
"Masya Allah bagus sekali Oma," cicit Arum.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Oma dengan wajah berbinar.
"Sangat, terima kasih ya Oma," jawab Arum.
Arum memang sangat mengerti bagaimana caranya untuk membuat sang Oma bahagia, suka atau tidak dia akan selalu berterima kasih dan memuji apapun pemberian sang Oma. Bagi Arum memang cucu kesayangan Omanya.
"Kamu terlihat semakin cantik memakai kalung dan cincin ini," cicit Oma.
"Terima kasih, Oma juga semakin cantik dan awet muda," sahut Arum memuji kembali Oma.
"Sudah, istirahat di kamar dulu. Setelah itu baru temui saudara-saudara yang lain." Titah Oma.
"Siap Oma," ujar Arum seraya peegi meninggalkan Oma yang masih diam di tempat.
Arum yang sudah mendapat perintah dari Oma untuk langsung istirahat di kamar menurutinya, dengan langkah pasti tanpa memperdulikan kesibukan yang terjadi di sekitarnya Arum langsung menuju kamar dan beristirahat menikmati kaaur king size super empuk yang sudah cukup lama dia tinggalkan.
"Hidup seperti kejutan, aku sungguh tak menyangka jika jodohku Kak Hasan dan pacarku Kak Huda yang tak lain sepupu calon suamiku sendiri," lirih Arum mengingat takdir hidupnya.
Cukup lama Arum terdiam mengingat setiap hal yang pernah dia lewati hingga tanpa sadar Arum kini terlelap dalam dunia mimpi.
Tok ... tok .... tok ....
Suara ketukan ointu mengusik mimpi indah Arum membuat sang empu harus terbangun.
"Iya tunggu sebentar!" sahut Arum dari dalam kamar.
Dengan langkah tergesa-gesa Arum berjalan membuka pintu hingga tampaklah sang Bunda sedang berdiri dengan satu nampan berisi makanan di tangannya.
__ADS_1
"Sudah sore makan dulu, Nak!" ujar Bunda.
"Loh sekarang sudah sore, Bun?" tanya Arum dengan ekspresi tak percayanya.
Pasalnya Arum merasa dia baru saja tertidur tapi kenapa hari sudah sore? apa mungkin ini adalah efek tidur di kasur empuk sedangkan selama beberapa bulan ini Arum harus tidur di kasur lantai yang tipis dan keras.
"Sudah jam setengah empat, makan dulu setelah itu mandi dan temui saudara-saudaramu!" titah Bunda dan Arum hanya bisa menurut tanpa menolak.
************
Malam ini adalah malam terpanjang bagi Hasan yang sudah tak sabar menunggu hari esok. Hari di mana dia bisa menjadi suami seutuhnya bagi Arum begitu juga sebaliknya.
Hasan berdiri menatap langit dengan secangkir susu hangat di tangannya, entah mengapa malam ini dia tak ingin meminum apapun kecuali susu hangat.
"Kakak belum tidur?" sapa Husein.
Khusus malam ini Husein meminta untuk tidur bersama dengan Hasan katanya ubtuk kenangan sebelum Hasan benar-benar menjadi suami Arum.
"Tumben kakak minum susu," celetuk Husein yang merasa aneh dengan secangkir susu di tangan sang Kakak.
"Lagi pengen," jawab Hasan singkat.
"Kak, jangan begadang gak baik untuk kesehatanmu! lagi pula kamu akan terlihat lesu besok jika terus bergadang seperti ini." Husein yang melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah satu mencoba mengingatkan sang Kakka agar cepat beristirahat.
"Dek, bagaimana perasaanku terhadap Arum saat ini?" bukannya menjawab Hasan malah memberi pertanyaan yang cukup membuat Husein terkejut.
"Perasaan apa yang Kakak maksud?" Husein berpura-pura tak mengerti.
"Bukankah kamu juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?" Hasan kembali bertanya.
