Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Bertemu Cindy (teman Hasan)


__ADS_3

Malam telah berlalu berganti siang yang mulai menampakkan cahayanya, memberi kehangatan pada setiap penghuninya.


"Arum bisa lebih cepat tidak?" ujar Bunda Fia.


"Sebentar Bunda," Arum masih saja sibuk membenahi hijab yang baru saja di belikan oleh Hasan tadi malam.


"Jangan lama-lama Syei'! kasihan Bunda sudah nungguin sejak tadi," seru Hasan yang juga sedang menunggu Arum memakai hijab di hadapannya.


"Bilang aja Abi udah capek nungguin Aku!" sahit Arum yang mengerti jika Hasan bukanlah orang yang punya kesabaran tinggi untuk menunggu.


"Abi memang tak punya kesabaran yang tinggi untuk menunggu, tapi Abi punya kesabaran yang akan terus ada sampai akhir hayat Abi untuk menunggu cintamu Syei'." Lagi dan lagi, Hasan selalu saja punya alasan untuk menggombal.


Arum yang mendengar gombalan Hasan langsung menyelesaikan pemakaian hijabnya dan langsung berjalan keluar dari kamar menuju ruang tamu di mana sang Bunda sudah menunggu.


"Syei' tunggu!" Hasan sedikit berteriak karena Arum sudah melangkah lumayan jauh dengan langkah yang lebar.


"Kenapa Aku yang di tinggal sih?" lirih Hasan sembari terus berjalan mengikuti langkah Arum.


"Lama sekali, kamu pakai hijab atau lagi ngapain sih Arum?" seru Bunda yang sejak tadi menunggu Arum di ruang tamu.


"Arum tadi lagi tapa Bunda, nyari wangsit." Jawab Arum asal.


Hasan yang mendengar percakapan Arum dan sang Bunda hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala, istrinya itu selalu saja punya celetukan yang membuat orang lain jengkel tapi gemas dalam waktu bersamaan.


Perjalanan menuju pasar memakan waktu cukup lama, karena mansion Oma Arum letaknya cukup jauh dari pasar.


"Kita ke pasar tradisional ya Bun?" tanya Arum saat melihat pasar yang di tuju adalah pasar tradisional dengan segala kelebihan juga kekurangannya.


"Iya, di sini lebih enak barangnya bagus harganya juga murah," jawab Bunda Fia sambil tersenyum, dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi Arum saat masuk ke dalam pasar tradisional yang semalam habis di guyir hujan.

__ADS_1


"Bunda!" panggil Arum dengan ekspresi wajah ragu.


"Ada apa Arum?" tanya Bunda Fia yang langsung menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan Arum.


"Bagaimana kalau kita ke supermarket saja," usul Arum yang merasa ragu setelah melihat keadaan di pasar tradisonal yang Bundanya maksud.


"Kenapa harus ke supermarket kalau kita sudah sampai di pasar?" tanya Bunda Fia.


"Bunda, lihatlah! jalanannya becek seperti itu. Apa Bunda gak ngerasa risih?" Arum mengungkapkan keraguannya.


"Enggaklah, justru di sini tantangannya Arum, sudah jangan banyak berfikir lagi! lebih baik kita sekarang masuk dan nyari barang yang kita butuhin." Ujar Bunda Fia yang langsung merangkul lengan Arum dan mengajaknya masuk ke dalam pasar.


"Memangnya kita mau beli apa Bunda?" tanya Arum sambil celingukan melihat berbagai macam barang yang di jual.


Bunda Fia mengajak Arum menuju stand penjual barang dan bahan yang di butuhkan, Arum hanya mengikuti dan membantu membawa barang yang sudah di beli oleh Bunda Fia.


"Bun, barangnya sudah banyak apa masih ada yang belum di beli?" tanya Arum yang sudah merasa kerepotan dengan banyaknya barang yang dia bawa.


"Loh kok gak ada orangnya ya Bunda?" tanya Arum seraya celingukan mencari keberadaan Hasan.


"Mungkin suamimu sedang minum kopi atau mencari sarapan," jawab Bunda Fia enteng, tak sedikitpun ekspresi gelisah terlihat di wajah Bunda Fia.


