
Suasana syahdu berubah menjadi semakin romantis, bagaimana tidak setelah pernyataan cinta dan janji yang mereka ucapkan Hasan demgan beraninya mendekat ke arah Arum. Saat ini Hasan seperti terbawa suasana yang semakin mendukung agar dia bisa lebih dekat dengan Arum.
Perlahan tapi pasti Hasan terus mendekat hingga jarak di antara mereka benar-benar terkikis, nafas panas Hasan menyapa pipi mulus Arum membuat sang empu sadar jika saat ini Hasan masih belum sembuh dengan gerakan kilat Arum menjauh agar Hasan tak meneruskan aksinya.
"Maaf Bi, bisakah Abi tidur kembali dan membiarkan aku merawatmu?" ucap Arum yang tak ingin Hasan salah faham, bukan karena Arum tak ingi du sentuh hanya saja saat ini Hasan masih sakit, bahkan nafasnya saja masih terasa sangat panas, Arum memutuskan untuk menjauh dan menghentikan niat Hasan agar sakit yang saat ini di rasakan oleh Hasan tak semakin parah.
Hasan yang mengerti maksud Arum langsung mengikuti perintah yang terucap dari bibirnya. Hasan membaringkan tubuhnya dan membiarkan Arum mengecek suhu tubuh dan mengompresnya dengan penuh sayang.
"Jika Abi tak bisa minum obat karena alergi maka apa yang bisa Abi lakukan untuk mengobati sakit Abi?" tanya Arum.
Dengan tekat yang kuat Arum memutuskan untuk menjadi istri yang seutuhnya dan saat ini adalah saat yang tepat untuk Arum memulai.
"Kamu bisa membuatkan aku jamu Syei'." Jawaban Hasan membuat Arum cukup tercengang, pasalnya seumur hidup Arum tak pernah membuat jamu. Jangankan membuatnya Arum bahkan tak pernah melihat atau meminum jamu.
"Maaf Bi, tapi aku sama sekali tak pernah membuat bahkan aku tak per ah melihat jamu itu seperti apa? aku hanya mendengar namanya saja," jujur Arum.
Hasan yang mendengar penuturan Arum hanya tersenyum manis seraya memegang tangannya.
"Biar Abi dan Mbak Hana ajari nanti," ujar Hasan dengan tangan yang masih menggenggam tangan Arum.
"Terima kasih," ujar Arum.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Hasan sedikit bingung dengan ucapan terima kasih yang di ungkapkan oleh Arum.
"Terima kasih karena Abi mau menerima Arum apa adanya dan terima kasih karena Abi mau mengajari Arum," jawaban Arum sungguh membuat Hasan sedikut tertawa karena lucu.
__ADS_1
"Syei', sebenarnya tidak bisa membuat jamu itu bukan kekuranganmu karena tak semua orang bisa membuatnya, dan kamu belajar membuat jamu juga karena aku yang tak bisa minum obat, jadi jangan merasa punya kekurangan karenanya. Karena bagiku kamu gadis penyempurna kehidupan singkat yang ku jalani di dunia." Hasan kembali membuat hati Arum berbunga.
"Sekarang kembalilah tidur di sampingku! jangan duduk di situ!" titah Hasan yang tak ingin melihat istrinya duduk semalaman hanya demi dirinya.
"Tapi Aku ingin menjaga dan merawatmu Bi." Tutur Arum.
"Baiklah, suapi aku buah yang tadi kamu bawa! setelah itu kamu bisa tidur di sampingku karena aku akan merasa lebih baik dan cepat sembuh jika berada dalam pelukanmu, dan satu lagi aku bukan anak kecil yang harus di jaga terus." Ujar Hasan membuat Arum mengerti dan mulai menyuapkan buah untuknya hingga satu piring buah yang di bawa Arum kini tandas tak tersisa.
