
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Mas Huda?" Arum yang mendengar Desy memanggil Huda dengan sebutan Mas ikut memanggilnya dengan sebutan Mas juga, meski sebelumnya Arum terbiasa memanggil Huda dengan sebutan Kakak tapi saat ini sebutan itu tak bisa dia ungkapkan karena Arum tak ingin Desy tahu jika dirinya pernah mengenal Huda sebelumnya.
"Sudah jawab aja, nanti kalau Aku sudah siap kamu pasti tahu kenapa Aku tanya seperti itu," jawaban Desy membuat sebuah senyum terlihat di wajah Arum, setidaknya Arum tahu jika saat ini ada gadis yang tertarik pada Huda.
"Mas Huda," ucap Arum menerawang melihat ke atas langit yang berhiaskan bintang lengkap dengan bulan yang terlihat bulat sempurna dan sinar yang begitu terang.
"Iya, Mas Huda apa kamu kenal atau menurut kamu gimana orangnya?" Desy terlihat begitu antusias bertanya pada Arum.
"Aku kenal, dia mendapat beasiswa di Australia dan kebetulan Aku satu organisaai sama dia." Jawaban Arum benar-benar membuat Desy langsung berbinar, bagaimana tidak berbinar Desy yang memang memiliki rasa yang tak biasa itu bisa mengenal Huda lewat Arum.
Sedangkan Arum memiliki ide cemerlang untuk mendekatkan keduanya, Arum ingin Huda juga ikut berbahagia bersamaan dengan dirinya yang mulai berusaha menerima Hasan di sisinya.
"Wahh benarkah?" sahut Desy dengan wajah berbinar mendengar jawaban Arumyang bukan hanya mengenal tapi mereka pernah satu organisasi yabg berarti Arum pasti tahu banyak tentang Huda.
"Terus, Huda itu orangnya seperti apa?" sambung Desy yang kembali bertanya.
"Desy, hooaaammm," Arum yang sengaja ingin memancing Desy untuk jujur berpura-pura mengantuk.
"Aku ngantuk banget, ceritanya nanti aja ya," ujar Arum yang sukses membuat Desy langsung mengerucutkan bibir jengkel.
"Isshhh ayolah Arum, ceritalah sedikit saja." Desak Desy sambil menarik baju Arum agar dia mau bercerita.
__ADS_1
"Kalau kamu mau Aku cerita srkarang maka kamu harus jujur!" Arum kembali mendesak Desy untuk mengatakan segalanya.
"Jujur apa si Arum?" Desy berpura-pura tak mengerti arah pembicaraan Arum.
"Kamu harus jujur! kenapa tanya-tanya soal Mas Huda? apa kamu tertarik sama dia?" Arum menatap lekat ke arah Desy meneliti ekspresi wajahnya yang sedikit menerah meski terlihat samar.
"Entahlah, Aku hanya penasaran saja setelah bertemu dengannya tadi," jawsban Desy benar-benar membuat Arum senang, senyuman manis muncul di bibirnya dan apa yang di rencanakannya akan segera dia wujudkan.
"Mas Huda itu laki-laki yang baik, super baik bahkan. Dia begitu sabar dan perhatian juga pengertian, selain itu Mas Hida termasuk dari salah satu laki-laki setia dan siapapun yang akan menjadi jodohnya pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia Aku yakin itu," Arum menatap ke arah langit mengingat setiap hal yang telah dia lalui bersama dengan Huda yang begitumenajga dan menyayanginya juga begitu perhatian padanya.
"Ucapanmu seperti seseorang yang pernah menjalin hubungan yang lebih dekat dari seorang yang saling kenal di organisasi," ucap Desy yang mulai curiga melihat sikap dan kata-kata yang terucap dari bibirnya.
"Dulu Aku sering banget ketemu dia karena satu acara, sedikit banyak Aku jadi tahu sifatnya," jawab Arum santai padahal sebenarnya hati Arum sedang ketar ketir mendengar ucapan Desy.
