Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Berbohong


__ADS_3

Husein berjalan gontai menuju kamarnya, sambil terus berusaha menguatkan hati agar tak terlihat rapuh.


"Husein, Nak!" panggil Umik.


"Iya, Umik," sahut Husein yang baru saja masuk ke dalam kamar dan kembali berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


"Ayo Nak kita sarapan." Ajak Umik yang di angguki oleh Husein.


mereka berjalan beriringan menuju ruang makan, terlihat semua anggota keluarga sudah duduk di meja makan lengkap dengan Arum yang entah sejak kapan sudah ada di sana.


Makan pagi ini terasa begitu berbeda bagi Husein tapi tidak bagi yang lain. Hingga makan selesai tak ada sedikitpun percakapan yang terdengar.


"Arum," panggil Umik mencegah Arum yang hendak pergi.


"Iya Umik, ada apa?" tanya Arum.


"Ikutlah dengan Umik, ada yang ingin Umik bicarakan!" titah Sang Umik yang mendapat anggukan sebagai respon.


Umik mengajak Arum menuju ruang keluarga, dengan cepat Umik meraih ponsel yang tergeletak di sofa dan menekan beberapa tombol untuk menghubungi seseorang.


"Halo, assalamualaikum," sapa Umik.


Arum begitu terkejut sekaligus senang setelah melihat siapa yang di hubungi oleh Umik, terlihat Sang Bunda sedang berdiri di balkon rumahnya.


"Bunda," reflek panggil Arum.


"Arum Sayang, Bunda kangen," ucap Fia dengan mata berkaca-kaca setelah kamera di arahkan ke arah Arum.


Terlihat jelas wajah putri kesayangannya sedang duduk di samping sahabatnya dengan hijab yang bertengger dengan cantiknya di kepala sang putri.


"Arum juga kangen sama Bunda," ucap Arum tak kalah mellow, dia malah sudah meneteskan air mata menatap ke arah sang Bunda.


"Uqi, terima kasih sudah menjaga putri kesayanganku," ucap Bunda.


"Dia juga akan menjadi putriku Fia," jawaban Umik sontak membuat Arum terkejut, dia mengernyitkan dahi menatap Umik yang justru tersenyum ke arahnya.


"Maksud Umik apa?" tanya Arum.


"Arum, Bunda dan Umik berencana menjodohkan kamu dengan salah satu anak Umik," jawab Bunda.


"Apa? menjodohkan?" tanya Arum yang semakin terkejut dengan ucapan sang Bunda.


"Iya, Sayang, kamu mau kan jadi menantu Umik?" tanya Umik.

__ADS_1


Arum semakin bingung bukan karena dia tak mau atau tak menyukai keputusan sang Bunda dan Umik, hanya saja saat ini Arum masih bingung baru kemarin kedua anak Umik mengungkapkan perasaannya di tambah dengan kekasihnya yang masih belum putus di Australia sekarang di tambah rencana perjodohan yang tiba-tiba di ungkapkan oleh Bunda dan Umik.


"Arum!!" panggil Bunda Fia dengan nada sedikit meninggi bertujuan menyadarkan Arum yang sedang melamun.


"Eh, i~iya Bunda," jawab Arum gugup.


"Kamu setuju kan dengan rencana kami?" tanya sang Bunda.


"Bunda, Umik, beri Arum waktu untuk berfikir," pinta Arum.


"Apa lagi yang mau di fikirkan Nak, percayalah pilihan Bunda tidak akan pernah salah!" ucap Bunda Fia.


"Bunda, Umik, bukannya Arum tidak suka, Tapi ...." ucapan Arum terhenti.


"Tapi apa Sayang?" tanya Bunda Fia.


"Iya, tapi apa Nak?" Umik juga ikut bertanya.


"Tapi kemarin Kak Hasan dan Kak Husein menyatakan perasaan mereka secara bersamaan, Fia bingung Umik, Bunda," Fia yang merasa tak bisa memutuskan sendiri permasalahannya langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Dan sontak saja cerita Arum membuat kedua wanita satu generasi itu terkejut dan membulatkan mata sempurna sambil melongo mendengar cerita Arum.


"Apa???" sahut keduanya hampir bersamaan.


