Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Meminta Penjelasan


__ADS_3

"Jika bicaranya nanti saja, apa kamu tidak keberatan?" tanya Hasan ragu.


"Tidak apa-apa Kak," jawab Arum yang terpaksa menunda rencana kejujurannya, melihat semua crew pemotretan sudah siap membuat Arum harus menyingkirkan dulu kepentingan yang masih bisa di tunda sementara waktu.


"Kalau begitu kita langsung mulai saja foto preweedingnya." Ujar Hasan yang langsung berjalan menuju lokasi pengambilan foto.


"Mbak silahkan ganti baju dulu!" ucap salah satu fotografer yang baru saja mendekat ke arah Arum.


"Ganti baju di mana?" tanya Arum bingung, pasalnya dia tak melihat ada tempat atau bangunan untuk ganti baju.


"Mbak bisa langsung masuk ke dalam mobil itu, di sana sudah ada perias yang akan membatumu." Sang fotografer menunjuk ke arah sebuah mobil, sebenarnya Arum agak ragu untuk pergi mendekat karena mobil yang di tunjuk fotografer itu terlihat seperti mobil box yang biasa di pakai untuk mengangkut barang.


"Kamu pergi saja dulu! nanti kalau sudah selesai Aku susul dan tenang saja bos mereka temanku jadi jangan takut!" ucap Hasan mencoba menenangkan Arum yang terlihat takut.


Arum yang merasa jauh lebih tenang setelah mendengar ucapan Hasan langsung berjalan menghampiri mobil box yang tadi di tunjuk oleh sang fotografer.


Klek ....


Saat mobil box mulai terbuka Arum begitu terkejut melihat isinya yang jauh berbeda dengan apa yang terlihat dari luar, di dalam box terlihat begitu mewah dan lengkap ada tirai yang menjuntai menutupi sebagian box di sisi lain ada pula sofa yang cukup untuk dua orang terletak di sisi yang lain dan ada meja rias beserta kursi putar di depannya.Dekorasi yang ada di sana juga cukup bagus dan nyaman.


"Mbak Arum, silahkan masuk!" sapa seorang gadis yang mungkin hanya beda beberapa tahun dengan Arum.


Arum tersenyum kemudian menuruti ucapan gadis yang ada di depannya itu.


"Mbak ini bajunya, mau saya bantu pakaikan atau mbak mau pakai sendiri?" tawar sang gadis.


Aku hanya terdiam menatap baju yang tadi di tawarkan padaku, Aku juga menatap lekat ke arah gadis yang entah siapa namanya.

__ADS_1


"Kenapa Mbak?" tanya sang gadis yang terlihat bingung melihatku terdiam menatap ke arahnya.


"Nama kami siapa dan apa tugasmu?" tanya Arum spontan.


"Oh ya sampai lupa, kenalin nama Aku Mita dan tugasku membantu Mbak Arum berganti baju juga merias Mbak," jawab Mita.


"Oh," satu kata singkat yang keluar dari mulut Arum yang kemudian melenggang pergi menuju ruang ganti yang hanya di sekat dengan tirai.


Proses merias dan berganti baju membutuhkan waktu yang cukup banyak hingga jam menunjukkan pukul lima belas lewat tiga puluh menit, Arum yang sudah siap dan selesai di rias keluar dari mobil box yang tadi dia masuki.


Semua mata tertuju pada Arum yang kini terlihat begitu cantik, gaun putih yang melekat di tubuhnya memberi kesan anggun di tambah dengan riasan wajah yang begitu nampak cantik tapi natural menambah kagum siapapun yang melihatnya.


Hasan yang sejak tadi sibuk memperhatikan kerja fotografer menyiapkan tempat untuk sport foto mulai mengalihkan pandangannya, mata Hasan langsung melebar dan tak berkedip melihat gadis pujaan hatinya kini tampil begitu cantik dengan balutan gaun pengantin di tubuhnya.