"Ahh Sudahlah, kuta bicarakan soal Mas Huda nanti, sekarang lebih baik kita tidur dulu sebelum waktu untuk bangun tiba." Ajak Arum yang spontan langsung berdiri berjalan meninggalkan Desy yang masih setia duduk di tempat.
"Hey tunggu!" ujar Desy yang ikut berdiri mengikuti langkah Arum kembali ke kamar untuk sejenak mengistirahatkan badan, sejak Arum dan Desy sering melaksanakan sholat malam keduanya memilih untuk tidur di depan kamar karena tak ingin mengganggu anggita kamar yang lain saat ingin keluar dari kamar di tengah malam.
Berbeda dengan Arum dan Desy yang kembali ke kamar untuk istirahat, Hasan justru berjalan kembali duduk di atas sajadah untuk melanjutkan dzikir juga do'a dengan harapan di lancarkan segala urusannya.
Malam sunyi yang di hiasi suara tasbih dan do'a dari beberapa hamba yang masih membuka mata mengharap terkabulnya sebuah do'a dan pengampunan telah berlalu, berganti cahaya pagi yang membawa sejuta harapan bagi mereka yang tengah memulai sebuah usaha.
__ADS_1
Seutas senyum terlihat menghiasi bibir Hasan, mengingat apa yang di lakukan calon istrinya semalam membuat Hasan begitu bahagia bisa mengikat gadis itu dengan sebuah hubungan yang di sebut pertunangan. Dengan langkah penuh semangat Hasan berjalan menuju ruang makan sang Umik, berharap Arum sudah ada di sana dan Hasan bisa kembali makan bersamanya seperti hari kemarin.
"Assalamualaikum Umik," ucap Hasan sesaat setelah sampai di tuang makan, tapi senyum yang sejak tadi melekat di wajah Hasan perlahan memudar karena gadisyang di harapkan ternyata tak ada di tempatnya.
"Waalaikum salam, duduklah Nak!" titah Umik yang sedang duduk sendirian di kursi meja makan.
"Loh Abi ke mana Umik?" tanya Hasan.
"Abimu sedang di garasi manasin mobil." Jawab Umik sambil memasukkan beberapa menu makanan beserta nasinya ke dalam kotak bekal yang biasa Umik pakai jika ingin bepergian
"Makanannya kok di masukin ke kotak bekal, memangnya Umik mau ke mana?" tanya Hasan yang merasa sedikit bingung dengan apa yang di lakukan oleh Umiknya.
"Hari ini Umik mau ke rumah Ummah." Jawab Umik singkat.
Sebenarnya Umik pergi ke rumah Ummah untuk membicarakan masalah Hasan yang meminta untuk nikah sirri dulu dengan Arum, Umik sudah membuat janji dengan Fia dan Rifki di sana, begitu juga dengan kakak Arum meski pertemuannya sengan keluarga Arum hanya lewat Video call tapi semua keluarga harus ada di sana termasuk Ummah dan Buya yang notabennya kakek juga nenek Hasan.
"Tumben pagi-pagi sudah berangkat, apa semua baik-baik saja Umik? atau ada masalah yang terjadi?" tanya Hasan yang merasa aneh dengan kepergian Umik tiba-tiba di pagi hari.
"Tidak ada masalah Nak, kamu berdo'a saja supaya apa yang kamu harapkan bisa terwujud." Jawaban Umik semakin membuat Hasan bingung, tapi dia tak mau terlalu memaksa sang Umik untuk bercerita.
"Umik, ini sop ayamnya." Suara gadis yang sejak tadi ingin fi dengar oleh Hasan akhirnya terdengar juga.
__ADS_1
"Langsung di taruh di meja saja! Kamu sarapan dulu sebelum kembali ke asrama." Ucap Umik membuat senyum Hasan kembali muncul meski kali ini terlihat samar.