Sedangkan Umik dan Bunda Fia saling menatap bingung dengan cerita Arum.


"Uqi, jika seperti ini kita harus bagaimana?" tanya Fia yang kini justru bingung.


"Aku sendiri juga bingung Fia," jawab Umik.


Keduanya terdiam dengan seribu kebingungan di benak mereka masing-masing.


"Baiklah, Umik akan membicarakan lagi masalah ini dengan kedua putra Umik." Akhirnya Umik mengambil jalan tengah dengan menanyakan sendiri pada kedua puteranya itu.


"Aku berharap semuanya akan baik-baik saja Uqi," ucap Fia di seberang sana.


"Kamu tenang saja, Aku yakin kedua puteraku itu sudah dewasa dan bisa mengatasi masalah ini." Ucap Umik mencoba menenangkan hati Arum dan Fia.


"Semoga mereka tak berselisih karena ini," untaian harapan terlontar dari bibir Fia.


"Semoga," ucap Umik.


"Bunda kapan jenguk Arum ke sini?" Arum yang melihat suasana menjadi tegang akhirnya berusaha mencairkannya.

__ADS_1


"Minggu depan Bunda akan menjengukmu Nak," jawab Sang Bunda.


"Apa Ibu akan ke sini bersama Ayah?" tanya Arum dengan raut wajah penuh harap.


Sebenarnya Fia berencana mengutarakan rencananya bersama Uqi nanti setelah dia sampai di indonesia, tapi Umik memberitahukan jika semakin cepat Arum tahu akan semakin baik, jadi Arum akan memiliki banyak waktu untuk berfikir. Dan keputusan yang mereka ambil memang keputusan yang paling tepat karena mereka bisa tahu lebih dulu masalah yang terjadi dan memiliki cukup waktu untuk menyelesaikannya.


"Tidak Sayang, Ayah masih sibuk. Ayah akan ke sini di hari pertunanganmu Nak," jawab Bunda Fia.


"Ohh, baiklah Bunda, Arum akan menunggu kedatangan Bunda." Ucap Arum pasrah, dia tak bisa memaksakan kehendak mengingat sang Ayah memang sibuk.


"Bunda, Umik, Arum kembali ke asrama dulu. Assalamualaikum," pamit Arum.


"Waalaikum salam, hati-hati di sana, Nak!" ucap Bunda Fia.


"Iya, Bunda," jawab Arum.


"Waalaikum salam," kini giliran Umik yang menyahut.


Arum berjalan keluar dari rumah Umim dengan sejuta rasa yang bergelayut di benaknya.


'Ahhh, kenapa jadi serumit ini sih? jika Aku menerima salah satu dari mereka bagaimana dengan perasaan Huda?' gerutu Arum dalam hati.


Arum terus berjalan menuju asrama dengan langkah gontai, rasanya dia ingin pergi ke suatu tempat di mana tak ada satupun yang mengenalnya.


Di cintai beberapa pria membuat kepalanya pusing, bukannya senang atau bangga Arum malah pusing harus memilih yang mana dan bersikap seperti apa agar tak ada yang terluka atas apa yang akan dia putuskan nanti.


"Arum," panggil Fifi.


"Iya, Mbak, ada apa?" tanya Arum.


"Kamu kenapa?" bukannya menjawab Fifi malah balik bertanya.


"Aku?" ucap Arum sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri.


"Iya, kamu kenapa?" tanya Fifi.


"Aku gak apa-apa Mbak, memangnya terlihat ada yang aneh ya dengan wajahku?" tanya Arum yang justru penasaran kenapa Fifi sampai bertanya seperti itu.


"Kamu terlihat begitu bingung sejak pertama masuk ke dalam kamar." Ujar Fifi.


"Ahh, Aku gak apa-apa Mbak, cuma lagi kangen aja sama rumah," jawab Arum menutupi apa yang sebenarnya ada di dalam benaknya, bukankah berbohong demi kebaikan juga di perbolehkan. Arum lebih memilih berbohong dari pada harus menceritakan apa yang sedang dia rasakan.


Arum tak ingin terjadi kesalah fahaman jika dia menceritakan semuanya, dia takut jika orang lain akan menanggapi buruk tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2