__ADS_1
"Kakak tenang saja, dulu aku memang punya perasaan yang sama seperti kakak terhadap Arum, tapi saat ini rasa itu perlahan pergi berubah menjadi rasa sayang antar saudara, aku sudah menganggap Arum seperti kakakku sendiri. Jadi Kak Hasan tak perlu khawatir, lagi pula aku sudah punya Zahra sebagai penggantinya," jelas Husein yang mengerti apa yang dirasakan Hasan saat ini.
"Terima kasih Dek," ucap Hasan seraya tersenyum senang menatap sang Adik.
"Sudahlah Kak, tidak perlu berterima kasih! Arum memang bukan takdirku tapi takdir kakak, dia tulang rusukmu bukan tulang rusukku, ayo tidur sebelum mata Kakak menghitam entar aura ketampananmu berkurang lagi," ujar Husein yang langsung di turuti oleh Hasan.
Malam panjang juga di rasakan oleh Arum, kini dia sedang duduk di depan jendela menatap langit yang terlihat terang dengan berjuta bintang sang bulan yang malam ini bersinar dengan terangnya.
"Besok aku akan benar-benar jadi seorang istri, dan besok adalah kesempatan terakhirku untuk memimpikan sebuah cita-cita," lirih Arum.
Ingatan Arum kembali pada masa-masa sekolah di mana dia memimpikan banyak hal untuk dia kejar dan menginginkan banyak hal untuk dia raih.
Kini impian dan cita-cita yang dulu pernah dia ukir dalam hati kini perlahn sirnah, semua yang dia fikirkan saat ini bukan karena dia tak menerima takdirnya tapi semuanya karena dia masih belum menyangka jika takdirnya seperti sekarang.
Cukup lama Arum terdiam mematung di depan jendela hingga kantuk yang tadi enggan mendekat kini mulai dia rasakan, Arum yang mulai di serang rasa kantuk kini kembali tidur di kasur empuk yang sebentar lagi juga akan dia tinggalkan.
"Semoga hari esok akan jauh lebih baik dari hati sekarang," lirih Arum setelah memanjatkan do'a.
Cahaya bulan perlahan menghilang terkikis habis oleh cahaya mentari yang sudah mulai nampak menyinari bumi. Arum sudah terbangun sejak subuh tadi karena usai sholat subuh MUA sudah datang untuk mempersiapkan sang calon pengantin. Sesuai rencana akad nikah akan di laksanakan pukul tujuh pagi.
"Mbak Arum sudah siap untuk di rias?" tanya MUa yang sudah siap dengan alat tempurnya
"Sudah Mbak, silahkan di mulai!" jawab Arum mempersilahkan MUA yang di pesan khusus oleh Hasan untuk memulai pekerjannya.
Suasana tenang di dalam kamar pengantin berbeda jauh dengan keadaan yang terjadi di luar kamar, Arum yang menolak hiasan kamar membuat suasana kamar tetap hening tanpa ada dekorasi ataupun orang.
Semua orang sibuk menyiapkan akad nikah dan beberapa makanan yang akan mereka suguhkan, meski keluarga Arum sudah memasrahkannya pada pihak catering Bunda Fia tetap mengecek segala sesuatunya hingga dia yakin jika semuanya benar-benar telah siap.
"Bunda! jangan keliling terus! entar Bunda capek, biarkan para pelayan yang mengurus segalanya." Ujar Steve yang sedikit jengkel melihat tingkah sang Bunda yang tak bisa diam sejak beliau bangun tadi.
__ADS_1
"Pernikahan adikmu hanya akan terjadi sekali seumur hidup Steve, dan Bunda tidak akan biarkan ada sedikit saja kesalahan yang terjadi." Jawaban Bunda tak terbantahkan, Steve hany bis diam tanpa bisa membantahnya lagi.
"Baiklah, Bunda boleh memeriksa segalanya tapi ingat satu hal Aku masih ada, jadi jangan biarkan Bunda terlalu lelah! jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantumu maka katakan saja Steve siap membantu Bunda." Ujar Steve yang mendapat anggukan juga senyuman dari sang Bunda.