
Husein mencoba memulai hidup baru mencari cinta yang baru untuk melupakan Arum yang memang bukan takdirnya, memang bebar apa yang di katakan banyak orang bahwa cinta yang telah kandas hanya bisa di lupakan dengan cinta yang baru, meski membutuhkan waktu yang terpenting adalah Husein dapat bertahan juga bangkit dari masa lalu yang cukup menyakitkan.
"Husein," panggil Umik yang baru saja keluar dari kamar, tak sengaja Umik melihat Husein yang baru saja pulang setelah beberapa waktu pergi untuk mengurus bisnis barunya.
"Iya, Umik," sahut Husein meraih tangannya kemudian mencium punggung tangan Umik.
"Kapan kamu pulang, Nak?" tanya Umik.
"Husein baru saja sampai Umik," jawab Husein dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
"Duduklah dulu!" titah Umik.
Meski terkenal sengklek dan sedikit selengek'an tapi Husein pintar menempatkan diri, dia akan menjadi seorang anak yang manis dan penurut di waktu yang tepat.
"Ada apa Umik?" tanya Husein.
"Bagaimana usahamu di luar kota?" sebenarnya ada setumpuk perasaan khawatir yang tumbuh di hati Umik saat Husein berpamitan pergi untuk mengurus usaha barunya yang ada di luar kota mengingat jika saat itu Husein sedang patah hati, tapi setelah melihat Husein pulang dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya membuat Umik bernafas lega.
"Alhamdulillah usaha Husein di luar kota lancar Umik," jawab Husein.
"Alhamdulillah, kamu sudah makan Nak?" Umik kembali melempar pertanyaan pada Husein.
"Sudah Umik," Husein kembali menjawab dengan senyum manis yang dia tunjukkan membuat Umik semakin yakin jika puteranya ini baik-baik saja.
"Umik, Husein mau istirahat ke kamar dulu." Pamit Husein.
"Yasudah istirahatlah Nak!" ucap Umik dengan ekspresi wajah lega.
Akhirnya masalah yang dia khawatirkan akan berbuntut panjang dan besar kini telah terlewati, kedua putra kembarnya begitu dewasa dalam menyikapi persaingan yang terjadi. Husein yang memiliki sifat sengklek ternyata bisa bijaksana dan mengalah pada Kakaknya, mengikhlaskan Arum untuk Hasan tanpa harus bertengkar ataupun berselisih.
__ADS_1
Seutas senyum terbit di bibir Umik, betapa bahagianya dia karena apa yang telah dia rencanakan sejak dulu hampir tercapai, Umik selalu berdo'a agar Hasan bahagia bersama dengan Arum dan Husein bisa menemukan cinta dan jodoh yang sama baiknya dengan Arum.
Hari semakin larut matahari yang sejak tadi berada di langit kini benar-benar tak terlihat hingga kegelapan menguasai langit, semua makhluk telah mengistirahatkan diri agar merasa kembali segar untuk melakukan aktifitas di hari esok.
Suara adzan kini telah berkumandang setelah malam yang panjang, mengusik tidur lelap mereka yang berada di sekitar masjid.
Seperti hari-hari sebelumnya Arum memulai hari dengan air wudhu' juga sholat berjamaah, setelah itu dia pergi ke rumah Umik karena hari ini dia sudah memiliki janji untuk masak bersama Umik sang calon mertua.
"Arum apa kamu mau langsung ke ndalem Umik atau ngaji dulu?" tanya Desy yang sedang mengambil kitab juga bulpoin.
"Sepertinya hari ini Aku libur gak ngaji dulu, karena kemarin Aku sudah janji akan langsung ke rumah Umik setelah sholat subuh." Jawab Arum sembari menyimpan mukenah yang baru selesai dia lipat.
"Baiklah kalau begitu Aku berangkat dulu." Pamit Desy yang langsung keluar bersama dengan Sinta yang sejak tadi sibuk mencari bulpen dan baru ketemu.
