
Umik langsung melenggang pergi keluar dari ruangan di mana Arum melahirkan. Dia meraih ponsel yang tersimpan rapi di saku jubahnya dan mulai menekan beberapa tombol di sana. Umik memberi kabar pada semua anggota keluarga yang lain termasuk Bunda Fia, Umik juga menelfon Hana agar segera pergi ke pasar bersama salah satu santri Putera yang biasa membantunya dan menyiapkan acara tasyakuran untuk menyambut kehadiran cucu pertamanya.
Semua keluarga berkumpul untuk merayakan kelahiran cucu Umik, dengan acara adat yang biasa di lakukan dan lusa Umik berencana mengadakan acara santunan untuk para anak yatim bersamaan dengan kedatangan keluarga Arum.
Sungguh kehidupan Arum dan Hasan semakin lengkap dengan kehadiran baby girl di antara mereka, begitu juga dengan Husein yang kini juga tengah menantikan kelahiran anak pertamanya, akhir kisah si kembar yang menemukan kebahagiaan masing-masing setelah perjalan panjang yang mereka alami.
~
Jika Hasan dan Husein sudah menemukan kebahagiaan dengan pasangan mereka masing-masing sangat berbeda dengan Huda yang masih memulai perjalanan cintanya.
Setelah cukup lama Huda dan Desy terpisah oleh jarak dan waktu, kini sudah tiba saatnya Huda kembali pulang setelah resmi menjadi sarjana dengan nilai yang cukup memuaskan, rencananya lusa Huda akan kembali ke indonesia setelah acara wisuda yang di adakan di kampusnya, Arif dan Imah kini juga sedang berada di Australia untuk menyaksikan hari kelulusan Puteranya. Tapi kabar ini masih di rahasiakan dari Desy karena Huda ingin memberikan kejutan pada calon istrinya itu.
Bukan hanya kabar kembalinya Huda ke indonesia yang di rahasiakan olehnya, tapi pertunangan yang telah terjalin juga masih di rahasiakan dari Desy.
"Desy!" panggil Shinta saat melihat Desy duduk termenung sendirian di Aula belakang asrama.
"Hmmm," sahut Desy malas.
"Ada ayah dan Ibumu di balai, sejak tadi nama kamu di sebut, tapi kamunya gak dateng-dateng," tutur Shinta saat melihat Desy hanya diam di Aula, padahal sejak tadi namanya susah di panggil beberapa kali.
"Kamu gak lagu bercanda Kan, Shin?" tanya Desy seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Shinta sang sahabat.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kamu fikir aku youtuber yang suka bikin prank, ahh sudahlah, kalau kamu gak percaya terserah aku pergi dulu." Shinta langsung berjalan cepat meninggalkan Desy yang masih setia duduk di Aula.
Desy masih saja duduk hingga dia menyadari jika saat ini memang sudah waktunya untuk di kirim, setelah menyadarinya Desy langsung berjalan dengan langkah lebar menuju balai untuk menemui kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu!" panggil Desy saat melihat kedua orang tuanya sudah duduk manis di kursi ruang tunggu di balai pengiriman khusus putri.
"Desy, kemarilah!" panggil Ibu Desy.
Tiga hari yang lalu orang tua Desy sudah mendapat kabar jika Huda sang calon menantu akan segera pulang dan kedua orang tua Desy merasa memiliki kewajiban untuk memberitahukan pada putri mereka tentang pertunangan rahasia dan rencana pernikahan yang sudah di rencanakan seminggu setelah hari kelulusan sang Putri, Desy sudah melewati masa-masa sulit ujian dan sekarang tinggal menunggu pengumuman dan acara wisuda saja.
Meski orang tua Desy berniat untuk memberitahukan Desy tentang rencana pernikahan yang sudah di rancang, tapi orang tua Desy masih tetap belum bisa memberitahukan siapa calonnya, lagi-lagi semuanya di lakukan atas permintaan Huda, dia berpesan agar orang tua Desy tetap merahasiakan semuanya sampai waktunya tiba.
"Kami cukup lama di sini, kamu ke mana saja sampai baru keluar, Nak?" sahut sang Ibu yang juga melempar pertanyaan pada Desy.
"Maaf Bu, tadi Desy sedang duduk di Aula belakang, jasi tidak dengar kalau Ibu dan Ayah sedang menungguku," jawab Desy jujur.
"Sudah tidak apa-apa, lebih baik duduk saja di sini!" kali ini Ayah Salman yang memberi perintah sambil menepuk kursi di antara keduanya.
Desy yang mendengar permintaan sang Ayah langsung duduk di antara keduanya tanpa membalas ucapannya lagi. Bagi Desy saat-saat seperti ini adalah saat paling membahagiakan baginya, Desy yang sejak dua tahun lalu sudah sepakat mendapat satu kali kunjungan dalam satu bulan terkadang merasa begitu rindu dengan kebersamaan seperti sekarang ini, apalagi jika sang Adik cantik Vina juga ikut datang dan berkunjung, Desy pasti merasa jauh lebih bahagia.
"Nak, setelah lulus sekolah apa rencanamu?" tanya Sang Ayah.
__ADS_1
"Desy berniat untuk bekerja mengamalkan apa yang telah Desy pelajari di sini Ayah, kalau bisa sambil cari uang tambahan untuk membantu ekonomi keluarga kita," jawab Desy jujur, dia memang selalu punya keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuanya, jika dia tidak mampu setidaknya dia ingin membantu keuangan keluarganya.
"Jika kami memintamu untuk langsung menikah, bagaimana? apa kamu setuju?" kali ini Ibu Desy yang mengajukan pertanyaan itu.
"Apa Ibu? menikah?" sahut Desy dengan ekspresi terkejutnya, fikiran Desy langsung tertuju pada Huda yang entah kapan kembali, meski Desy sudah menghitung jika bulan ini tepat satu tahun kepergian Huda dan harusnya dia sudah kembali, tapi Desy masih belum tahu dengan pasti kapan Huda akan kembali karena Huda memang sengaja merahasiakan segalanya.
Entah mengapa Huda tak mau jujur dan mengatakan segalanya agar semuanya jauh lebih mudah.
"Iya, Nak, apa kamu keberatan jika kami memintamu untuk langsung menikah seminggu setelah lulus nanti?" Ayah Desy kembali bertanya.
"Memangnya Ayah dan Ibu sudah punya calon untuk Desy?" meski sangat berat, tapi Desy harus tetap menghormati apapun keputusan kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, sebenarnya selama ini apa yang kamu terima termasuk cincin yang kamu pakai itu adalah tanda jika calon suamimu itu sudah mengikatmu," Ibu Desy mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Desy.
"Jadi cincin ini?" pertanyaan Desy tergantung sambil menunjuk ke arah Cincin berlian yang dia pakai.
"Iya, cincin itu dari calon suamimu, dia juga memakai cincin yang hampir sama denganmu, tapi bukan dari emas melainkan dari titanium, bentuknya memang polos, tapi terdapat ukiran namamu di tengahnya." Ibu Desy menjelaskan pasal cincin yang di pakai sang putri.
Desy yang mendengar penjelasan Sang Ibu hanya bisa diam sambil menundukkan kepala, bagaimana dia bisa menerima permintaan kedua orang tuanya jika saat ini hatinya masih saja menunggu Huda, meski dia tahu dengan pasti jika Huda tak menjanjikan apapun padanya.
"Kamu kenapa, Nak? apa kamu keberatan dengan permintaan kami?" Ibu Desy kembali bertanya saat melihat reaksi sng putri yang terlihat murung setelah mendengar penuturannya.
__ADS_1