
Desy berjalan mendekat ke arah Huda dan keluarga yang lain, di mana mereka telah siap menyantap makanan yang ada, Desy masih saja terdiam, dia hanya tersenyum sekilas menanggapi senyum Huda yang sengaja di tujukan padanya.
"Maaf Nak Huda, menunya sangat sederhana," ujar Ibu Desy.
"Tidak apa-apa Bu, aku bukan tipe pemilih soal makanan," jawab Huda.
"Ayo silahkan di makan, seadanya saja!" Ayah Desy mempersilahkan Huda dan yang lain untuk memulai menyantap hidangan yang ada.
Desy memang sudah terbiasa makan bersama Huda di pesantren, tapi saat makan bersama Huda dan keluarganya yang lain terasa begitu berbeda.
"Semua ini menu favorite Desy," ujar Ibu Desy di sela-sela acara makannya.
"Wah benarkah Bu," sahut Huda.
"Iya, Nak Huda, Desy bisa makan berkali-kali jika Ibu memasak menu ini," Ibu Desy kembali bercerita.
"Sepertinya aku juga akan menyukai menu ini nanti," ucap Huda sedang Desy yang menjadi topik pembicaraan hanya bisa diam tanpa kata, dia lebih memilih menghabiskan apa yang telah dia ambil di atas piring dari pada menimpali obrolan yang terjadi.
Sarapan pagi dengan menu nasi jagung dan urap-urap daun singkong lengkap dengan ikan asin akhirnya selesai juga. Kini Desy dan Huda duduk di teras rumah setelah sang Ayah dan adiknya Desy berpamitan untuk pergi ke sawah dan sekolah.
"Mas Huda tumben pagi-pagi sudah ada di sini," ucapan pertama Desy terdengar di telinga Huda, dia tersenyum manis ke arah Desy setelah mendengar pertanyaannya.
"Sebenarnya, aku datang untuk mengajakmu menemui desainer yang mengurus baju pernikahan kita, dan aku sudah meminta izin pada Ayah dan Ibu," Huda menjelaskan tujuannya datang pagi-pagi.
__ADS_1
"Baju pernikahan, memangnya acara pernikahannya kapan akan di laksanakan?" tanya Desy bingung, pasalnya dia sama sekali tidak tahi rencana pernikahan yang di ucapkan oleh Huda, bahkan dia baru tahu jika sudah bertunangan kemarin.
"Sesuai rencana, aku akan menghalalkanmu minggu depan," jawab Huda.
"Apa? minggu depan? apa ini tidak terlalu cepat? aku saja baru tahu kemarin jika kita sudah bertunangan, dan aku masih punya beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum menikah," jujur Desy, dia benar-benar merasa terkejut sekaligus bingung mau bersikap seperti apa, antara senang dan sedih, perasaan Desy saat ini campur aduk.
"Aku sudah menunggu satu minggu itu selama satu tahun Desy, dan aku sudah menyiapkannya satu sejak setahun yang lalu, saat ini aku hanya tinggal menunggu seminggu untuk mewujudkan pernikahan yang sudah di rencanakan, apa kamu tidak senang dwngan pernikahan ini?" Huda menjelaskan semua yang terjadi dan apa yang dia rasakan.
"Bukan karena aku tidak senang Mas, tapi aku masih ingin melakukan sesuatu agar bisa membantu keluargaku," ungkap Desy.
"Kamu tenang saja Desy, Nak Huda sudah membantu keluarga kita sejak satu tahun yang lalu, bahkan dia juga membantu ekonomi keluarga kita," suara Ibu yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan satu piring singkong goreng di tangannya menyahuti ucapan Desy yang beliau dengar.
"Maksud Ibu bagaimana?" tanya Desy.
"Nak Huda, memberi Ibu jatah sendiri saat mengirimmu bahkan kebutuhan dapur dan Vina juga di bantu olehnya," Ibu menceritakan apa yang telah terjadi.
"Desy, aku menikah denganmu, itu artinya keluargamu juga keluargaku, apa yang aku berikan pada Adik dan orang tuamu juga aku berikan pada Adik dan orang tuaku, dan apa yang aku berikan itu sama, jadi kamu tidak usah berfikir yang macam-macam," ujar Huda.
"Adik Mas Huda ke mana? kenapa aku tak pernah melihatnya?" tanya Desy yang belum pernah bertemu dengan Adik Huda sampai saat ini.
"Adikku sedang kuliah di mesir, dia tak bisa pulang, sekalipun di hari pernikahanku, nanti jika waktunya tiba kamu pasti akan aku kenalkan dengannya," jawab Huda menghilangkan rasa penasaran sang Calon istri.
"Tapi, apa semua ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Desy yang merasa jika apa yang di lakukan Huda terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Tidak ada yang berlebihan Desy, aku memberikan hal yang sama pada keluargamu dengan apa yang ku berikan pada keluargaku, jadi semuanya masih wajar," Huda mencoba meyakinkan Desy jika semuanya masih wajar.
"Sudah jangan banyak berfikir! lebih baik kita berangkat ke butik saja bagaimana?" sambung Huda.
"Di makan dulu singkoknya, nak," ujar Ibu Desy yang sekarang juga ikut duduk di kursi.
"Makan dulu singkongnya Mas Huda, setelah itu kita berangkat," Desy yang melihat ketulusan sang Ibu ikut menyuruh Huda memakan singkong goreng yang sudah di siapkan sang Ibu.
Huda menuruti apa yang di katakan oleh Desy, meski sebenarnya Huda kurang menyukai singkong tapi dia tetap memakan apa yang sudah di sediakan untuknya, sama halnya seperti nasi jagung yang tadi dia makan, sebenarnya Huda kurang suka nasi jagung, bukan karena dia sok kota atau meremehkan makanan itu, tapi perut Huda selalu kembung setiap kali selesai memakannya.
"Ayo berangkat!" ajak Huda setelah memakan beberapa potong singkong goreng yang ada di atas meja dan melihat Erwin sudah sampai dengan mobil yang tadi Huda suruh isi angin bannya.
"Tunggu sebentar Mas! aku ambil tas dulu." Cegah Desy masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa barang yang dia perlukan.
Usai mengambil tas, Desy melenggang pergi masuk ke dalam mobil menuju butik di mana Huda telah memesan baju pernikahan yang akan dia pakai.
Desy benar-benar terlihat cantik dan anggun dengan balutan gaun putih yang begitu pas di tubuhnya, ukuran yang di berikan calon mertua Huda waktu itu memang tepat, tapi hal lain terjadi, Huda yang memaksakan diri memakan nasi jagung kini harus bolak balik ke kamar mandi untuk melegakan perutnya yang terasa begah.
"Mas Huda kenapa?" tanya Desy setelah selesai mencoba gaun, karena perut yang begah membuat Huda tak Bisa melihat Desy memakai gaun yang dia pilihkan sendiri.
"Sebenarnya, aku tidak bisa makan nasi jagung, perutku selalu bermasalah setiap aku memakannya," jawab Huda.
"Kalau tidak bisa makan kenapa tadi Mas Huda memakannya?" sahut Desy.
__ADS_1
"Aku memakannya karena Ibu sudah menyiapkannya, aku gak bisa nolak pemberian orang tua," jujur Huda.
"Lain kali kalau gak bisa makan lebih baik bilang saja, dari pada seperti ini, yang sakit Mas Huda juga," ucap Desy.