"Baiklah Arum cari Kak Hasan dulu ya Bun." Pamit Arum melenggang pergi meninggalkan Sang Bunda dengan setumpuk belanjaan yang di letakkan di sebelah mobil dekat sang Bunda berdiri.


Arum terus berjalan sambil celingukan mencari keberadaan Hasan yang masih belum terlihat batang hidungnya.


"Kak Hasan!" panggil Arum saat melihat Hasan sedang asyik mengobrol dengan seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Hasan.


"Iya Syei', ada apa?" sahut Hasan menghentikan obrolannya.

__ADS_1


"Kakak ngapain di sini?" tanya Arum dengan ekspresi wajah kurang sedap di pandang.


Melihat Hasan yang akrab dengan wanita lain, sekalipun hanya ngobrol membuat sesuatu dalam diri Arum timbul. Entah mengapa Arum merasa jengkel dan sedikit emosi melihatnya.


"Syei' kenalin ini teman baikku Cindy, dia teman waktu Aku kuliah dan Cindy kenalin ini istriku Arum." Hasan memperkenalkan teman baiknya pada Arum.


"Wahh diam-diam kamu sudah nikah duluan ya, Aku fikir kamu nikahnya masih lama. Kenalin Aku Cindy teman wanita satu-satunya di kampus suamimu dulu, dan selamat ya atas pernikahannya." Cindy tersenyum manis seraya mengulurkan tangan ke arah Arum, mendengar Hasan telah menikah membuat Cindy terkejut, pasalnya sejak kuliah dulu Hasan termasuk orang yang tertutup dan tak suka berinteraksi dengan wanita lain selain Cindy, Hasan selalu beralasan malas berurusan dengan kaum hawa yang menurut dia akan mengganggu konsentrasinya belajar.


Padahal Cindy tahu betul jika alasan yang di ungkapkan Hasan hanyalah sebuah alasan tanpa dasar untuk menutupu kekurangan dirinya yang selalu minder dan gugup tiap kali dekat dengan seorang wanita.


"Saya Arum," jawab Arum memaksakan senyumannya.


"Ngomong-ngomong kalian kapan menikah? kok gak ngundang Aku?" tanya Cindy yang merasa tak di undang oleh Hasan.


"Kita hanya menikah tapi belum mengadakan resepsi. Nanti kalau acara resepsinya saja kamu Aku undang." Jawab Hasan.


"Kak, Bunda sudah menunggu sejak tadi. Bisakah kita pulang sekarang?" ajak Arum. Berada di dekat dua sejoli itu membuat Arum sedikit kepanasan. Padahal cuaca pagi ini tak terlalu panas karena awan mendung sedang menghiasi langit.


"Baiklah, Cindy Aku balik dulu." Pamit Hasan dengan senyum manisnya tapi senyuman itu terlihat menjengkelkan di mata Arum.


"Ayo Syei'!" Hasan meraih tangan Arum dan menggenggam jemari tangannya berjalan pergi meninggalkan Cindy yang masih berdiri di tempatnya.


Sejak kejadian di pasar Arum berubah jasi pendiam dan jarang bicara, dan sikap Arum bertahan hingga berhari-hari membuat Hasan bingung dengan apa yang telah terjadi pada istri kesayangannya itu.


"Syei'!" panggil Hasan yang melihat Arum menyisir rambut setelah membersihkan diri. Arum yang irit bicara tak menhawab panggilan Hasan tapi dia langsung berjalan menghampiri Hasan yang duduk di ujung kasur.


"Kamu kenapa? apa ada masalah?" tanya Hasan yang merasa aneh dengan sikap Arum beberapa hari ini.


"Tidak Bi," jawab Arum.

__ADS_1


"Kenapa kamu lebih pendiam? jika kamu punya masalah atau Abi melakukan kesalahan jangan hanya diam! katakan dan bicarakan padaku. Ingatlah Syei' suatu hubungan akan semakin kuat jika kedua pasangan itu saling jujur dan terbuka." Ujar Hasan membuat Arum merubah tatapannya yang semula menunduk kini menata Hasan yang sedang menatapnya lekat.


__ADS_2