Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Malu


__ADS_3

"Jika semua wali yang sudah di sebutkan telah meninggal, maka yang berhak menjadi wali adalah saudara laki-laki. Baik dia berstatus Kakak ataupun Adik," Hasan yang tak tega melihat ekspresi Arum yang tengah merasa malu karena tertidur saat mengaji memilih untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan Desy.


Arum diam seribu bahasa menundukkan kepala merasa malu karena tertidur saat mengaji. Jam mengajipun telah habis Arum berjalan bersama dengan Desy dan Sinta untuk kembali ke kamar.


"Arum are you okey?" tanya Desy yang khawatir melihat Arum hanya diam tanpa suara sejak kejadian memalukan di mushollah tadi.


"Arum gak usah di fikirin, santai aja. Sebenarnya yang tidur tadi bukan cuma kamu aja kok" Sinta berusaha menghibur Arum yang terlihat murung.


"Tapi kenapa meraka semua cuma lihat Aku?" tanya Arum.


Sebenarnya tidur saat mengaji subuh memang hal yang biasa, tak sedikit santri yang tertidur saat mengaji tapi, posisi Arum tadi memang merugikan. Arum tertidur begitu lelap dan apesnya Hasan yang sedang mengajar melihatnya, selain itu posisi Arum tidur juga menjadi penyebabnya karena itulah semua santri ikut melihat Arum. Padahal ada beberapa santri juga yang tidur tapi tak jadi pusat perhatian seperti Arum. Karena posisi mereka yang tertidur sambil duduk tak begitu terlihat.


"Kamu tidurnya kayak gitu, pantes aja pada lihat. Coba kalau kamu tidur dengan posisi duduk kayak yang lain, Aku yakin kamu gak bakal ketahuan dan di lihatin kayak tadi." Sinta kembali menjelaskan dan menghibur Arum.


"Sudah jangan di fikirkan lagi, mendingan kita mandi." Ajak Desy berusaha mengalihkan perhatian Arum yang terlihat masih memikirkan kejadian yang sudah terjadi.


"Bener kata Desy, mumpung masih jam segini kamar mandi khusus yang kita dapat tadi malam pasti belum ada yang menggunakan." Sinta berdiri dan mengulurkan tangan mengajak Arum untuk ikut bersamanya.


"Baiklah," jawab Arum meraih uluran tangan Desy kemudian berdiri menaruh kitab yang sejak tadi belum lepas dari tangannya.


Arum, Desy dan Sinta berjalan beriringan dan sesekali terdengar tawa dari ketiganya. Benar saja kamar mandi khusus untuk asrama mereka masih kosong karena anggota yang lain masih sibuk di kamar dan di mushollah dengan berbagai kegiatan mereka. Mendapat hadiah kamar terbesih adalah hal yang paling menyenangkan bagi semua santri putri, karena mereka tak perlu susah payah cari antrian meskipun mereka juga harus antri dengan anggota kamar yang lain tapi itu tak jadi masalah. menurut mereka itu jauh lebih baik.


"Arum kamu mandi dulu, biar kita antri dan menunggu kamu kamu mandi." Ucap Desy.


"Benarkah Aku boleh mandi dulu?" tanya Arum yang merasa senang bisa langsung mandi tanpa harus mengantri.


Arum memang sengaja tinggal di rumah Umik selain masih belum bisa tidur Arum juga masih belum bisa mencari antrian kamar mandi, dia merasa belum siap untuk mengikuti aturan yang di terapkan di pesantren.


Sepuluh menit berlalu ....

__ADS_1


"Arum! jangan lama-lama Mbak kamar lain udah nunggu." Teriak Desy dari depan kamar mandi tempat Arum mandi.


"Iya, bentar lagi selesai." Sahut Arum.


'Hadeuh mandi aja mesti buru-buru, emang ya nyantri itu susah.' Batin Arum menggerutu.


Arum biasanya akan menghabiskan waktu setengah jam untuk membersihkan diri di kamar mandi tapi karena suara teriakan Desy membuat Arum harus memangkas waktu agar lebih cepat selesai.


