Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Dasar Pengantin Baru


__ADS_3

Pandangan mata Arum tak sedikitpun teralihkan dari deretan makanan khas yang jarang sekali dia temui di luar negeri maupun di pesantren, hanya beberapa makanan saja yang sama seperti makanan yang di jual di pesantren.


Arum terus saja menatap satu persatu menu makanan yang berjejer rapi di tepi jalan, ada banyak menu hingga membuat Arum bingung.


"Kamu kenapa Syei'?" tanya Hasan yang bingung melihat Arum hanya diam memperhatikan makanan yang di jual di pinggir jalan tanpa berbicara sepatah katapun.


"Menu makanannya banyak banget Bi, aku jadi bingung pengen makan yang mana?" jawab Arum tanpa menoleh ke arah Hasan. Dia masih fokus menatap setiap penjual makanan yang ada di pinggir jalan.


"Jangan terburu-buru memilih! tenang saja, kamu masih biaa memilih nanti sambil kita terus jalan." Ujar Hasan sambil menggandeng tangan Arum berjalan menyusuri jalanan khusus untuk pejalan kaki dan orang-orang yang biasa jogging di sana.


"Abi, lihat ada permen kapas juga!" Arum menunjukkan penjual permen kapas makanan favoritenya saat dia masih kecil.


"Kenapa? kamu mau beli?" tanya Hasan.


"Apa boleh?" tanya Arum.


Tanpa menjawab pertanyaan Arum, Hasan langsung mengajak Arum berjalan ke arah penjual permen kapas yang terlihat menggiurkan.


"Pak permennya satu!" Ujar Hasan memesan satu permen kapas untuk istrinya.


"Ini, Mas," satu permen kapan di berikan pada Hasan setelah membayar keduanya kembalu berjalan.


"Abi aku laper kita beli tahu campur itu dulu yuk buat sarapan." Ajak Arum menarik tangan Hasan agar mengikuti langkahnya.


Tahu campur lamongan yang begitu terkenal kini sudah ada di depan mata, Arum yang cukup lama tak menikmatinya merasa begitu sedang, dengan lahapnya Arum memakan tahu campur yang telah di pesan hingga tandas tak tersisa.


"Apa kamu mau nambah lagi?" tawar Hasan yang melihat betapa lahapnya Arum menghabiskan satu porsi tahu campur.


"Tidak Bi, aku sudah kenyang," tolak Arum karena perutnya kini terasa benar-benar kenyang.


Pagi yang indah untuk pasangan yang baru menikah, Arum dan Hasan kini menikmati suasana taman kota yang terasa begitu ramai dengan banyaknya pengunjung yang datang.


Drrrtttrrttt ... drdrrrtttt ....


Getaran ponsel terasa dari kantong abaya yang di pakai oleh Arum membuat sang empu merasa terganggu karenanya.

__ADS_1


"Ada apa Syei'?" tanya Hasan yang merasa penasaran dengan ekspresi wajah Arum yang bingung.


"Kak Huda telfon Bi," jawab Arum membuat Hasan langsung sigap mengambil ponsel dari tangan Arum dan mengangkatnya.


"Ada apa?" tanpa basa basi ataupun salam Hasan langsung menanyakan niat Huda menghubungi nomor Arum yang kini sudah sah menjadi miliknya seutuhnya.


"Assalamualaikum, salam dulu kali," tegur Huda yang begitu memahami sifat sang adek sepupunya langsung menegur ucapan Hasan.


"Waalaikum salam, ada apa Kak?" Hasan yang mendengar teguran dari Huda langsung memperbaiki ucapannya.


"Kamu ke mana aja? dari tadi di telfonin gak di angkat-angkat?" Huda balik bertanya.


"Aku lagi jalan-jalan sama istriku Kak, memangnya ada apa? apa ada masalah?" jawab Hasan santai tanpa ada rasa bersalah atau perasaan tak enak lainnya.


"Astaghfirullah, dasar pengantin baru! kamu lupa kalau nanti sore acara resepsi di pesantren? harusnya pagi ini kamu pulang bareng Arum buat siap-siap dan nemuin tamu Abi juga Umik. Issh kamu ini dasar ya! cepet pulang!! Umik udah nungguin dari tadi." Huda yang mendengar jawaban santai Hasan tak bis lagi menahan emosinya, bagaimana tidak emosi sejak subuh Huda sudah sibuk membantu menyiapkan acara resepsi Hasan hingga dia belum sempat sarapan sampai saat ini, tapi sang mempelai malah asyik jalan-jalan.


