ada di depannya, pasalnya Bunda Fia hanya mengatakan akan datang saat syukuran tiga bulanan calon bayinya. Tapi tak mengatakan kapan pastinya dia akan datang.
"Bunda kapan datang?" tanya Arum yang baru saja bisa mengendalikan rasa kaget yang dia rasakan.
"Bunda kemarin sampai di rumah Oma," jawab Bunda Fis.
"Kenapa tidak memberi kabar pada Arum, Bun?" tanya Arum heran, karena biasanya Bunda Fia akan mengabari Arum ketika akan datang.
__ADS_1
"Kemarin Bunda langsung istirahat, jadi tidak sempat untuk mengabarimu," jawab Bunda Fia.
"Apa Kak Stev juga ikut, Bunda?" Arum yang tak melihat keberadaan Sang Kakak langsung menanyakan keberadaannya.
"Semua ikut, tapi lagi bongkar-bongkar barang untukmu, di jok belakang mobil." Jelas Bunda Fia.
"Kak Stev! Oma!" Arum terlihat begitu senang saat melihat Stev dan Oma berjalan beriringan dengan membawa beberapa barang yanf ada di tangan mereka.
"Bagaimana keadaanmu, Dek?" tanya Stev setelah sampai di dekat Arum.
"Alhamdulillah aku baik Kak," jawab Arum.
"Oma! lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Arum beralih menanyakan kabar Oma yang kini tersenyum lembut mendekat dan mengulurkan tangan ke arh Arum dan Arum menyambutnya dengan senyum san mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah, Oma baik," Oma menjawab pertanyaan Arum di sertai senyuman yang merekah di bibirnya.
"Bunda, jauh lebih kangen darimu, Nak," jawab Bunda mencium kening sang putri meluapkan semua rasa rindu yang sudah berbulan-bulan dia tahan.
"Putriku!" suara tegas Rifki sebagai Ayah terdengar di telinga Arum, membuat sang empu reflek melepas pelukan dan beralih menatap sang Ayah yang berdiri tegak di belakang sang Bunda.
"Ayah!" lirih Arum, dengan senyum yang merekah dan mata berbinar dia berjalan mendekat kemudian memeluk sang Ayah.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Rifki dengan suara lembut yang terdengar begitu indah di telinga Arum.
"Aku baik, Ayah," jawab Arum.
"Ayo masuk! kita bertemu Umik dan Abi dulu." ajak Arum yang kini berganti merangkul lengan sang Bunda yang ada di sebelah kiri dan merangkul lengan Oma di sebelah kanan.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Umik!" Arum memanggil dengan nada pelan setelah semua anggota keluarganya duduk di dalam ruang tamu rumah Umik.
"Iya, ada apa, Nak?" sahut Umik sambil mengupas bahan makanan yang akan di masak dan di suguhkan nanti.
"Di ruang tamu ada Bunda dan Ayah," jawab Arum.
"Fia, astaghfirullah, Umik sampai lupa memberi mereka kabar kalau kamu sedang mengandung, maaf ya, Nak," spontan Umik yang baru ingat jika bukan hanya dirinya yang akan menjadi seorang Nenek, tapi juga sang sahabat yang sekarang berstatus besan.
Arum dan Umik berjalan menuju ruang tamu untuk menemui keluarga Arum.
"Umik!" kini suara Ilzham terdengar memanggil Umik saat berjalan melewati kamarnya. Sungguh Abi Ilzham selalu datang di waktu yang tepat baginya dan di waktu yang salah bagi Arum dan Umik.
"Iya, Abi," sahut Umik menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arah sang suami yang berdiri tegak di belakangnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Abi Ilzham.
"Aku mau menemui keluarga Arum. Mereka sudah ada di ruang tamu, Bi." Jawab Umik apa adanya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" sarkas Abi Ilzham dengan ekspresi kurang sukanya, bukan maksud Abi Ilzham membenci keluarga Arum, hanya saja dia kurang menyukai kehadiran Rifki yang dulu pernah singgah dan bahkan mengejar Umik Uqi meski dia tahu jika Umik sudah menikah dengan orang lain.
"Aku fikir Abi ada di luar rumah, jika aku tahu Abi ada di kamar, aku pasti akan memanggil dan memberitahumu Bi." Jawab Umik melepas pegangan tangan Arum di lengannya.
"Nak, kamu pergi dulu ya! sebentar lagi Umik nyusul." Titah Umik kemudian berjalan mendekat ke arah Abi Ilzham.
"Sayang, jangan tunjukkan ekspresi wajah tidak baik seperti itu di hadapan menantu kita! bukankah kamu tahu dengan pasti jika Arum dan anak kita tidak tahu tentang masa lalu orang tua mereka, jadi Umik minta tolong kendalikan dirimu." Pinta Umik sembari mengusap lembut lengan Abi Ilzham sembari merangkulnya.
Abi Ilzham yang mendengar nasehat dari sang istri hanya bisa menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskannya perlahan mencoba menetralkan rasa cemburu yang tak pernah bisa dia hilangkan, bukankah cemburu itu karena cinta? dan Abi Ilzham tak pernah sedikitpun bisa mengontrol perasaan itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berusaha keras menekan rasa cemburuku. Tapi apa imbalan untukku? hm?" Abi Ilzham mencoba mencari keuntungan di waktu yang tepat.