
"Ada apa Syei'?" sahut Hasan menghentikan langkahnya menoleh ke arah Arum.
"Kita ke kota A ya. Aku beberan pengen banget ubi ungu itu, rasanya melayang-melayang di depan wajahku Bi," rengek Arum.
Lagi-lagi kesabaran Hasan di uji, perjalanan menuju kota A membutuhkan satu setengah jam untuk sampai karena sangat jauh dari tempat mereka saat ini, tapi hati Hasan seketika luluh saat melihat wajah melas sang istri yang terpampang jelas di matanya.
"Iya, kita akan ke kota A buat nyari ubi yang kamu inginkan." tegas Hasan, Arum yang sejak tadi memasang wajah memelas kini mulai tersenyum sumringah.
"Terima kasih Bi," ucap Arum dengan mata yang berbinar karena bahagia.
"Terima kasihnya nanti kalau sudah dapat, sekarang kita pergi ke kota A buat cari ubi ungu." Hasan memegang tangan Arum dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Kamu duduk saja yang manis. Serahkan semuanya ke Abi!" tutur Hasan dengan nada lembut, Arum hanya tersenyum manis sambil mengangguk menanggapi ucapan Hasan.
Usai menutup pintu ponsel Hasan berdering menandakan jika saat ini ada yang menghubunginya.
"Iya, ada apa?" Hasan langsung bertanya sesaat setelah dia mengangkat telfon.
"Tuan, saya menemukan orang yang jual ubi ungu di pasar belakang masjid yang biasa kit datangi kalau hari jum'at," jawab sang asisten.
"Kamu share lock saja di sebelah mana, jangan membelinya! biar aku sendiri yang beli," tutah Hasan membuat sang asisten bingung dengan sikap Hasan yang cukup plin plan itu, tadi Hasan meminta nya untuk mencari dan membeli ubi ungu. Tapi sekarang Hasan malah menyuruhnya memberitahu lokasinya saja.
"Baik, Tuan," sahut sang asisiten yang tak nusa bertanya ataupun mendebat perintah sang majikan, tapi baru kali ini Hasan memberikan perintah yang membingungkan dan Asisten itu yakin semua ini gara-gara ubi ungu yang di minta sang istri.
'Apa mungkin Istrinya Tuan sedang hamil ya?' batin sang asisten, dia membatin sambil menyimpan kembali ponsel yang tadi dia pegang ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Hasan melajukan mobil menuju tempat yang sudah di share lock oleh Sang asisten.
"Loh kok ke sini Bi? bukannya kita mau ke kota A ya?" tanya Arum.
"Kita cari di sini dulu, kalau memang tidak ada baru kita pergi ke kota A." Jawab Hasan.
Arum hanya diam tanpa mendebat ucapan Hasan karena yang terpenting saat ini dia bisa mendapatkan ubi ungu yang sejak tadi sudah terbayang-bayang di depan mata.
"Itu dia ubi ungunya." tunjuk Hasan ke arah tokoh di pinggir jalan. Dan terlihat setumpuk ubi ungu yang bersanding cantik dengan ubi madu berwarna kuning di sampingnya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa makan ubi ungu." Ujar Arum dengan ekspresi penuh kebahagiaan.
Hasan dan Arum turun menuju tokoh yang menyediakan ubi ungu, dengan penuh semangat Arum memilih yang menurutnya bagus.
"Belilah berapapun yang kamu inginkan Syei'!" titah Hasan saat melihat Arum begitu bersemangat memilih.
Arum membeli empat kilo ubi ungu, hatinya begitu puas setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, sedang Hasan sang suami hanya menggelengkan kepala heran melihat tingkah sang istri, entah untuk apa ubi sebanyak itu? Hasan hanya bisa diam dan membiarkan Arum melakukan apa yang dia inginkan.
"Abi, tolong bawakan ubinya ya! aku gak kuat." Pinta Arum.
"Kamu jangan bawa barang yang berat Syei', mulai sekarang pekerjaan apapun yang berat jangan sampai kamu lakukan! panggil aku atau orang lain untuk membantumu." Perintah Hasan.
