Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Jawaban Husein


__ADS_3

Dengan perlahan Husein membuka pintu berharap sang Umik trlah pergi atau kembali ke dalam kamar, tapi apa yang di harapkan Husein tak sama dengan kenyataan yang terjadi, Umik justru tengah duduk dengan gelisah di kursi meja makan yang berada tak jauh dari kamar mandi.


"Kamu mau ke mana?" sergah Umik yang melihat Husein justru celingukan, dia tak melihat jika ada Umik yang duduk di kursi meja makan.


"Aku mau ke ...." Husein terlihat bingung menjawab pertanyaan Umik.


"Mau ke mana?" Umik kembali bertanya.


"Aku mau ke kamar Umik." Jawab Husein dengan tegas.


"Duduk dulu!" titah Umik yang membuat Husein pasrah dan akhirnya mengikuti keinginan sang Umik, Husein menyadari jika saat ini dia memang harus menjelaskan apa yang sudah dia katakan agar Umik tak penasaran dan terus mendesaknya, Husein sepenuhnya menyadari jika apa yang terjadi memang kesalahannya.


"Jelaskan kue ini dari siapa?" tanya Umik meletakkan satu paperbag kue ke hadapan Husein.


"Oh, ini dari alumni santri Umik," jawab Husein enteng.


"Umik tahu ini dari alumni santri, tapi siapa namanya?" Umik yang merasa tak lega akhirnya kembali bertanya.


"Itu dari Ibunya Zein Umik," Husein memang tak bisa berbohong pada Umik.


"Oh Ibunya Zein, apa kamu tertarik dengan puterinya?" Umik yang sejak tadi tidak sabar mendengar jawaban dari Husein langsung menanyakan apa yang ada di fikirannya.


"Eh, apa Umik?" Husein yang mendengar pertanyaan Umik langsung melayangkan pertanyaan kembali padanya, jujur saja Husein begitu terkejut saat Umiknya menyinggung soal puteri dari sang pengirim kue atau adiknya Zein.


"Apa kamu tertarik dengan adiknya Zein?" Umik memperjelas siapa yang dia maksud.


"Umik tahu dari mana soal adiknya Zein?" Husein semakin terkejut mendengar tentang Adiknya Husein yang di sebut oleh Umik.


"Ibunya Zein itu alumni santri dari sini, tentu saja Umik tahu berapa anaknya dan seperti apa dia. Apalagi orang tua Zein sering berkunjung ke sini sebelumnya." Umik menjelaskan dari mana dia tahu jika Zein punya adik perempuan.


"Kenapa Husein tak pernah tahu sebelumnya?" tanya Husein sambil mengerutkan dahi bingung.


"Mana bisa tahu wong kamunya ngelayap mulu," jawab Umik dengan senyum yang terus mengembang.

__ADS_1


"Kapan Husein ngelayap? bukankah Husein selalu ada di pesantren." Husein yang merasa tak pernah main jauh dan jarang pergi keluar dari pesantrenpun mengeluarkan protesnya.


"Kamu memang ada di pesantren tapi kamu lebih sering di pondok atau di rumah Kakakmu Hasan, jarang di rumah," jelas Umik.


"Bener juga," sahut Husein dengan senyum khasnya.


"Sejak kapan kamu kenal sama Adeknya Zein?" sifat kepo Umik mulai keluar.


"Barusan," Husein menjawab kekepoan Umik dengan nada enteng sembari mengambil setoples kacang telor yang ada di atas meja.


"Barusan? maksud kamu?" Umik yang tak faham dengan maksud kata barusan yang di ucapkan Husein kembali bertanya.


"Aku baru tadi kenal sama Zahra," Husein menhelaskan kata barusan yang di ucapkannya.


"Oh, jadi namanya Zahra," ujar Umik sambil manggut-manggut tanda telah mengerti.


"Terus kapan Umik bisa ke rumah Zahra?" Umik terus saja mengajukan pertanyaan pada Husein.


