Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sekotak Rendang


__ADS_3

"Kalian kok ketawa? memangnya ada yang lucu dari ucapan Ayah?" tanya Rifki merasa aneh dengan tawa yang begitu lepas saat dia mengatakan sesuatu.


"Enggak ada kok Yah, aku sama Kak Hasan pasti nginep di rumah Ayah kok," jawab Arum setelah tawanya berhenti.


"Lagi pula aku juga ingin tahu tempat tinggal istriku selama ini Ayah," sahut Hasan.


"Tadi kenapa kalian ketawa?" Rifki masih belum puas dengan jawaban Arum hingga dia kembali bertanya.


"Entahlah Yah, aku hanya ingin tertawa, lagi pula Ayah lucu anak mau pergi bulan madu kok gk boleh nginep di luar, bukankah mereka butuh waktu hanya berdua untuk menikmati hari-hari bulan madu mereka? kenapa Ayah malah memberi syarat harus nginep di rumah?" Bunda Fia yang sejak tasi hanya diam kini menjawab pertanyaan sang suami.


"Mereka hanya nginep di rumah Bunda, bukan Ayah minta diam di rumah, mereka masih bisa pergi jalan-jalan sesuka hati tanpa gangguan dari kita, lagi pula apa kamu gak rindu dengan putri kesayangan kita?" sahut Rifki.


"Sudahlah, Ayah dan Bunda tenang saja karena aku dan Kak Hasan pasti akan nginep di rumah meskipun gak di suruh sama Ayah, aku juga rindu suasana rumah dan kamarku di sana Ayah," tutur Arum membuat senyuman muncul di bibir kedua orang tuanya.


Ketiganya mengobrol dengan berbagai topik, terkadang sebuah senyuman muncul di bibir mereka memberikan hiburan tersendiri bagi Hasan yang sedang berusaha ikhlas melepas kepergian sang Ummah.


"Uqi!" panggil Arif saat melihat sang Adik sedang menjamu beberapa tamu di sudut ruang keluarga.


"Kakak, kapan datang? masuk Kak!" sudah cukup lama nama Uqi kembali terdengar di telinga, mengobati sedikit rasa rindu yang cukup lama bersarang di hati Uqi.


Ada banyak kenangan dengan nama yang baru saja terdengar, ada banyak kisah yang tersimpan rapat di dalamnya, sudah cukup lama sejak Ummah memutuskan untuk pindah dari pesantren dan menyerahkan segala urusan pesantren pada Uqi dan suaminya panggilan Uqi tak lagi terdengar, yang ada hanya panggilan Umik yang selalu mengingatkan Uqi akan siapa dirinya sekarang dan apa yang harus dan tak boleh dia lakukan.


Umik bukan cuma sekedar panggilan sederhana yang di berikan oleh para santri, tapi bagi Uqi panggilan Umik memiliki tanggung jawab tersendiri dalam hidupnya, menghadapi ribuan santri yang menganggapnya sudah seperti orang tua sendiri bukanlah hal yang mudah bagi Uqi yang notabennya berasal dari keluarga sederhana.


"Baru aja sampai, kamu bagaimana kabarnya?" sahut Arif seraya memberikan satu kotak rendang titipan dari sang Ibu.

__ADS_1


"Ini apa Kak Imah?" tanya Arum saat menerima satu kotak makanan dari tangan sang Kakak Ipar.


Di antara kisah masa lalu hanya Imalah yang tak pernah tahu apa-apa tentang kisah cinta yang tak bisa bersatu sebagai sepasang kekasih, tapi kini semuanya menyatu menjadi saudara.


"Itu rendang daging titipan dari Ibu, Dek," jawab Imah.


"Ibu masih saja ingat jika aku dan Abi suka rendang," lirih Umik sambil menatap kotak makanan yang ada di tangannya.


"Ayo masuk Kak!" ajak Umik menggandeng tangan Imah masuk ke ruang keluarga di sudut lain yang terpisah dengan tamu lainnya dan Arif hanya mengikuti keduanya dari belakang.


"Duduk dulu Kak!" pinta Umik.


"Bik! Bibik!" sambung Umik memanggil pelayan yang ada di dapur.


"Iya, Umik," sahut sang pelayan berjalan cepat menghampiri Umik yang masih setia berdiri di sebelah Imah.


"Baik, Umik," sahut Sang pelayan melenggang pergi ke arah dapur untuk membuatkan minuman pesanan Umik.


"Kakak bagaimana kabarnya?" tanya Umik membuka pembicaraan, sejak tadi Imah dn Arif hanya diam tanpa bersuara.


"Alhamdulillah baik, Dek," jawab Arif.


"Kalau Kak Imah bagaimana kabarnya?" kali ini Umik melempar pertanyaan pada Imah yang hanya diam.


"Kak Imah!" Umik mencoba menyadarkan Imah yang hanya celingukan tak merespon apa yang di bicarakan.

__ADS_1


"Eh Iya, kenapa?" sahut Imah tanpa menoleh ke arah Umik tapi tetap celingukan seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang hilang.


"Kamu tanya apa tadi?" Imah sedikit gelagapan mendengar panggilan Umik yang mulai naik satu oktaf.


"Kakak nyari apa?" kini Umik merubah pertanyaannya melihat Imah masih saja celingukan seperti seseorang yang belum menemukan sesuatu yang hilang.


"Huda kemana, Dek?" akhirnya terjawab sudah penyebab Imah celingukan sejak tadi.


Umik langsung tersenyum senang mendengar jawaban Imah, kasih sayang yang di miliki Imah memang tak bisa di ragukan lagi.


"Huda tadi ada di halaman belakang, tapi sepertinya dia sudah pergi dari sana." Umik juga menjawab pertanyaan Imah dengan jawaban yang tak pasti membuat Imah malas mendengarnya.


"Pergi ke mana, Dek?" Imah langsung antusias untuk bertanya kembali tentang keberadaan sang putera.


-


-


-


-.Kakak2 ku yang paling lope2 terima kasih atas dukungannya, maaf jika author jarang bgt bls komen kalian.


Tapi Author selalu merasa senang sekali membaca komennya. apalagi di kasih vote, like dan komen author makin semangat.


yang terakhir author meminta maaf karena update hri ini sedikit karena author sedang sakit, mohon do'anya ya kakak-kakak buar besok bisa sembuh dan buat lebih bayak bab lagi untukKakak2.

__ADS_1


salam manis campur sayang author receh.🤗🤗🤗🤗


__ADS_2