Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Neng Arum


__ADS_3

"Desy!" panggil Arum.


"Arum, ada apa?" sahut Desy yang tadinya berdiri di depan tempat cuci piring kini beralih menoleh ke arah Arum yang berada di belakangnya.


"Desy, aku laper," keluh Arum seraya memegangi perutnya tanda jika saat ini dia tengah lapar.


"Ya ampun kamu belum makan?" tanya Desy yang langsung mencuci tangannya dan berjalan menghampiri Arum.


"Tadi pagi udah, tapi siang ini belum, aku bingung mesti ambil makanan di mana semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing," jelas Arum.


"Ayo ikut aku!" ajak Desy menarik pergelangan tangan Arum untuk ikut bersamanya.


"Kita mau ke mana Desy?" tanya Arum dengan ekspresi wajah bingung mendapat tarikan yang tiba-tiba.


"Katanya kamu laper, udah ikut aja! biar aku ambilkan makan!" Desy mengajak Arum menuju tempat memasak nasi dan beberapa lauk yang nanti akan di hidangkan di acara resepsi Arum.


"Di sini ada beberapa menu yang sedang di masak dan beberapa menu yang sudah matang juga, kamu bisa lihat dari sini. Cukup kamu sebutin aja mau yang mana biar aku ambilkan." Tutur Desy.


Arum yang melihat begitu banyak menu makanan yang tersedia merasa begitu bingung untuk memilih. Pasalnya semua makanan yang di masak terlihat sangan enak dan menggiurkan.


"Aku mau yang ada sedikit kuahnya itu," Arum menunjuk masakan padangan yang sedang di buat.


"Terus mau yang mana lagi?" Desy kembali bertanya.


"Tidak ada, aku mau itu aja," jawab Arum.


"Baiklah, kamu tunggu di kamar aja nanti aku anterin!" titah Desy.


"Kenapa harus di kamar Desy? aku mau makan di sini aja. Bagaimana kalau kita makan bersama?" dengan tegas Arum menolak titah Desy malah mengusulkan untuk mengajak Desy makan bersama dengannya.


"Ishhh mana ada pengantin diem di dapur, lebih baik kamu tunggu di kamar biar nanti aku yang bawain ke sana." Desy menolak keras Arum yang ingin makan bersamanya di dapur.


"Apa aku gak ngerepotin kamu?" tanya Arum dengan ekspresi wajah tidak enak hati.


"Mana ada, aku gak sedang ngadain pernikahan pakai repot segala, udah kamu tunggu aja di kamar!" Desy tetap pada pendiriannya untuk menyuruh Arum makan di dalam kamar.


"Baiklah, makasih ya Desy," ucap Arum sebelum pergi meninggalkan Desy mulai mengambil makanan yang ada di inginkan oleh Arum.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Desy dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Kamu mau makan lagi Desy?" tanya Shinta saat melihat Desy mengambil satu porsi nasi padang di tangannya.


"Enggaklah, kamu fikir aku kebo apa makan terus," sahut Desy.


"Lah itu kamu ambil makanan buat apa?" tanya Shinta.


"Ini buat Arum, tadi dia ke sini katanya laper." Jawab Desy yang di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Shinta.


"Desy!" panggil Huda saat melihat Desy berjalan dengan satu porsi makanan di tangannya.


"Eh Mas Huda, ada apa?" sahut Desy langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Huda.


"Kamu mau ke mana?" bukannya menjawab Huda malah balik bertanya.


"Aku mau nganter makanan buat Arum." Jawab Desy yang berusaha bersikap sebiasa mungkin meski sebenarnya hatinya saat ini sedang sakit mengetahui jika gadis yang mampu membuat seorang Huda patah hati adalah Arum.


"Setelah itu, aku boleh gak minta ambilkan makanan ke kamu?" Huda memang sedang lapar saat ini dan dia ingin Desy yang mengambilkannya makanan.


