Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Pijat Bersama Mbok Sum


__ADS_3

Pagi ini Husein berencana pergi ke rumah Zahra untuk membicarakan resepsi pernikahan yang seharusnya akan di laksanakan awal bulan depan, semua persiapan hampir selesai dan tinggal menunggu hari H saja hanya ada beberapa hal yang harus di pastikan lagi termasuk soal gaun yang belum di coba.


"Abi, Umik, aku pamit pergi dulu." Pamit Husein seraya meraih tangan keduanya dan mencium punggung tangannya.


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Umik.


"Aku mau ke rumah Zahra Umik, sebelum Ummah meninggal aku sudah buat janji dengan pemilik butik yang membuat baju pernikahan kami, dan aku tidak bisa langsung membatalkannya karena ada banyak yang antri untuk membuat baju di sana juga." Husein menjawab sekaligus menjelaskan alasannya tak bisa menunda untuk pergi, meski sebenarnya saat ini ada banyak pekerjaan karena hari ini tepat tujuh hari kepergian sang Ummah.


"Baiklah kamu hati-hati di jalan!" sahut Abi Ilzham yang mengerti dengan posisi Husein saat ini.


"Maaf Abi, Umik, Husein akan segera kembali untuk membantu persiapan tahlil nanti malam." Ujar Husein sebelum pergi.


"Kamu tenang saja, Umik memesan semua kebutuhan ke pihak catering jadi nanti tinggal nyiapin tempatnya saja," Umik yang tak ingin anaknya terbebani pun memberitahukan jika semua hidangan dan makanan yang akan di berikan pada para tamu sudah di pesan lewat jasa catering.


"Baiklah Husein berangkat dulu, assalamualaikum," pamit Husein melenggang pergi meninggalkan Umik dan Abi Ilzham yang masih setia duduk di kursi.


"Umik!" kini giliran Hasan yang datang dan menyapa sang Umik.


"Iya, ada apa?" sahit Umik dengan senyum ramahnya.


"Umik, aku dan Arum mau pergi ke pesantren dulu, nanti siang kami akan kembali ke sini." Jawab Hasan membuat Umik sedikit terkejut dan heran, kenapa kedua puteranya ingin pergi semua.


"Kamu ke pesantren mau ngapain, Nak?" tanya Umik heran.


"Aku cuma mau pijet sama Mbok Sum, setelah itu aku kembali ke sini. Biar nanti siang bisa segar dan kembali bersemangat saat membantu Umik dan Abi untuk persiapan nanti malam." Jawab Hasan.


Bersamaan dengan itu Arum juga datang menghampiri Hasan yang duduk berhadapan dengan Abi dan Umik.

__ADS_1


"Apa Arum juga ikut bersamamu?" tanya Umik.


"Ikut ke mana Umik?" Arum yang tak mengerti dengan pertanyaan Umik karena dia baru saja datang kembali bertanya.


"Kata Hasan dia ingin ke pesantren untuk di pijat, apa kamu ingin ikut juga?" Umik menjelaskan maksud dari pertanyaan yang Umik lontarkan.


"Apa boleh Umik? jika aku ikut bersama Kak Hasan untuk pergi ke pesantren?" dengan hati-hati Arum bertanya pada Umik.


"Boleh, tapi kalian harus ingat nanti harus pulang setelah sholat dzuhur." Umik mengizinkan keduanya tapi dengan syarat mereka harus segera kembali untuk membantu mempersiapkan acara nanti malam.


"Baik Umik, kami akan pulang nanti." Ucap Hasan .


Arum dan Hasan berjalan keluar rumah setelah berpamitan dan mencium punggung tangan Abi dan Umiknya.


"Abi, apa tidak sebaiknya kita tunda dulu ke pesantren? kita bantu Umik dan Abi, besok baru kita pergi." Arum yang merasa tak enak hati karena harus pergi meninggalkan Umik dan Abi saat ini yang sedang mempersiapkan acara tahlil akhirnya bertanya pada Hasan sang suami.


"Kenapa harus di tunda?" bukannya menjawab Hasan malah balik bertanya.