"Desy!!" Arum yang sudah selesai berteriak dari dalam kamar mandi.


"Iya, kenapa? apa kamu udah selesai mandinya?" Desy menyahuti panggilan Arum dari tempatnya duduk tanpa merubah posisi.


"Iya udah, buruan ke sini!" sahut Arum yang juga berteriak dari dalam kamar mandi.


Dengan langkah seribu Desy berjalan menuju kamar mandi menghampiri Arum yang katanya sudah selesai mandi.


"Aissshh, kamu mandi apa semedi?" tanya Desy setelah Arum membuka pintu kamar mandi.


"Kalau di sini mandi itu harus cepet kecuali kalau kamu mandi paling akhir baru bisa berlama-lama, itupun kalau gak di kedor-kedor sama santri lain," tutur Desy dengan senyum yang menjengkelkan.


"Dasar kau, sudahlah, jangan banyak wawancara! mending kamu cepetan masuk kasihan yang lain udah nunggu." Arum sedikit mendorong pintu kamar mandi agar Desy masuk ke kamar mandi lebih cepat.


"Tadi aja mandinya lama, sekarang pakek nyeramahin Aku pula ni anak." Gerutu Desy sambil masuk ke dalam kamar mandi dan memulai ritual mandinya.


Arum yang merasa segar berjalan keluar kamar mandi, meski sebenarnya Arum merasa kurang puas dengan ritual mandinya kali ini, tapi dia tetap merasa senang karena mandi di pesantren memberi kesan tersendiri baginya. Lagi pula ini pengalaman pertama yang dia rasakan.


"Kamu mandi atau semedi di dalem Arum?" ujar Sinta yang melihat Arum baru keluar dari kamar mandi.


"Bukan semedi tapi cari nomer buat ku beli biar cepet kaya," sahut Arum asal.

__ADS_1


"Hahahaha, dapat berapa angka Arum?" Sinta yang mendengar jawaban Arum langsung tertawa dan kembali melontarkan pertanyaan.


"Empat angka, kenapa kamu mau ikutan beli?" Arum yang memang sudah mengerti jika Sinta sedang bergurau malah ikut menimpali gurauannya.


"Enggak, kamu aja yang beli entar Aku minta komisinya aja." Sinta masih saja meneruskan ucapan unfaedahnya.


"Males, beli aja sendiri." Arum berucap sambil melenggang pergi meninggalkan Sinta yang masih setia duduk di tempat antrian bersama santri yang lain.


"Kamu mau ke mana Arum?" Sinta bertanya sambil berteriak.


"Kamar," sahut Arum yang berjalan semakin jauh.


Kebanyakan santri memang sering berteriak saat berada di kamar mandi, suara mereka melengking keras mengalahkan kernet angkutan umum saat memanggil penumpang.


Arum telah sampai di dalam kamar, meraih alat make up yang sudah dia bawa. Arum memang bukan tipe wanita yang suka berdandan, tapi dia juga tak abai pada dirinya. Meski tak berdandan Arum selalu memakai skin care untuk menjaga kulitnya agar tetap sehat dan terawat.


"Assalamualaikum," ucap seorang santri dari depan pintu kamar Arum.


"Waalaikum salam," sahut Arum menghentikan aktifitasnya yang sedang memakai lipglos.


"Mbak Arum ya?" tanya Sang Santri, kebetulan saat ini Arum sedang sendirian di kamar.


"Iya, saya Arum. Ada apa ya?" tanya Arum mengernyitkan dahi bingung karena tak kenal dengan santri yang mencarinya itu.


"Mbak di panggil Umik," jawab Sang santri.


"Di mana Mbak?" tanya Arum.


"Di rumah Umik, Mbak," jawab Sang santri dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Oh, baiklah Aku akan ke sana." Ucap Arum.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi Mbak." Pamit Sang santri melenggang pergi meninggalkan Arum setelah mendapat persetujuan dari Arum dengan anggukan.


__ADS_2