
Arum menuruti apa yang di perintahkan Hasan untuknya, dia berfikir jika dirinya juga butuh berendam untuk menghilangkan segala rasa sakit yang terasa akibat pertempuran semalam.
"Auuu," rintihnya saat badannya baru saja masuk ke dalam air hangat yanh sudah di siapkan oleh Hasan. Tapi rasa sakit itu kini sudah sedikit berkurang setelah rasa hangat dan rileks mulai di rasakan oleh Arum.
Cukup lama Arum berendam di dalam kamar mandi hingga dia merasa sedikut lebih bugar dan rasa sakit yang tadi dia rasakan kini sudah menghilang.
Hasan yangs ejak tadi menunggun Arum selesai kini sedang membaca wirid setelah sholat sunnah qobliyah.
"Abi sudah sholat?" tanya Arum yang baru saja keluar dati kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.
"Belum Syei', Abi masih menunggumu." Jawaban Hasan membuat senyum Arum mengembang.
"Tunggu aku mau ganti baju dulu ya Bi," ujar Arum mempercepat langkahnya menuju lemari untuk berganti baju kemudian berjalan kembali hendak masuk ke kamar mandi.
"Kamu mau mandi lagi Syei'?" tanya Hasan yang merasa aneh saat Arum hendak kembali ke kamar mandi.
"Aku mau ganti baju Bi." jawab Arum dengan senyum yang mengembang.
"Kenapa gak ganti di sini aja? lagi pula Abi sudah lihat semuanya," ujar Hasan membuat Arum tersipu malu karenanya.
"Kalau Abi lihat lagi nanti gak jadi sholat malah main bola Bi," seru Arum kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedang Hasan hanya tertawa pelan mendengar ucapan Arum yang mungkin benar.
Malam indah benar-benar telah berlalu, kini Arum dan Hasan telah menjadi suami istri seutuhnya.
Arum berjalan keluar meninggalkan Hasan yang kini fokus menatap laptop kesayangannya. Mengecek beberapa email yang sudah masuk, beberapa hari ini Hasan tak membuak email sama sekali karena demam yang tiba-tiba hinggap di tubuhnya membuat banyak pekerjaan yang tertunda.
Sedangkan Arum berjalan keluar kamar menuju dapur membuatkan kopi dan susu hangat untuk suami serta dirinya sendiri.
"Pagi Non!" sapa seorang Bibik yang terlihat sibuk membersihkan dapur dan memasak untuk sarapan sang pemilik rumah.
"Pagi, Bik," sahut Arum dengan senyum yang terlihat begitu manis pagi ini.
__ADS_1
"Ada yang bisa Bibik bantu, Non?" tawar sang Bibik saat melihat sang majikan datang ke dapur di pagi buta seprti saat ini.
"Tidak ada Bik, Arum hanya mau buat kopi sama susu." Jawab Arum membuat sang Bibik memundurkan badan kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Dengan semangat dan hati di penuhi bunga-bunga Arum membuat secangkir kopi dan segelas susu sapi asli untuk dirinya dan sang suami.
"Bibik!" panggil Arum yangs ejak tadi celingukan mencari biskuit favorit yang biasanya dia makan bersama susu. Entah mengapa pagi ini dia merasa lapar dan ingin memakan biskuit favoritenya untuk mengganjal perutnya.
"Iya, Non," sahut Bibik langsung berjalan mendekat ke arah Arum.
"Biskuit favoritku yang biasa aku simpan di lemari ini mana Bik?" tanya Arum.
Biasanya Arum menyimpan biskuit favoritnya di dalam toples dan menaruhnya di lemari kecil tempat menyimpan barang yang berada di atas tempat cuci piring.
"Oh biskuit Non Arum semalem di ambil oleh Den Steve, sebentar Bibik periksa dulu masih ada atu tidak." Pamit sang Bibik berjalan menjauh menuju ruang keluarga di mana semalam Steve terlihat.