"Kamu tenang saja, untuk persiapan nanti malam sudah di pesan lewat catering, tinggal nyiapin tempatnya saja." Hasan memberitahu jika Umik tidak serepot yang dia fikirkan.


"Alhamdulillah jika begitu," sahut Arum yang kini terlihat lebih tenang.


Perjalanan menuju pesantren cukup memakan waktu lama hingga Arum kembali tertidur, sungguh saat ini dia benar-benar lelah hingga kembali tertidur padahal dia baru saja bangun.


Hasan yang melirik Arum kembali terlelap membuat Hasan semakin merasa bersalah, Arum terlihat begitu lelah karena membantu sang Umik untuk menerima tamu dan mempersiapkan acara tahlil yang sudah berlangsung selama enam hari.


Perlahan tangan Hasan mendarat lembut di ujung kepala Arum, mengusapnya pelan mencoba menyalurkan segala rasa yang dia punya tanpa mengalihkan pandangannya yang masih menyetir, Hasan melakukannya dengan durasi yang singkat karena harus kembali fokus menatap jalan. Hingga mobil sampai di halaman pesantren Arum masih saja terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Syei', bangun! kita sudah sampai di pesantren." Perlahan Hasan membangunkan Arum.


"Emmm, maaf Bi, aku ketiduran ya?" sahut Arum menjawab panggilan Hasan dengan mata yang masih tertutup.


"Tidak apa-apa, lebih baik kamu turun dulu! tidurnya di lanjutin di rumah." tutur Hasan dengan nada lembut.


Arum yang mendengar penuturan Hasan langsung membuka mata dan keluar dari mobil. Berjalan pelan menuju rumahnya.


"Abi, apa Mbok Sum jadi mijet kita?" tanya Arum sebelum langkahnya terlalu jauh dari Hasan.


"Kamu tunggu saja di rumah! biar aku yang menjemput Mbok Sum." Jawab Hasan yang langsung di turuti oleh Arum.


Mbok Sum adalah tukang pijat langganan keluarga Hasan sejak Hasan kecil hingga dewasa seperti sekarang Mbok Sum lah yang selalu memijatnya jika Hasan sakut atau tak enak badan, meski umurnya sudah tak muda lagi tapi beliau masih kuat untuk memijat.


"Assalamualaikum, Neng," ucap Mbok Sum yang baru saja sampai di rumah Hasan.


"Mbok Sum sudah datang," sambut Arum uang sejak tadi hanya rebahan di depan televisi mencoba menikmati setiap rasa lelah yang menjalar di tubuhnya, awalnya dia ingin melanjutkan tidur tapi niatnya urung di laksanakan karena rasa kantuk yang tadi menyerang kini hilang entah ke mana.


"Neng, jadi di pijat sekarang atau Mas Hasan dulu?" tanya Mbok Sum.


"Biar istri saya dulu yang di pijat Mbok, saya belakangan saja," sahut Hasan yang baru saja masuk dengan membawa satu botol kecil minyak urut di tangannya.


"Abi mau ke mana?" tanya Arum heran melihat Hasan pergi masuk ke dalam rumah setelah memberikan minyak gosok yang tadi dia bawa pada Mbok Sum.


"Aku mau buat kopi di dapur." Jawab Hasan.


"Biar aku yang buatin Bi." Ujar Arum.

__ADS_1


"Kamu pijat saja. Abi buat sendiri," tolak Hasan yang tak ingin merepotkan sang istri, sedang Arum yang mendapat penolakan kembali bersiap untuk di pijat.


Sebenarnya Hasan tak hanya membuat kopi di dapur, tapi dia juga memasak makanan untuk mereka makan setelah di pijat nanti, Hasan yakin jika mereka sudah kembali ke rumah Ummah maka keduanya akan sibuk dan tak memiliki waktu meski hanya sekedar mengisi perut mengingat ada banyak pekerjaan yang akan mereka selesaikan nanti membuat Hasan berinisiatif memasak untuknya dan Arum.


__ADS_2