"Umik mau ngapain ke sana?" Husein yang merasa aneh dengan pertanyaan Umik tak langsung menjawabnya tapi malah melempar pertanyaan ke Umik.


"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." jawaban Umik sukses membuat Husein tersedak.


"Hati-hati! makanya kalau makan pelan-pelan!" ucap Umik yang langsung berdiri sambil mengambil satu aqua gelas yang ada di pojok ruangan.


"Minum dulu!" sambung Umik sambil mengulurkan satu Aqua gelas ke hadapan Husein.


"Terima kasih Umik," ucap Husein setelah meminum satu Aqua gelas yang Umik berikan sampai tandas dan Husein merasa begitu lega sesudahnya.


"Iya, lain kali kalau makan hati-hati!" Umik memberi peringatan sambil mengusap punggung Husein.


"Iya, Umik," sahut Husein dengan senyum yang terlihat begitu manis.


"Oh ya soal pinangan bagaimana?" perhatian Umim memang teralihkan sementara tapi pokok pertanyaan yang belum di jawab oleh Husein kembali di pertanyakan.

__ADS_1


"Tenanglah Umik, Aku baru mengenalnya tadi. Jadi biarkan Aku nilai dulu mengenalnya dulu hingga Aku benar-benar yakin jika dia yang terbaik yang pernah ku temui," ucap Husein panjang lebar.


Husein lebih memilih mengenal satu sama lain lebih dulu dari pada harus tergesah-gesah untuk menikah yang pada akhirnya harus berpisah hanya karena berbeda prinsip atau beda karakter yang membuat sebuah keretakan dalam rumah tangga.


"Umik, Husein ingin menikah sekali seumur hidup. Oleh sebab itu Husein benar-benar ingin mencari seseorang yang memang bisa di ajak hidup bersama sampai maut memisahkan kita," sambung Husein dengan senyum manis yang terlihatbegitu indah.


"Umik bangga padamu Nak, semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik," untaian do'a terdengar begitu indah di telinga membuat hati jauh lebih tenang.


"Amin," sahut Husein dengan sepenuh hati


"Apa kamu sudah makan, Nak?" Umik yang sejak tadi terlalu kepo dengan hubungan Husei dan Zahra gadis yang baru di kenalnya.


"Alhamdulillah sudah Umik, tadi Husein sempet mampir di warung pecel langganan kita." Jawab Husein.


"Baiklah kalau begitu kamu istirahat saja dulu." Ucap Umik.


"Iya, Umik," ucap Husein sambil membawa setoples kacang telor yang sejak tadi di makan olehnya.


"Eh tunggu!" Umik yang merasa ada sesuatu yang tak seharusnya di bawa oleh Husein tapi malah di bawa.


"Iya ada apa Umik?" tanya Husein menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Umik yang masih setia duduk di sofa tempat.


"Toplesnya jangan di bawa!" larang Umim yang langsung berdiri mengambil alih toplet yang ada di tangan Husein.


"Lah emang kenapa Umik?" tanya Husein yang sudah hafal melihat tingkah Sang Umik.


"Ini kacang telor kesukaan Umik kalau kamu bawa masuk ke dalam kamar, terus Umik mau nyemil apa?" jawab Umik yang membuat Husein ikut terkekeh geli.


'Sudah Tua ada aja tingkahnya,' batin Husein.


"Astaghfirullah," lirih Husein yang baru saja sadar jika dia sudah tua.


Husein masuk ke dalam kamar membersihkan diri kemudian mulai beristirahat, hidup ini memang membingungkan apa yang di kejar tak selalu bisa jadi kenyataan tapi apa yang di abaikan bisa saja jika dia jodoh yang di setiapkan untuk keduanya.

__ADS_1


Satu hal yang harus di percaya, jika tuhan tak mungkin selalu memberi apa yang kita inginkan tapi yang pasti tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan. Karena menikah itu bukan soal cinta tapi tentang dua hati yang bisa saling menerima dan saling memberi.


__ADS_2