'Arum, kamu sungguh cantik rasanya Aku gak rela jika kecantikanmu itu di lihat oleh orang lain, saat ini ingin rasanya Aku memelukmu dan menyembunyikanmu di kamar agar tak ada satu orangpun yang bisa melihat kecantikanmu,' batin Hasan.


"Astaghfirullah," lirih Hasan setelah sadar dengan apa yang dia fikirkan.


"Aneh," lirih Arum.


Acara foto preweeding berjalan dengan lancar, foto bersama yang masih dalam batas normal tanpa pegang tangan atau adegan yang melanggar aturan dalam agama islam pun telah terlewati dengan sempurna.


Kini Hasan dan Arum kembali pulang ke rumah Ummah, menikmati senja di pegunungan dengan secangkir teh dan beberapa biskuit sebagai pendamping, Arum duduk bersama Ummah juga Hasan di teras menatap indahnya langit senja di sore hari dengan pemandangan kebun teh yang begitu luas.


*******


"Arum bangun!" suara Desy mengusik mimpi Arum, semalam Arum kembali ke pesantren cukup larut hampir jam tidur dia baru sampai di pesantren.

__ADS_1


"Lima menit lagi Desy, Aku masih ngantuk," gumam Arum yang masih setia menutup mata.


"Arum ini sudah subuh nanti kamu masbu' dapat hukuman bingung sendiri kamu," ucap Desy yang masih berusaha membangunkan Arum sembari mengguncang tubuhnya.


Dengan malas Desy bangun melangkahkan kaki menuju tempat wudhu' dan menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah. Pagi ini terlewati dengan penuh drama dari yang Arum susah bangun sampai antrian kamar mandi yang begitu panjang membuat Arum merasa jika hari ini lumayan buruk.


"Arum!" suara Huda mengejutkan Arum yang sedang berjalan menuju rumah Hasan.


"Huda, ada apa?" tanya Arum dengan ekspresi wajah bingung melihat Huda yang tiba-tiba ada di belakangnya.


"Apa kamu yakin mau menikah dengan Hasan, dan apa secepat ini kamu lupakan semua yang pernah kita lalui?" Huda yang saat ini terlihat begitu kacau mengajukan pertanyaan yang sebenarnya masih mengganjal di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Apa maksudmu Kak?" tanya Arum yang mulai bingung dengan maksud pertanyaan yang di ajukan oleh Huda.


"Jujur Arum, bagiku semua yang pernah terjadi tak mudah untuk di lupakan begitu saja, dan Aku sungguh tersiksa karenanya." Ujar Huda sambil menundukkan kepala.


"Arum, perasaanku masih sama seperti dulu, dan Aku tak bisa melupakanmu secepat itu. Tolong beri Aku satu alasan agar Aku bisa benar-benar ikhlas dan melupakanmu." Pinta dengan ekspresi wajah yang membuat Arum semakin merasa bersalah.


"Maaf Kak, Aku tak bisa lagi menjadi kekasihmu dan Maaf ini adalah pilihanku, jadi Aku mohon lupakan Aku dan cobalah membuka hati untuk orang lain," ujar Arum.


"Buka hati untuk orang lain?" suara yang sangat Arum kenal terdengar begitu menggelegar membuat keduanya terkejut dan.langsung menoleh ke sumber suara.


"Apa maksud ucapanmu Arum?" sungguh suara itu benar-benar terdengar di saat yang tidak tepat.


"Kak Hasan," lirih Arum melihat Hasan yang sudah ada di depannya.


"Hasan," ucap Huda.

__ADS_1


"Jelaskan apa yang ada apa ini sebenarnya!" titah Hasan dengan wajah merah padam memendam amarah.


"Maaf Kak, Aku akan jelaskan semuanya tapi tidak di sini. Bisakah kita berbicara di dalam rumahmu saja," Arum yanag merasa khawatir jika ada santri yang mendengar apa yang akan diceritakannya, mengajak Hasan dan Huda masuk ke dalam rumah dan akan menjelaskan di sana.


__ADS_2