Dengan hati yang sama berbunga Arum dan Hasan tertidur di ranjang yang sama, posisi mereka memang sangat dekat karena mereka saling berpelukan melewati dinginnya malam dan mengarungi dunia mimpi bersama hingga suara adzan subuh terdengar tak ada satupun yang terusik keduanya masih saja terlelap dalam tidurnya.
Hasan dan Aeum memang baru tidur pukul setengah tiga malam, wajar saja keduanya tak mendengar suara adzan, meski sebelumnya Arum telah tidur entah mengapa saat ini dia tak terbangun bahkan sama sekali tak terusik dengan suara adzan yang berkumandang keras di masjid yang tak jauh dari rumah mereka.
Mungkin Arum terlalu nyaman berada di pelukan suaminya hingga dia masih terlelap dan tak terusik sama sekali dengan suara adzan yang menggema.
Sedang Umik yang baru saja menunaikan sholat bersama para santriwati kini berjalan menuju rumah Hasan, sejak kecil Hasan akan terlelap dan jarang bangun subuh jika dia sakit, oleh karena itu Umik langsung datang ke rumah Hasan dengan niat membangunkannya untuk melaksanakan sholat.
Dengan langkah sedikut lebar Umik berjalan menuju rumah Hasan, pasalnya waktu sholat subuh semakin sedikit.
'Ceklek'
Saat pintu telah terbuka betapa terkejutnya Umik melihat anak menantunya malah terlelap di balik selimut tebalnya, sedang waktu sholat subuh sudah semakin menipis, Umim yang melihat Arum dan Hasan yang sama-sama terlelap hanya menggelengkan kepala, bukankah seharusnya Arum masih di pingit di dalam asrama sebelum hari H? kenapa sekarang mereka malah asyik berpelukan di sini?.
Umik yang tak ingin melihat keduanya malu karena tertangkap basah sedang terlelap dengan berpelukan di atas ranjang memutar otak mencari ide agar keduanya tak merasa malu.
"Untung aku yang membukanya, kalau sampai orang lain bisa gawat," gumam Umik.
__ADS_1
Dengan spontan sebuah ide muncul di otak Umik, dengan langkah pan Umik kembali keluar dari kamar menutup pintu yang tadi di bukanya.
Tok ... tok ... tok ....
Umik sengaja mengeraskan ketukan pintu agar kedua sejoli yang ada di dalam kamar segera terbangun.
"Hasan! bangun Nak! sudah subuh." Suara Umik menggema di ruangan, begitu lantang terdengar, seperti seorang komandan yang berseru untuk menyerang musuh.
"Emmm, uhhhkh," lenguhan Arum terdengar oleh Hasan yang merasa terusik karena Arum tak hanya melenguh tapi dia juga menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, ternyata tidur sambil berpelukan semalam tak baik juga untuk kesehatan badan, buktinya keduanya merasa pegal-pegal setelah terbangu.
"Umik!" ujar keduanya bersamaan dengan posisi duduk saling memandang satu sama lain.
"Abi, itu suara Umik," ucap Arum.
"Kita pasti kesiangan, kamu pergi ke kamar mandi dulu saja. Siap-siap kita sholat setelah itu biar aku yang temuin Umik." Titah Hasan dengan ekspresi paniknya.
Sungguh pagi hari yang panik bagi kedua sejoli yang di mabuk oleh api asmara.
"Umik!" seru Hasan yang baru saja membuka pintu.
"Sudah waktunya sholat, cepat sholat jangan sampai waktu sholatnya habis." Titah Umik.
"Baik Umik, terima kasih sudah membangunkan Hasan." Ujar Hasan.
"Lain kali kalau ada istrimu di dalam jangan lupa kunci pintu sebelum tidur!" Umik mengingatkan Hasan kemudian pergi berlalu dengan kewibawaan yang dia tunjukkan.
__ADS_1
"Apa kunci pintu? astaghfirullah, jangan-jangan tadi Umik lihat aku sama Arum tidur bareng," Hasan mulai mengerti maksud dari ucapan Umik dan mulai menepuk jidat karena kecerobohannya.