
Hasan terus saja mendekat ke arah Arum mengikis jarak di antara keduanya, sedang Arum yang di dekati kini merasakan sesuatu yang tak bisa di jelaskan.
Arum hanya diam mematung menatap Hasan yang terus mendekat. Perlahan tapi pasti Hasan yang sejak beberapa minggu ini menahan segala hasrat yang terpendam kini merasa begitu bahagia, karena hasrat itu akan bisa segera di terpenuhi.
"Duduklah Bi!" titah Arum saat dia sadar dengan apa yang harus dia lakukan.
Hasan yang mendengar perintah Arum hanya bisa menurutinya tanpa ada niatan untuk berdebat.
"Abi izinkan aku memberikan mahkota yang telah di anugerahkan padaku dan telah ku jaga selama ini." Arum berucap dengan tangan yang kini mulai menggenggam tangan Hasan dengan tatapan wajah teduh menatap lurus ke depan.
Hasan yang mendengar ucapan Arum langsung terkejut, dirinya tak langsung menhawab ucapan Arum malah terdiam mematung menatap Arum yang terlihat semakin memompa jantungnya.
"Abi!" Arum kembali memanggil Hasan yang masih saja tetap melamun dengan tatapan lurus ke arahnya.
"Iya Syei'," sahut Hasan.
"Kenapa diam?" tanya Arum dengan nada berhati-hati.
"Gak ada apa-apa, Abi hanya mengagumi bidadari bumi," jawab Hasan.
"Siapa bidadari bumi itu Bi?" tanya Arum penasaran entah mengapa hatinya sedikit tercubit mendengar ucapan Hasan yang mengagumi bidadari Bumi.
"Dia adalah gadis yang saat ini duduk di hadapanku," jawab Hasan membuat Arum tersipu malu dan menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Syei'! izinkan aku menjadi suamimu yang seutuhnya," ujar Hasan.
"Ku serahkan semuanya untukmu Bi," sahut Arum.
Perlahan tapi pasti Hasan terus saja mendekat ke arah Arum hingga jarak di antara keduanya terkikis habis, Hasan mulai menikmati apa yang seharusnya sudah dia nikmati sejak pertama kali Hasan mengucapkan ijab kabul.
__ADS_1
Ciuman yang awalnya biasa saja semakin lama semakin menuntut, Hasan menyentuh setiap bagian dalam diri Arum dengan sentuhan yang begitu lembut, dan apa yang di lakukan Hasan sukses membuat Arum melayang.
"Abi, pelan-pelan! sakit," rintih Arum saat Hasan mulai memasukkan bola ke dalam gawang yang di penuhi rerumputan halus.
"Tahan Syei'! ini akan sedikit sakit," sahut Hasan yang kini beralih menyambar bibir mungil Arum agar rasa sakit yang di rasakan Arum sedikit teralihkan.
Pelan tapi pasti, Hasan terus saja mencoba menerobos gawang yang masih tersegel hingga satu hentakan yang dia lakukan mampu membobol segel yang belum tersentuh sebelumnya.
"Aaahh," suara Arum kembali terdengar karena Hasan melepas ciuman yang tadi dia lakukan.
"Ahhh, Syei' aku mencintaimu," ucap Hasan kembali membungkam mulut Arum dengan bibirnya.
Hasan terus saja bermain di sana memberi sensasi berbeda pada Arum yang awalnya kesakitan kini mulai ikut menikmati permainan yang di ciptakan oleh Hasan.
Keduanya terus menikmati indahnya malam panjang seorang pengantin baru hingga mereka merasakan puncak kenikmatan.
Hasan yang telah lelah bermain terbaring lemas di samping Arum yang juga terlihat begitu lelah sambil melingkarkan tangan di peeut Arum.
"Terima kasih Syei' sudah menjadikanku yang pertama dan satu-satunya," lirih Hasan kemudian mengecup kening Arum sekilas dan mulai terlelap di pelukan Arum.