Kini tinggallah Arum sendiri di kamar semua anggota kamar telah pergi untuk mengaji.
Meski sudah subuh tapi hari masih gelap mungkin tertutup mendung yang membuat suasana setelah subuh saat ini terasa masih malam karena gelap.
Arum melangkahkan kakinya keluar kamar menuju rumah Umik untuk menepati janjinya memasak bersama Umik.
"Assalamualaikum Umik," ucap Arum mengintip ke dalam rumah dari pintu yang terbuka sedikit.
"Waalaikum salam, masuklah Mbak!" sahut Hana sembari membuka lebar pintu yang tadinya terbuka sedikit.
"Mbak Hana apa Umik ada?" tanya Arum yang melihat keadaan di sekitarnya begitu sepi.
"Umik baru saja masuk ke kamar Mbak, apa mau saya panggilkan?" jawab Hana.
"Tidak usah Mbak, saya ke sini karena sudah janjian mau masak bareng, apa saya balik ke asrama dulu saja ya?" Arum menanyakan apa yang harus dia lakukan saat ini pada Hana.
__ADS_1
"Mbak Arum mau bantuin masak?" bukannya menjawab pertanyaan Arum Hana malah balik bertanya.
"Iya Mbak," jawab Arum dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya
"Kalau begitu ayo kita ke dapur! sebentar lagi Umik juga bakal nyusul ke dapur." Ajak Hana yang langsung di angguki oleh Arum.
Keduanya berjalan beriringan menuju dapur dan mulai menyiapkan bahan yang akan mereka masak.
"Hari ini kuta mau masak apa Mbak?" tanya Arum.
"Hari ini kita masak orek tempe, sop ayam sama cumi asem manis dan tempe goreng juga sambal terasi sebagai pelengkap," jawab Hana.
"Kok banyak banget Mbak masaknya?" tanya Arum yang melihat betapa banyaknya bahan masakan yang ada di hadapannya saat ini.
"Hari ini Umik mau buat makanan spesial, katanya orek tempe dan tempe goreng itu makanan kesukaan Mbak Arum, terus cumi asam manis makanan kesukaan Mas Hasan dan sop Ayam makanan kesukaan Mas Husein," Hana menhelaskan semua menu yang ada di hadapannya saat ini adalah kesukaan ketiga anaknya Umik. Sejak acara pertunangan sudah di lakukan Umik menganggap Arum sudah seperti anaknya sendiri tak ada bedanya dengan Hasan dan Huseim.
"Kak Husein, apa dia sudah pulang?" Arum yang mendengar nama Husein di sebut Arum langsung menanyakannya pada Hana, bagaimanapun juga mereka pernah dekat sebagai teman masa kecil.
"Sudah Mbak," jawab Hana singkat.
Arum hanya manggut-manggut mendengar jawaban Hana, terbesit sebuah harapan dalam dirinya jika saat ini Husein sudah bisa melupakannya dan mencari gadis lain yang jauh lebih baik dari dirinya.
Arum mulai membantu Hana mengupas sayur dan merebus ayam juga memotong-motong tempe, dulu dia jarang sekali membantu sang Bunda si dapur karena terlalu sibuk kuliah dan berkumpul dengan teman-teman komunitasnya, tapi saat ini dia memiliki begitu banyak waktu luang untuk mempelajari setiap hal yang bisa dia pelajari di pesantren.
"Masya Allah, mantu Umik rajin sekali." Suara Umik yang baru masuk ke dalam dapur mengejutkan Arum dan Hana yang sedang asyik memasak.
"Umik," panggil Arum saat melihat Umik berjalan mendekat ke arahnya.
"Sini Umik bantu." Umik mengambil alih tempe dan pisau yang ada di meja dan mulai membantu Arum, sungguh pemandangan indah di pagi hari, melihat seorang haddam, mertua dan menantu terlihat rukun dan harmonis memasak bersama.
__ADS_1