"Boleh kok, Mas Huda mau makan apa?" tawar Desy yang juga mengerti jika saat ini Huda butuh hiburan.


"Baiklah nanti aku antar ke halaman belakang." Jawab Desy.


"Aku tunggu!" pesan Huda sebelum pergi meninggalkan Desy yang masih setia berdiam diri di tempat.


"Hm," sahut Desy singkat.


Dengan langkah sedikit cepat Desy melangkah membawa satu porsi makanan di tangannya pergi ke kamar Hasan yang kini sudah menjadi kamar Arum juga.


Tok ... tok ... tok ....


"Neng Arum!" panggil Desy sesopan mungkin, saat ini dia mengubah panggilannya karena Arum sudah sah menjadi istri Hasan yang notabennya putera pemilik pesantren, Desy juga khawatir jika dia memanggil nama saja seperti biasa dia akan kena protes kalau sampai Hasan ada di dalam kamar juga.


'Ceklek'


Pintu kamar terbuka nampaklah seorang wanita yang tak lain adalah Arum.

__ADS_1


"Ini makanannya." Desy memberikan satu porsi makanan yang tadi dia bawa.


"Terima kasih ya Desy," sahut Arum.


"Sama-sama, kalau ada yang di perlukan lagi kamu tinggal bilang aja ke aku atau Shinta. Kita bakal bantu," tutur Desy yang di tanggapi dengan anggukan dan senyuman dari Arum.


Desy yang sudah memberikan makanan ke Arum segera melangkahkan pergi meninggalkan Arum, mengambilkan makanan untuk Huda.


"Astaga Desy, dari tadi ngambil makan mulu gak selesai-selesai. Sekarang ngambilin punya siapa lagi?" tegur Shinta.


"Punya Mas Huda," jawab Desy singkat.


"Khem jadi ceritanya sekarang ambil makan buat calon suami," goda Shinta yang mendapat pelototan dari Desy.


"Idih serem amat, mata kamu mau keluar itu," cicit Shinta.


"Diem!!!" hardik Desy kemudian melenggang pergi meninggalkan Shinta setelah memelotottinya.


Desy melangkah dengan penuh semangat menuju halaman belakang di mana Huda menunggu.


"Mas Huda, ini makanannya." Desy memberikan satu porsi nasi rawon lengkap dengan minuman yang ada di sampingnya karena Desy membawa makanan dengan nampan.


"Terima kasih ya," ucap Huda menerima seporsi makanan yang tadi di bawa oleh Desy.


"Sama-sama," jawab Desy hendak peegi meninggalkan Huda yang masih duduk di sampingnya.


"Kamu mau ke mana?" pertanyaan yang muncul dari bibir Huda menghentikan langkah Desy.


"Aku mau balik ke dapur Mas Huda. Mau ngelanjutin bantu-bantu di sana." Jawab Desy lengkap dengan penjelasannya.


"Temani aku makan. Jangan balik dulu!" cegah Huda membuat Desy merasa bingung tapi juga senang.


Pasalnya Desy begitu mengerti dengan perasaan Huda saat ini, Huda yang Desy tahu sedang patah hati pasti butuh seorang teman untuk menemaninya dan Desy merasa senang jika dirinyalah yang menemani Huda, tapi di sisi lain Desy merasa tak enak hati jika harus meninggalkan dapur terlalu lama karena ada setumpuk pekerjaan yang sudah menunggunya di sana.


"Tap~" suara Desy terhenti karena Huda memotongnya.


"Temani aku sebentar saja. Setidaknya sampai nasi di piring ini habis," pinta Huda membuat Desy tak lagi bisa menolak.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Desy.


"Jangan berdiri terus duduklah dulu!" titah Huda seraya memberi isyarat pada Desy untuk duduk di kursi yang tepat berada di hadapan Huda. Suasana kembali hening karena tak ada yang bersuara, Huda fokus menghabiskan makanannya sedang Desy hanya diam melihat Huda yang makan dengan lahapnya.


__ADS_2