Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Masa Lalu Husein


__ADS_3

"Kamu nyari Umik mau ngomong apa Nak?" tanya Umik saat melihat Husein telah selesai mengoreksi seluruh lembar soal yang sudah di kerjakan oleh para santri.


"Umik, jika Husein meminta Umik untuk meminang Putri Tante Rina kira-kira Umik mau atau enggak?" Husein menjawab pertanyaan Umik dengan sebuah pertanyaan yang dia ungkapkan dengan ekspresi wajah ragu-ragu.


"Umik jelas mau Nak, tapi rencana kamu kapan pinangan itu di laksanakan?" Jawab Umik yang sejujurnya merasa bahagia jika Husein ingin memintanya meminang seorang gadis, apalagi jika gadis yang di inginkan Husein adalah Zahra yang sudah pasti memiliki kepribadian baik.


"Bagaimana kalau awal bulan depan Umik?" usul Husein.


"Awal bulan depan boleh juga, Umik akan mempersiapkan semuanya dan tugasmu hanya mempersiapkan diri! jangan lupa obrolkan masalah pinangan ini pada Zahra." Titah Umik.


"Tentu saja Aku akan mengobrolkannya bersama Zahra nanti." Ujar Hasan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Apa masih ada hal lain yangingin kamu katakan pada Umik, Nak?" melihat Husein terdiam membuat Umik berfikir jika masih ada masalah lain yang ingin diungkapannya.


"Tidak Umik, Husein hanya ingin membicarakan masalah rencana pinangan Husein pada Umik. Setelah ini apa Husein masih perlu mengobrol dengan Abi dan membicarakan masalah ini dengan beliau Umik?" tanya Husein.


"Tidak usah, Nak! biar Umik nanti yang jelaskan semuanya pada Abimu. Lebih baik kamu persiapkan diri saja bagaimana cara mengatakan rencana ini pada Zahra?" Umik yang mengerti jika Husein pasti akan memerlukan iebersnian tinggi untuk mengungkapkan semuanya pada Ilzham.


"Baiklah kalau begitu Husein pergi sulu Umik, assalamualaikum," pamit Husein mencium punggung tangan Umik kemudian melenggang pergi meninggalkan Umik di ruang tamu.


Flashback on


Sejak kecil Husein memang sangat takut pada Abi Ilzham, Husein yang memiliki sifat berbeda dengan Hasan punya kisah buruknya sendiri, puncaknya waktu ikhtibar di pesantren. Semua orang datang termasuk para alumni dan wali santri, saat itu Husein masih berusia enam tahun di usianya yang cukup besar Husein masih saja manja juga jail sangat berbeda dengan Hasan yang pendiam dm mandiri.


'Pranggggg'


Suara pecahan piring terdengar menggema di ruang keluarga, bukan hanya pecahan piring tapi juga darah yang menetes di sana. Husein yang sebenarnya sudah cukup besar untuk mengerti mana yang baik dan buruk menabrak seorang santri yang sedang membantu menjamu tamu.


Santri itu membawa setumpuk piring kotor menuju dapur melewati ruang tamu, tapi naas langkahnya terhenti saat Husein yang sedang berlari menabraknya dari belakang hingga Tumpukan piring itu pecah seketika, sebenarnya bukan piringnya yang jadi masalah tapi kaki sang santri yang terluka karena serpihan piring yang pecah mengenai kakinya.

__ADS_1


"Maaf Mbak," lirih Husein seraya menundukkan kepala, melihat darah yang menetes cukup banyak juga pecahan piring yang berserakan membuat Husein ketakutan hingga badannya pun ikut bergetar takut karenanya.


"Ada apa ini?" suara tegas Ilzham semakin memperburuk keadaan Husein.


"Umik!!" teriak Abi dengan nada yang meninggi.


"Iya Abi," sahut Umik yang langsung berlari cukup kencang meninggalkan ruang tamu. Padahal masih ada banyak tamu yang harusnya tidak dia tinggal.


"Masya Allah, ini kenapa Bi?" tanya Umik sambil memegang pundak sang santri yang diam mematung.


