
Husein dan Zahra pulang dengan hati yang begitu gembira. Pasalnya bayi yang telah lama mereka nantikan kini akan segera hadir di antara keduanya, hal pertama yang ingin di lakukan oleh Husein saat ini adalah memberi kabar kepada sang Umik dan Abi, juga kedua orang tua Zahra.
"Sayang, menurutmu lebih baik kita ke rumah Umik dulu atau ke rumah Mama?" tanya Husein.
"Mau ngapain ke rumah mereka, Mas?" sahut Zahra.
"Kita kabari mereka kalau kamu sudah hamil, mereka akan jadi nenek dan kakek," jawab Husein.
"Aku pengen istirahat dan tidur aja di rumah Mas, jadi besok saja ke rumah mereka, atau aku telfon saja Mama dan Mas telfon Umik untuk memberi mereka kabar," ucap Zahra yang terlihat lelah dan kini bersandar di jok mobil sambil memejamkan mata.
"Baiklah, kita pulang saja," Husein lebih memilih untuk kembali pulang setelah mendengar jawaban Zahra dan melihat keadaannya.
Mobilpun melaju kembali pulang seperti apa yang di katakan oleh Zahra. Husein mencoba memahami setiap perubahan yang terjadi pada Zahra, karena dia tahu dengan pasti jika saat ini apa yang di lakukan Zahra bukanlah kehendak dia seorang, tapi juga kehendak sang jabang bayi yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Dek, turun! Kita sudah sampai," lirih Husein mencoba membangunkan Zahra yang terlihat sedang memejamkan mata.
"Emmm, udah nyampek ya, Mas," sahut Zahra yang terlihat mengumpulkan kesadaran setelah terganggu dengan suara lirih Husein di telinganya.
"Sudah, bangunlah!" sahut Husein seraya membuka pintu mobil lebih lebar agar Zahra bisa keluar dengan mudah.
Zahra langsung melangkah masuk ke dalam rumah setelah turun dari mobil, langkahnya terhenti ketika netra matanya melihat seorang pria yang begitu dia kenal.
"Kakak!" seru Zahra dengan ekspresi wajah yang berubah, sejak tadi Zahra yang terlihat lelah kini berubah penuh semangat setelah melihat Zein, sang kakak yang duduk dengan santainya di kursi ruang tamu.
"Hay Dek, apa kabar?" sahut Zein.
"Kakak udah lama di sini?" tanya Zahra seraya berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Zein yang sedang melempar senyum manis ke arahnya.
"Kakak baru aja dateng, kamu dari mana?" jawab Zein sambil mengusap pelan kepala Zahra yang masih terbungkus rapi oleh kerudung.
"Aku dari rumah sakit Kak," jawab Zahra polos.
"Kapan kamu dateng?" sela Husein dengan ekspresi wajah kurang suka yang tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
Entah mengapa Husein selalu saja merasa cemburu jika sang istri terlalu dekat dengan Zein yang notabennya Kakak kandung Zahra sang istri, meski Husein sudah berusaha keras menekan hatinya agar tak cemburu, tapi tetap saja perasaan itu muncul tanpa bisa dia kendalikan.
"Gue baru dateng, loe ngapain ke rumah sakit? apa ada yang sakit?" tanya Zein.
"Gak ada Kak, tadi kita cuma mastiin aja apa Zahra beneran hamil?" jawab Husein.
"Denger loe panggil Kak, kok gue jadi berasa tua ya," ujar Zein.
"Eh tunggu! tadi Loe bilang apa? Zahra hamil?" sambung Zein yang baru menyadari kalimat sang Adik ipar.
"Iya, bentar lagi Kamu bakal jadi Om," sahut Husein meyakinkan Zein.
Sejak menjadi suami dari Zahra, Husein merubah panggilannya dan dia terlihat jauh lebih sopan pada Zein, meskipun sahabatnya itu masih suka bersikap dan berucap seenaknya, tak membuat Husein risih ataupun terganggu.
