
Zein yang memang begitu menyayangi sang Adik tak bisa mengabaikan apa yang Adiknya itu minta, sejak kecil dia sudah terbiasa menjaga dan menuruti apa yang di minta oleh Zahra sang Adik, meski dengan perasaan ragu Zein tetap pergi menuju rumah Zahra untuk menjemput sekaligus meminta penjelasan padanya apa yang sebenarnya terjadi.
Mobil Zein melaju dengan kecepatan rata-rata menuju rumah Zahra yang sedari tadi sudah menunghunya. Mobil Zein terlihat sudah sampai di depan halaman rumah Zahra. Dengan langkah cepat Zahra yang sejak tadi sudah menunggunya di teras langsung berjalan cepat menghampiri Zein sebelum dia turun dari mobil.
"Loh kok langsung masuk?" protes Zein saat sang Adik sudah masuk ke dalam mobil tanpa permisi.
"Sudah jalan aja dulu Kak!" titah Arum tak terbantahkan.
Meski Zein masih merasa bingung dia tetap melajukan mobilnya menuju pantai di mana sang Adik minta.
"Kenapa kamu gak minta anterin Husei, Dek?" tanya Zein yang masih merasa belum tenang meski mobil sudah melaju cukup jauh meninggalkan rumah Zahra.
"Dia sibuk, Kak, sejak kemarin aku ajak jawabannya selalu sama, nunggu weekend, isshh sebel aku," jawab Zahra, mengeluarkan keluh kesah yang dia rasakan.
"Dek, Husein itu pasti punya alasan kenapa dia tak bisa mengantarmu, harusnya kamu lebih pengertian, dia sibuk juga buat kamu," tutur Zein, meski dia terkenal playboy dan rada sengklek, tapi Zein masih bisa bersikap bijaksana jika mengenai masalah sang Adik.
Mendengar penuturan Zein sukses membuat Zahra terdiam tanpa kata, dia merasa jika apa yanh di katakan sang Kakak memang benar adanya, tapi entah mengapa Zahra tetap tak bisa mengendalikan emosinya yang meledak-meledak dan keinginan yang tak bisa dia tahan.
"Aku tahu itu, tapi aku juga gak bisa menahan diri untuk terus diam dan menunggu, Kak, aku aja bingung sama diri aku sendiri," Zahra mengatakan apa yang dia rasakan.
"Jika seperti itu harusnya kamu bicarakan dulu pada Husein sebelum melakukan sesuatu, kamu pergi sekarang sudah izin atau belum sama Husein?" tanya Zein.
"Belum, Kak," jawab Zahra sambil nyengir kuda.
"Astaghfirullah, kamu ini bagaimana sih, Dek? harusnya kamu bilang dulu sama Husein, kamu itu udah nikah kalau mau keluar atau melakukan apa-apa izin dulu sama suamimu." Tutur Zein dengan nada tegas yang terdengar begitu jelas di telinga Zahra.
"Maaf, Kak, aku salah," lirih Zahra.
__ADS_1
"Maaf itu harusnya kamu katakan pada Husein bukan padaku," ujar Zein sedikit emosi dengan sikap sang Adik yang terkesan seenaknya sendiri.
"Iya, Kak, nanti aku minta maaf," ucap Zahra santai.
"Kok nanti sih, Dek?" protes Zein.
"Ya nanti lah, Kak, kalau gak nanti terus kapan?" sahut Zahra.
"Sekarang!" tegas Zein, dia merasa jika sesekali dirinya harus tegas pada Zahra agar dia tak mengulangi kesalahan yang sama, apalagi saat ini dia melakukan kesalahan bersama dirinya, Husein pasti akan berfikir buruk tentang dirinya yang tak bisa mengajari Adik dengan benar.
"Iya, iya, aku minta maaf sekarang," menyerah sudah, Zahra tidak akan bisa menang jika sang Kakak sudah berlaku tegas seperti sekarang, selain itu Zahra juga sadar jika apa yang di katakan Zein memang benar dan Zahra juga sadar jika apa yang di lakukannya saat ini memang salah.