"Sudah jangan banyak tanya, panggil santri yang lain! gendong santri ini! kita bawa ke rumah sakit." Titah ILzham dengan nada tinggi ekspresinya seperti orang yang sedang marah dan khawatir bercampur dengan kesedihan.


"Dan Kamu Husein!" hardik Ilzham menatap Putera kecilnya yang bersalah.


"Maaf Abi," Husein kembali meminta maaf pada Abinya karena Husein tak tahu harus melakukan apa selain minta maaf.


Melihat sang anak yang ketakutan membuat Ilzham mengurungkan niat untuk memarahinya.


Suasana ikhtibar yang awalnya begitu meriah penuh kebahagiaan berubah mencekam dan menakutkan, Hasan yang kala itu berada di kamar langsung keluar dan mencari sang adik setelah mengetahui jika sang adik sedang dalam masalah.


Sejak saat itu Husein begitu takut pada sang Abi hingga sekarang, Husein yang terkenal ramah dan suka bercanda akan berubah pendiam dan penurut saat berada di dekat Ilzham sang Abi, sekalipun Husein tak pernah membantah atau menolak apa yang Abi Ilzham perintah.


Flash back off


"Desy!" panggil Shinta


"Ada apa Shin?" sahut Desy yang sebenarnya akan keluar dari kamar untuk menemui Huda, tapi niatnya di urungkan karena panggilan Shinta.


"Kamu mau ke mana?" tanya Shinta pada Desy.

__ADS_1


"Em, Aku mau ke kantin." Elak Desy yang tak tahu harus menjawab apa.


"Bareng yuk! kebetulan Aku laper belum makan!" ajak Shinta.


Sebenarnya Desy berencana untuk menemui Huda lebih dulu sebelum berangkat ke sekolah. Dan akan makan nanti setelah istirahat sekolah, tapi niatnya di urungkan karena ajakan Shinta.


"Ayuk!" dengan terpaksa Desy ikut Shinta dan mengurungkan niatnya untuk menemui Huda.


"Eh ngomong-ngomong kado kemarin dari siapa?" tanyaShinta di tengah acara makannya.


Desy yang mendengar pertanyaan shinta langsung menghentikan makannya, fikirannya begitu kalut, Desy bingung harus menjawab apa karena tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya jika kado yang dia dapat berasal dari Huda.


"Eh itu dari temen," jawab Desy asal.


"Temen yang mana? bukankah hari ulang tahunmu masih satu bulan lagi?" Shinta yang masih penasaran terus saja mendesak Desy dengan pertanyaan agar dia mau menceritakan yang sebenarnya.


"Sudahlah, lagi pula bukan kado istimewa juga," ujar Desy yang masih enggan untuk bercerita.


"Oh, jadi sekarang kamu main rahasia-rahasiaan sama sahabatmu sendiri, apa kamu gak percaya sama Aku atau kamu udah gak mau sahabatan lagi sama Aku?" ucapan Shinta sungguh menggoyangkan hati Desy yang tadinya kekeh untuk merahasiakan segalanya dari siapapun.


"Bukan begitu Shin, Aku hanya, ha~" ucapan Desy terpotong oleh ucapan shinta.


"Hanya tak percaya padaku, sahabatmu sendiri." Sergah Shinta yang membuat Desy menyerah untuk merahasiakan segalanya.


"Baiklah, sebentar lagi bakal Aku ceritakan, tapi kita habiskan dulu makannya karena Aku tak berniat cerita di sini," menyerah sudah, Desy tak mau kehilangan sahabat hanya karena kado dari seorang laki-laki, sekalipun laki-laki itu adalah Huda.


Keduanya kembali makan menghabiskan makanan yang sudah tersedia di depannya, Shinta yang sejak kemarin menahan rasa penasarannya terlihat begitu lega setelah mendengar Desy yang setuju untuk menceritakan semuanya.


"Kadonya dari siapa Des? kamu punya pacar baru?" Shinta yang tak bisa lagi menahan segala rasa penasarannya langsung bertanya setelah keluar dari kantin.

__ADS_1


"Astaga Shinta sabar donk, entar pasti Aku ceritain. Tapi gak di sini juga kali, cari tempat yang enak buat cerita." Sahut Desy yang sedikit jengkel mendengar Shinta terus mendesaknya.


__ADS_2