
Hari berat telah berlalu, menyisakan sejuta bimbang dalam benak Arum. Kebimbangan yang teramat menyiksa memilih satu di antara ketiga laki-laki yang begitu baik membuatnya dilema.
"Woiii ngelamun mulu," tegur Desy.
Saat ini Arum sedang duduk di atap gedung lantai tiga, di sebelah asrama tepat Arum tinggal sedang ada penambahan asrama. Atap yang sudah di cor tapi masih belum di bangun membuat bangunannya menjadi tempat favorite para santri, biasanya para santri akan menggunakan bangunan yang belum jadi itu sebagai tempat menjemur bantal tak jarang juga menjemur alas tidur.
Terkadang mereka juga mempergunakan bangunan itu untuk sekedar duduk menikmati cuaca pagi dengan pemandangan sawah yang membentang luas di sampingnya.
"Desy," lirih Arum yang terkejut melihat kedatangan Desy.
Arum yang duduk di tepi bangunan menatap lurus ke arah sawah yang di tanami padi, meliuk-liuk indah dengan cahaya remang matahari melengkapi keindahan yang tercipta.
Warna jingga perlahan memudar berganti hangatnya mentari, tapi kehangatan itu tak mampu menghangatkan hati yang sedang bimbang.
"Kamu kenapa ada di sini sendiri?" tanya Desy sambil menatap sekeliling yang terdapat beberapa santri yang sedang belajar menghafal nadhom.
"Gak apa-apa, Aku cuma lagi nikmatin pemandangan aja," jawab Arum yang masih menatap lurus ke arah sawah.
"Kalau galau jangan di pendam sendiri gak baik, coba aja cerita barang kali Aku bisa bantu meskipun cuma sekedar saran yang bisa Aku kasih," ujar Desy seolah mengerti apa yang di rasakan oleh Arum.
Arum menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan seolah menetralkan perasaan yang sedang campur aduk.
__ADS_1
"Aku merasa bingung Desy," lirih Arum.
"Bingung kenapa?" tanya Desy yang semakin yakin jika Arum sedang berada dalam masalah.
"Aku harus memilih satu di antara tiga pria yang ku tahu pasti ketiganya memiliki sifat yang begitu baik, dan mereka juga pantas untuk di pilih," menyerah sudah, mungkin benar yang di katakan Desy jika Arum bercerita dia akan merasa jika bebannya sedikit terangkat.
"Hah? tiga pria? sungguh beruntungnya dirimu yang di perebutkan tiga pria sekaligus." Sahut Desy dengan wajah yang di liputi kesedihan membuat Arum langsung menoleh dan bingung dengan sikap juga ucapan Desy.
"Kok beruntung sih Desy, Aku lagi bingung kamu malah bilang beruntung," protes Arum.
"Kamu gak usah bingung, sholat istighara minta petunjuk sama Allah, percayalah jika salah satu di antara ketiganya adalah jodohmu, maka kamu akan bersatu dengannya, dengan cara yang tak terduga." Nasehat Desy.
"Sungguh Desy, Aku tak ingin menyakiti salah satu di antara ketiganya," ucap Arum menutup mata menikmati hangatnya matahari dan hembusan angin sawah yang terasa begitu menenangkan.
"Kau tahu Arum, tak semua gadis bisa mendapatkan cinta yang dia inginkan, tak semua gadis juga mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria seperti dirimu yang menemukan tiga cinta tulus, dan kamu hanya perlu memilih dan meminta petunjuk siapa yang baiknya kamu pilih," jawab Desy.
"Maksudnya?" tanya Arum yang masih belum mengerti makna dari ucapan Desy.
"Kau tahu Arum, Aku juga pernah merasakan cinta dan di cintai." Desy menundukkan kepala mengingat masa lalu pahit yang pernah di alaminya.
"Apa kamu pernah patah hati?" tanya Arum yang kini menoleh ke arah Desy dan menatap lekat ke arahnya. Dan desy hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Tak terasa air mata sudah menetes di pipi Desy membuat Arum bingung, bukankah tadi Desy yang ingin mendengar curahan hatinya, kenapa sekarang malah Desy yang menitikan air mata.
"Aku pernah memiliki kekasih dia dua tahun lebih tua dariku, saat itu Aku masih kelas dua SMA, kami berjanji akan mengikat ikatan yang kami jalani menjadi ikatan suci. Sebuah pernikahan megah dan kehidupan rumah tangga yang terbayang indah sering kami bicarakan, hingga suatu hari dia menghilang selama satu bulan, entah pergi ke mana dia saat itu Aku benar-benar tak bisa menemuinya jangankan menemui menelfonnya saja Aku tak bisa." Desy menghentikan ceritanya menghirup udara rakus dan membuangnya kasar, seolah mencoba mengusir sedikit rasa sakit yang sedang di rasakannya.
"Terus apa yang terjadi?" tanya Arum yang mulai penasaran dan simpati pada cerita yang di ceritakan oleh Desy.
"Saat itu Aku merasakan rindu yang tak lagi bisa ku bendung, rasa cemas selama satu bulan yang ku tahan sudah tak busa lagi ku tahan, dengan tekat kuat Aku berniat menemuinya di rumahnya. Dengan langkah penuh keberanian Aku pergi ke rumahnya, tapi nihil dia tak ada di rumah itu lagi. Sang asisten rumah tangga yang sudah mengenalku memberitahukan jika dia sudah pindah dan berpesan agar Aku bersabar." Desy kembali diam memberi waktu pada hatinya yang merasakan sakit.
"Pesannya memang singkat tapi memiliki arti yang begitu luas, ada banyak hal yang tumbuh di fikiranku. Apa dia sedang sakit atau mengalami kecelakaan? semua fikiran buruk bersarang di benakku, tanpa banyak tanya Aku langsung melangkah menuju alamat yang asistennya katakan. Dan betapa terkejutnya Aku saat melihat dia yang sebulan ini Aku rindukan sedang duduk dengan mesrasnya bersama seorang gadis, mereka terlihat bercanda dan sesekali dia mencium pucuk kepala sang gadis, tanpa terasa air mataku mengalir deras dengan langkah lebar Aku berjalan menghampirinya," Air mata Desy mengalir semakin deras membuat Arum langsung menarik bahunya dan mencoba menenangkan Desy yang terlihat begitu terluka.
"Dan mereka sudah menikah, hanya karena bisnis dia meninggalkanku yang begitu tulus mencintai dan menunggunya," pecah sudah tangis Desy mengingat semua yang pernah dia alami.
"Sabarlah Desy, dia bukan jodohmu kelak kau akan menemukan cinta sejati yang jauh lebih baik darinya," ucap Arum mencoba menenangkan Desy.
"Dia salah satu alasan Aku masuk pesantren dan meninggalkan semua kenanganku di sana untuk memulai hidup baru di sini, di tempat dan lingkungan baru." Ujar Desy.
Arum terus mengusap pelan punggung Desy menyalurkan segala rasa simpati yang kini Arum rasakan.
"Terima kasih Arum," lirih Desy di tengah tangisnya yang masih saja berlangsung dan belum berhenti.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Arum.
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkan curahan hatiku, sungguh menyimpan luka ini sendirian bukanlah pilihan yang tepat, karena Aku masih belum bisa melupakan semuanya," ujar Desy.
"Aku juga senang jika kamu sudah merasa lebih baik, jangan mudah putus asa! cinta sejati itu datangnya selalu belakangan." Ucap Arum dengan senyum lembut di bibirnya.