"Alhamdulillah, makin tualah aku," seru Zein membuat Zahra dan Husein terkekeh karenanya.
"Baru sadar kalau Kakak udah tua, kemarin-kemarin ke mana aja?" sahut Zahra.
"Kamu gak mau kasih tahu Mama sama Papa soal kabar gembira ini?" tanya Zein.
"Oh ya, kamu tumben datang, apa ada sesuatu yang penting?" sela Husein merasa heran dengan kedatangan Zein.
"Enggak, gue cuma kangen aja sama Adik gue yang paling bawel ini, sejak dia menikah rumah jadi sepi, gak ada yang ngomelin gue lagi," Zein menceritakan alasannya datang.
"Kalau merasa kesepian kenapa gak nyari jodoh aja?" usul Husein.
"Belum ketemu Dek, kalau udah ketemu gue juga bakal nyusul," jawab Zein.
"Belum ketemu atau terlalu banyak pilihan, sampek bingung mau halalin yang mana?" Husein yang sangat mengerti dengan sifat sahabatnya itu langsung memberikan pertanyaan yang membuatnya mati gaya.
"Sudahlah, jangan bahas gue! mending kamu telfon Mama dan kasih tahu beliau kalau sekarang kamu sedang hamil." Zein yang tak ingin sifat buruknya terbongkar di depan sang Adik langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku juga mau ngabari Umik dulu," pamit Husein melangkah sedikit menjauh untuk menghubungi Umik dan memberitahukan kabar gembira yang kini tengah dia rasakan.
__ADS_1
Husein dan Zahra menghubungi orang tua mereka masing-masing dan memberi kabar tentang kehamilan Zahra yang di sambut gembira oleh keempatnya.
"Bagaimana Mas, apa kata Umik?" sergah Zahra saat melihat Husein kembali duduk di hadapannya.
"Umik mungkin sebentar lagi ke sini dengan Abi dan Kak Hasan juga Kak Arum," jawab Husein.
"Mama sama Papa juga bentar lagi nyampek ke sini, Mas," tutur Zahra.
"Kita harus nyiapin apa ya untuk mereka?" Zahra kini mulai terlihat sedikit panik, dia hendak berdiri untuk melakukan sesuatu.
"Kamu gak perlu panik, Dek! serahkan saja semuanya ke Bik Sumik. Ingat pesan dokter tadi, kamu gak boleh capek!" cegah Husein sebelum sang istri mulai melakukan sesuatu.
"Baiklah," Zahra tak lagi bisa berdebat karena apa yanh di katakan Husein memang benar adanya.
"Inget apa kata suamimu, Dek! lagi pula apa gunanya punya asisten rumah tangga kalau kamu masih saja repot," ujar Zein seenaknya.
"Bik Sumik!" Husein tak menghiraukan apa yang di katakan oleh Zein, dia lebih memilih memanggil Bik Sumik dari pada meladeni ucapan Zein.
"Iya, Tuan," jawab Bik Sumik yang kini sudah berdiri tegak di hadapan Husein.
"Bik, tolong siapkan makanan yang lebih banyak dari biasanya, sebentar lagi orang tua Zahra dan keluargaku akan datang!" titah Husein.
"Baik, Tuan," jawab Bik Sumik melenggang pergi menuju dapur untuk meneruskan pekerjaannya.
Cukup lama Zein dan yang lain saling berbincang menceritakan banyak hal, hingga bel rumah terdengar menggema di ruang tamu.
"Assalamualaikum," ucap Umik yang baru saja sampai sesaat setelah Husein membuka pintu.
"Waalaikum salam," jawab ketiganya hampir bersamaan.
"Alhamdulillah, akhirnya allah memberi kalian rezeki anak juga," ujar Umik yang langsung duduk di samping Zahra sembari merangkul pundaknya.
"Alhamdulillah, Umik," sahut Zahra.
__ADS_1
Suasana hangat dan penuh kebahagiaan begitu terasa di dalam ruang tamu, hingga orang tua Zahra juga hadir meramaikan suasana, semuanya larut dalam suka cita.