"Jangan lupa izin dan beritahu pisisimu sekarang dan ke mana kamu mau pergi!" Zein kembali memberi perintah.
"Iya, Kak," sahut Zahra sambil mengeluarkan ponsel yang sempat dia masukkan ke dalam dompet yang tadi dia bawa.
"Kenapa kamu simpan lagi ponselnya?" tanya Zein menatap heran ke arah Zahra yang terlihat menyimpan ponselnya ke dalam dompet.
"Aku udah izin sama Mas Husein, Kak," jawab Zahra santai.
"Kapan?" Zein kembali bertanya, pasalnya dia tak melihat Zahra menelfon ataupun menghubungi Husein.
"Barusan, aku udah chat Kak," jawab Zahra.
"Whatt? chat? kamu kira dia siapa? gak sopan banget, telfon Husein sekarang Zahra!" Zein kembali memerintah Zahra dengan nada tegas karena sang adik masih saja tak mengerti.
"Kenapa sih, Kak? bukankah chat saja sudah cukup?" elak Zahra.
__ADS_1
"Telfon sekarang, atau kita batalin aja ke pantai?" ancam Zein.
Zahra yang mendapat banyak perintah dan pertanyaan juga ceramah dari sang Kakak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di rumah setelab kepergiannya.
Husein terus saja fokus menatap layar yang menyala di laptopnya, mengerjakan beberapa pekerjaan yang tak bisa dia tunda, Husein begitu fokus sampai tak memperdulikan Zahra yang masuk dan keluar dari kamar.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, aku bisa mengajak Zahra pergi ke pantai setelah ini, sekalian saja aku ajak dia ke hotel dekat pantai, dan aku bisa melewati malam panjang dengan suasana romantis pinggir pantai," lirih Husein sambil merenggangkan otot-otot yang terasa begitu kaku.
Husein berdiri mencoba mencari keberadaan sang istri yang belumjuga kembali setelah tadi sempat dia lihat keluar masuk kamar.
"Dek, kamu ada di mana?" panggil Husein seraya berjalan mencari keberadaan sang istri yang tak terlihat. Husein terus melangkah mencari keberadaan sang istri menuruni tangga mencarinya ke setiap ruangan. Tapi Husein tetap saja tak menemukan keberadaan Zahra.
"Zahra!" Husein kembali memanggil sang istri dengan nada suara lebih tinggi, tapi tetap saja tak ada sahutan, rumah masih terlihat sepi tak berpenghuni, rasa panikdan khawatir mulai menyelimuti Husein, fikirannya mulai berkelana memikurkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada istrinya itu.
"Bik Sumik!" panggil Husein saat melihat Bik Sumik sedang menjemur cucian baju di halaman belakang rumah.
"Iya, Tuan, ada yang bisa Bibik bantu?" sahut Bik Sumik sambil menghentikan kegiatannya menjemur baju kemudian berjalan menghampiri Husein yangmasih berdiri di depan pintu.
"Apa kamu melihat istriku?" tanya Husein dengan ekspresi wajah bingung bercampur khawatir.
"Maaf, Tuan, bukankah tadi Neng Zahra ada di kamar bersama Tuan," jawab Bik Sumik yang sejak tadi tak tahu apapun, karena dia berada di halaman belakang untuk mencuci dan menyetrika baju yang menumpuk di hadapannya.
"Apa kamu tidak lihat dia keluar?" Husein kembali bertanya.
"Tidak, Tuan, sejak tadi saya ada di sini mencuci dan menyetrika baju," jawab Bik Sumik yang sukses membuat Husein semakin panik dan bingung.
"Baiklah, lanjutkan saja kerjanya!" ujar Husein kemudian melangkah pergi meninggalkan Bik Sumik yang kini melanjutkan pekerjaannya lagi.
__ADS_1
'Kemana dia?' batin Husein sambil mencari keberadaan Zahra di setiap sudut ruangan yang ada di sana. Tapi Zahra tetap tak bisa dia temukan, rasa panik dan khawatir semakin memperburuk keadaan membuat Husein kelimpungan karena tak menemukan Zahra.