"Ishhh kebiasaan Kakak suka ambil biskuitku, sudah tua juga tapi masih aja suka serobot seenaknya," gerutu Arum yang sedikit jengkel dengan Steve yang tak pernah berubah, sejak kecil Steve memang suka sekali menggoda sang adik menghabiskan makanan yang menjafi makanan favoritenya.
"Non, biskuitnya tinggal setengah," ujar Sang Bibik menaruh biskuit yang dia bawa tepat di atas nampan di sebelah minuman yang sudah Arum siapkan.
"Terima kasih, Bik," sahut Arum sembari melenggang pergi meninggalkan Bibik yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Abi!" panggil Arum dengan nada lembut selembut sutra.
Hasan saat ini sefang serius menatap laptopnya di atas kursi yang tersedia di balkon kamar. Pemandangan pagi ini begitu cerah nan indah membuat siapapun betah untuk menghabiskan waktu berlama-lama di balkon kamar.
"Wah lengkap sekali Syei'," sahut Hasan sambil mengalihkan pandangannya yang semula menatap laptop kini beralih melihat Arum yang sedang duduk di sampingnya membuka toples biskuit yang dia bawa tadi.
"Aku tiba-tiba lapar Bi, jadi aku ambil buskuit ini untuk mengganjal perutku.
Hasan yang mengertipenyebab laparnya Arum di pagi hari hanya tersenyum sambil mengusap pelan kepala Arum yang tertutup rapi oleh kerudung.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu ikut Abi ke Taman kota?" usul Hasan.
"Mau ngapain pagi-pagi ke taman kota Bi?" tanya Arum.
"Kita jalan-jalan sambil nyari makan." Jawab Hasan membuat Arum bingung, pasalnya setahu dia di Taman kota pagi hari hanya ada orang-orang yang sedang olahraga dan satu stand penjual minum.
"Sudah ikut Abi aja, di jamin kamu gak bakal nyesel," Hasan mencoba meyakinkan Arum untuk ikut bersamanya.
"Aku mau ikut, tapi habiskan dulu minumannya!" titah Arum yang merasa akan sia-sia pergi ke dapur jika minuman yang dia buat tak di minum.
Hasan yang mengerti maksud dari Arum langsung meminum kopi yang untungnya tak terlalu panas itu dalam sekejab.
"Kopinya manis seperti orangnya," ujar Hasan sambil mendaratkan ciuman ringan di pipi Arum membuat sang empu terkejut karenanya.
"Ishhh curang!" cicit Arum.
"Sudah halah Syei', lagian pahala juga kan sayang kalau gak di kerjakan," jawab Hasan membuat Arum menggeleng heran.
"Abi ganti baju sama manasin mobil dulu. nanti kamu langsung nyusul ke halaman aja." Ucap Hasan yang di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Arum yang sedang asyik menikmati susu sapi favoritnya.
"Ayo jalan Bi!" ajak Arum yang kini sudah siap dengan baju muslimah dengan model terkini, Arum terlihat begitu masih muda dan cantik.
"Cepet amat Syei'?" sahut Hasan yang baru saja menyalakan mesin mobilnya.
"Jalan-jalan pertama kita setelah menikah, jadi aku gak mau berlama-lama, lagi pula kalau terlalu siang Tamankota akan terasa panas Bi," jawaban Arum memvuat Hasan tersenyum senang karena melihat semangat serta senyuman Arum di pagi hari.
Perjalanan menuju Taman kota terasa begitu cepat bagi pasangan pengantin baru yang ingin menikmati pagi pertama mereka setelah menjadi suami istri seutuhnya.
"Wahhh ramai sekali Bi," seru Arum dengan mata berbinar menatap keluar jendela.
Suasana Taman kota sekarang dan dulu sebelum Arum pergi ke luar negeri terlihat jauh berbeda. Kini Taman kota yang dulu hanya ada orang yang berolah raga dan satu kios kini terlihat lebih ramai dengan berbagai pedagang makanan yang tersedia di pinggir jalan. Pengunjungnya juga jauh lebih banyak dari pada dulu, senyum Arum terus mengembang dengan mata berbinar memvuat Hasan merasa bahagia karenanya.
__ADS_1