"Astaghfirullah sorry Kak, aku lupa," ucap Hasan sambil menepuk jidatnya pelan.


"Tunggu aku Kak! satu jam lagi aku pulang." Sambung Hasan kemudian mematikan sambungan telfonnya tanpa mengucapkan salam karena dia lup.


"Abi lupa kalau kemarin Umik berpesan kita di suruh ke pesantren pagi, soalnya tamu Abi dan Umik datang sejak pagi," jawab Hasan membuat Arum bingung kenapa Hasan bisa lupa dengan pesan penting dari sang Umik, padahal biasanya dia akan selalu ingat dengan pesan yang Umik berikan.


"Tumben Abi lupa? biasanya selalu ingat," ucap Arum sambil berjalan menuju mobil untuk segera pulang.


"Ini gara-gara kamu Syei'," jawab Hasan membuat Arum semakin bingung.


"Kok gara-gara aku sih Bi," keluh Arum yang tak mau di salahkan.


"Iya, gara-gara berada di dekatmu aku jadi lupa segalanya," jawaban Hasan membuat Arum merasa jengah.


"Bi ini bukan waktunya menggombal, lebih baik sekarang kita cepat kembali ke mension terus ke pesantren. Kasihan Umik, beliau pasti nungguin kita." Arum yang tak ingin lagi mendengar gombalan Hasan kembali mengingatkannya jika saat ini keduanya harus segera pulang.


"Baiklah, pegangan yang kuat kita meluncur." ucap Hasan membuat Arum bingung dengan maksud dari ucapan Hasan.


Tapi saat mobil melaju barulah Arum mengerti kenapa Hasan menyuruhnya untuk berpeganga yang kuat. Hasan melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi hingga memvuat Arum ketakutan.

__ADS_1


"Abi, pelan-pelan!" ujar Arum dengan ekspresi ketakutan.


"Maaf Syei'," sahut Hasan dengan ekspresi penuh penyesalan.


Perlahan Hasan mengurangi kecepatan laju mobilnya, meliht Arum ketakutan membuatnya sadar jika saat ini dirinya tak sendiri di dalam mobil.


"Assalamualaikum," ucap Hasan dan Arum hampir bersamaan.


"Waalaikum salam, masya Allah kalian dari mana saja?" seloroh Bunda yng sejak tadi sudah mencari Hasan dan Arum ke penjuru mension tapi hasilnya nihil keduanya tak terlihat.


"Maaf Bunda, kami tidak izin dulu sebelumnya," ucap Arum penuh penyesalan.


"Sudahlah, lain kali kalau mau pergi bilang dulu! Bunda sampai pusing nyari kalian. Sejak tadi Umikmu terus saja menelfon, jadi lebih baik kalian siap-siap dan langsung ke pesantren saja." Tutur Umik yang di angguki oleh keduanya.


Arum dan Hasan pergi menuju pesantren menemui Umik.


"Abi pelan-pelan saja jalannya." Pinta Arum sesaat setelah masuk ke dalam mobil.


"Tenang Syei', tadi Abi khilaf dan gak bakal ngulangi lagi kok," jawab Hasan lembut.


Sepanjang perjalanan Arum dan saling diam tanpa ada yang bersuara, Hasan fokus menyetir sedang Arum tidur lelap berkelana dalam dunia mimpi.


"Syei', bangun!" Hasan menggoyang bahu Arum yang masih saja terlelap tanpa terusik dengan guncangan yang dia dapatkan.


"Syei' kita sudah sampai, bangunlah!" Hasan mencoba membangunkan Arum lagi. Kali ini dengan suara dan guncangan sedikit lebih keras.


"Emmm, udah sampai ya Bi," sahut Arum sambil menggeliat pelan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Sudah, bangunlah!" jawab Hasan.


"Loh Abi bawa apa itu?" tanya Arum yang penasaran dengan apa yang di bawa oleh Hasan, pasalnya tadi Arum tak merasa membawa apapun dari rumahnya.


"Tadi aku mampir di tokoh kue dulu pas kamu masih tidur," jawab Hasan.


"Ini sogokan biar Umik tidak marah karena kita gak segera pulang," bisik Hasan

__ADS_1


__ADS_2