Arum yang mendapat perlakuan manis seperti itu hanya bisa diam setelah sekilas terlihat tersenyum, bukan karena Arum menyesal telah memberikan miliknya yang paling berharga pada Hasan, bukan juga karena dia tak bahagia, Arum hanya lelah dan merasakan sekujur tubuhnya telah remuk redam setelah pertempuran panjang yang terjadi.
Perlahan keduanya tertidur, lelap dalam mimpi yang pasti akan indah setelah mereka menikmati surga dunia. Malam panjangpun telah berlalu keduanya masih saja terlelap hingga suara adzan subuh membangunkan Hasan yang sedang merasakan hangatnya guling hidup yang saat ini ada di sampingnya.
Seutas senyum terlihat mengembang di bibir Hasan saat melihat siapa yang dia peluk, wajah lelap Arum terlihat begitu cantik nan menggoda membuat Hasan kembali ingin bermain dengan Arum, tapi keinginan itu segera dia tepis karena Hasan yakin jika saat ini Arum pasti masih merasa sakit.
Perlahan Hasan turin dari ranjang menuju kamar mandi menghilangkan segara rasa lengket yang tersisa dari permainan semalam, tanpa sengaja Hasan melihat bercak merah di seprei berwarna putih yang dia tiduri semalan.
"Aku mencintaimu Arum istriku," lirihnya menatap lekat Arum setelah melihat bercak darah di seprei kemudian Hasan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Cukup lama Hasan berada di dalam kamar mandi membersihkan diri sekaligus merendamkan badan ke dalam air hangat agar rasa lelah yang di rasakan setelah pertempuran semalam bisa hilang.
"Syei, bangun! sudah subuh." Hasan mencoba membangunkan Arum yang masih saja terlelap dalam tidurnya.
"Emmm, lima menit lagi Desy," sahut Arum tanpa membuka mata dia hanya menggeliat pelan hingga selimut yang dia pakai melorot ke bawah dan nampaklah dua gunung kembar yang tak lagi mulus tapi sudah berstempel, bukan hanya satu stempel tapi beberapa stempel menutupi kemulusan sang gunung.
"Syei, aku bukan Desy. Aps kamu mau menggodaku lagi dengan keadaanmu yang seperti itu?" Hasan memperjelas ucapannya dengan nada sedikit keras yang sukses membuat Arum membuka matanya lebar.
"Astaghfirullah, Abi," ucapnya sesaat setelah matanya terbuka.
"Kenapa? apa kamu mau melakukan lagi apa yang kita lakukan semalam? hm?" Hasan mengalihkan pandangannya yang semula menatap ke wajah Arum kini menatap ke arah gunung kembar yang sedang terpampang nyata di hadapannya.
Arum yang baru saja sadar langsung mengikuti arah pandang Hasan membuat dia sadar jika saat ini dia tak memakai sehelai benangpun, dengan gerakan cepat Arum menarik selimut yang tadinya melorot hingga menutupi bagian lehernya.
"Abi yang semalam masih sakit," keluh Arum.
"Abi mengerti, sudah cepat bangun kita sholat berjamaah bersama." ujar Hasan berjalan mengambil mukenah dan dua sajadah untuk dia pakai bersama sang istri tercinta.
Arum awalnya merasa biasa saja hingga saat dia berdiri hendak berjalan rasa perih di area gawang terasa begitu mengganggu.
"Aaauuu!" teriak Arum.
"Ada apa Syei'?" tanya Hasan yang langsung berlari menghampiri Arum yang kini terduruk di lantai merasakan perih yang tiba-tiba muncul.
"Masih sakit ya Syei'?" tanya Hasan yang kini berada tepat di samping Arum.
Tanpa banyak kata Hasan langsung mengangkat tubuh ringan sang istri membawanya masuk ke dalam kamar mandi, sebelumnya Hasan sudah menyiapkan air hangat untuk Arum.
"Berendamlah sebentar agar tubuhmu tak terlalu sakit dan lebih segar!" pesan Hasan sebelum pergi meninggalkan Arum sendiri di dalam kamar mandi. Sedang Arum yang mendapat perlakuan manis hanya tersenyum senang menatap kepergian Hasan yang semakin tak terlihat menghilang di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1