"Siap suamiku Sayang," sahut Arum seraya memberi hormat ke arah Hasan.
Senyuman tak pernah luntur dari bibir Arum sejak dia berhasil membeli ubi ungu, Hasan merasa begitu lega melihat Arum sebahagia sekarang padahal yang di belinya hanya ubi ungu yang menurut Hasan tak terlalu mahal.
__ADS_1
"Abi mampir ke warung nasi jagung ya." Arum kembali mengutarakan permintaannya.
"Apapun yang kamu minta Syei'," sahut Hasan melajukan mobilnya kembali ke pesantren dan mencari warung nasi jagung seperti yang di minta oleh Arum.
"Bi, di depan situ ada warung nasi jagung enak, berhenti ya." Pinta Arum.
Hasan hanya mengangguk sebagai jawaban tanpa bersuara, dia tetap fokus menyetir sambil sesekali melirik mencari warung nasi yang di minta oleh Arum sang istri yang sedang hamil dan banyak maunya itu.
"Ayo turun Syei'!" Hasan membuka pintu mobil untuk Arum kemudian memegangi lengan Arum yang akan berdiri dan sikap berlebihan Hasan memberi kesan jika Arum sedang sakit keras.
"Abi, aku hanya hamil tidak sedang sakit, jadi jangan seperti ini! aku masih bisa berdiri sendiri." Ujar Arum merasa kurang nyaman dengan perlakuan Hasan yang terkesan berlebihan.
"Sudah jangan banyak protes!" sarkas Hasan.
Keduanya memilih menu yang mereka sukai dan menghabiskan apa yang mereka pesan sampai tandas tak tersisa, Hasan merasa begitu lega melihat Arum makan dengan lahap dan tak menunjukkan tanda jika Arum akan muntah seperti orang-orang hamil yang sering Hasan temui, meskipun permintaan dan sikap Arum cukup membuatnya repot tapi Hasan tak mempermasalahkannya yang terpenting Arum dan calon bayinya sehat.
"Apa masih ada yang ingin kamu beli?" tawar Hasan sebelum melajukan mobilnya kembali.
"Sudah Bi, aku ngantuk, perutku juga sudah kenyang apalagi ubi ungunya sudah dapat, aku sudah tak ingin apapun lagi Bi," jawab Hasan.
Hasan tersenyum mendengar jawab Arum dan ekspresi bahagia yang sejak tadi terlihat. Mobil kembali melaju membelah jalanan menuju pesantren. Dan benar saja Arum langsung tertidur sesaat setelah mobil melaju.
"Semoga kalian berdua selalu sehat hingga nanti waktunya lahir," untaian do'a terdengar begitu khusuk dan serius meski dia mengucapkannya dengan pandangan tetap lurus ke depan.
Hari ini adalah hari yang sungguh menguji kesabaran bagi Hasan, mendapati perubahan sikap Arum dan permintaan anehnya membuat dia sadar jika apa yang pernah di ceritakan sang Abi sungguh benar adanya, dulu Abi Ilzham sempat bercerita tentang betapa sulitnya dia saat menghadapi sang bunda yang tengah hamil muda, berbagai permintaan yang menyulitkan dirinya terus saja di minta oleh Umik, dan Hasan juga sudah mendapat pesan jika apapun yang terjadi saat Arum hamil maka Hasan sebagai suami harus sabar menghadapinya dan berusaha untuk memenuhi apapun yang di inginkan Arum meski keinginan itu terkadang sulit untuk di wujudkan.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ujar Hasan setelah sampai di halaman pesantren, Hasan sedikit merenggangkan otot-otot yang kini terasa kaku karena sejak tadi Hasan menyetir mobil.
Tatapan mata Hasan beralih pada Arum yang terlihat masih terlelap dalam dunia mimpi. Senyum Hasan kembali mengembang mengingat jika sang istri sedang hamil, dan Hasan akan mempunyai anak karena itulah dia begitu bah