
Setelah kata SAH terdengar keluar dari bibir para tamu yang hadir kini Zahra keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu. Semua mata tertuju padanya, saat ini Zahra terlihat begitu cantik memukau.
Husein yang sejak tadi tertunduk kini mulai mendongak setelah mendapat colekan dari Hasan yang sengaja memberi isyarat agar Husein mendongak dan melihat ke arah para tamu yang fokus melihat kedatangan Zahra.
"Tutup mulutmu, Dek!" bisik Hasan tepat di telinga Husein saat melihat sang Adik hanua diam terpaku menatap Zahra yang berjalan mendekat dengan mulut menganga.
"Istriku cantik banget Kak," lirih Husein masih setia menatap Zahra meski sudah mendapat bisikan dari Hasan.
"Nanti kamu bisa puas-puasin lihat, sekarang bersikaplah seperti biasa jangan bikin malu!" Hasan kembali membisikkan setiap kata pengingat melihat Husein masih tak merubah posisi dan ekspresinya meski sudah di ingatkan oleh Hasan.
Husein yang mendapat peringatan untuk kedua kalinya kini mulai membenahi posisi duduk dan merapatkan mulut yang tadinya menganga.
"Mempelai wanita di persilahkan menandatangani surat nikah dan mencium punggung tangan sang suami." Ujar penghulu yang mengesahkan pernikahan keduanya
Zahra dan Husein menandatangi buku nikah keduanya secara bergantian kemudian Zahra beralih mencium punggung tangan Husein yang di balas dengan kecupan sayang di kening yang di berikan oleh Husein.
Acara ijab kabul kali ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan, kini tiba waktunya kedua mempelai beristirahat menunggu waktu siang di mana keduanya akan di rias dan duduk di singgah sana bagai raja dan ratu semalam.
Zahra duduk di tepi ranjang. Diam mematung tanpa bergerak, saat ini jantungnya sedang berpacu hebat bercampur rasa canggung, ini pertama kalinya dia berada di dalam kamar bersama seorang laki-laki, meski dia tahu dengan pasti jika laki-laki yang ada di kamarnya dan duduk tak jauh darinya sudah sah menjadi suaminya tetap saja rasa canggung merasuki hatinya.
"Kamu gak ganti baju dulu?" tanya Husein memecahkan keheningan juga mencoba Mencairkan suasana.
"Kenapa Kak Husein mau ganti baju?" bukannya menjawab Zahra malah balik bertanya.
"Enggak, aku cuma kasihan aja, apa kamu gak gerah atau risih pakai baju kayak gitu?" Husein juga langsung melontarkan pertanyaan setelah menjawab pertanyaan Zahra.
"Kalau gitu aku ganti baju dulu ya Kak." Pamit Zahra berdiri dari duduknya.
"Apa perlu Kakak bantu?" tawar Husein membuat Zahra terdiam mematung mendengarnya.
"Kenapa diam?" sambung Husein.
__ADS_1
"Eh, enggak Kak, aku bisa sendiri kok," jawab Zahra berjalan cepat menuju lemari. Mengambil baju ganti dan pergi menuju kamar mandi meninggalkan Husein yang sedang tersenyum lucu melihat tingkah Zahra.
'Aku semakin gemas melihatmu Zahra, seandainya ini sudah malam aku tidak akan membiarkanmu kabur seperti tadi," batin Husein menatap lurus ke arah kamar mandi dengan pintu yang sudah tertutup rapat.
Cukup lama Husein menunggu Zahra hingga rasa haus mulai hinggap, dengan langkah pasti Husein keluar dari kamar bermaksud mencari air minum tapi langkahnya terhenti oleh Zein sang sahabat yang kini menjadi Kakak iparnya.
"Oiii Adik Ipar!!" panggil Zein dengan nada sedikit tinggi.
"Eh Zein, ada apa?" sahut Husein menghentikan langkah dan menoleh ke Zein berada.
"Panggil gue Kakak Husein! loe lupa kalau gue sekarang udah jadi Kakak Ipar loe," protes Zein membuat Husein jengah.
"Iya, ada apa Kakak Ipar?" meski malas dan jengah Husein tetap memanggil Zein dengan sebutan Kakak Ipar karena apa yang di katakan oleh Zein memang benar adanya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zein menatap aneh ke arah Husein.
"Aku mau nyari air minum. Apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku?" jawab Husein.
"Mau main atau enggak itu sudah bukan urusanmu Kakak Ipar," sahut Husein ketus.
"Aku cuma mau ingetin jangan perang dulu sebelum acara ini selesai! gue gak mau ya acara yang udah susah payah di persiapkan jadi berantakan cuma karena ulah loe." Zein memberi peringatan.
"Tenang aja, gue belum perang sama adek lie cuma pemanasan biar entar lancar," Husein berucap sesuka hatinya pada Zein kemudian melangkah pergi meninggalkan Zein yang masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
"Lah gue di tinggalin, dasar Adek Ipar durjana," keluh Zein.
Meski Zein terlihat jengkel tapi dalam hatinya begitu bahagia karena sang sahabat yang cukup lama bersahabat dengannya kini menjadi Adik Iparnya. Zein merasa bahagia karena dia yakin sang Adik akan bahagia jika bersama dengan Husein yang terkenal setia.
"Loh Mas Husein mau ke mana?" tanya asisten rumah tangga Zahra yang sudah mengenal Husein sebelum acara ijab kabul ini terjadi.
"Saya haus Bik, mau ambil minum." Jawab Husein seraya celingukan.
__ADS_1
"Mas Husein mau minum apa? biar Bibik buatkan." Ujar Bibik.
"Terserah yang penting aku bisa minum Bik, kalau bisa aku minta dua gelas air dan dua porsi makanan apa bisa Bik," jawab Husein.
"Mas Husein bisa nunggu di kamar saja nanti Bibik akan antar ke sana," usul Bibik.
"Apa tidak merepotkan Bibik?" tanya Husein merasa sedikit tak enak hati melihat ada banyak pekerjaan yang terlihat menumpuk di dapur.
"Tidak kok, biar Bibik yang antar ke sana." Bibik sang asisten meyakinkan Husein agar setuju dengan usulan yang dia berikan.
"Baiklah, aku ke kamar dulu Bik." pamit Husein melenggang pergi meninggalkan Bibik yang mulai menyiapakan apa yang di minta oleh Husein. Jika Husein sedang pergi ke dapur berbeda dengan Zahra yang langsung menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi merapikan diri dengan gerakan kilat sebelum Husein kembali ke dalam kamar.
'Ceklek'
Suara pintu terbuka cukup mengejutkan Zahra yang sedang asyik duduk sambil memainkan gawainya.
"Kak Husein dari mana?" tanya Zahra mencoba bersikap sebiasa mungkin.
"Nyari minum, tolong siapkan baju ganti untukku!" pinta Husein sebelum masuk ke dalam kamar.
"Baju Kakak di mana?" tanya Zahra yang bingung harus menyiapkan baju Husein yang entah ada di mana.
"Zahra! boleh tidak mulai saat ini jangan panggil aku kakak?" bukannya menjawab Husein malah bertanya pada Zahra.
"Maksudnya bagaimana Kak?" Zahra yang tak mengerti dengan pertanyaan Husein hanya bisa bertanya tanpa bisa menyanggupi apapun.
"Ppanggil aku Mas! agar kita bisa lebih dekat dari sebelumnya," Husein menjelaskan maksud dari petanyaannya.
"Baiklah, baju Mas Husein ada di mana?" Zahra kembali bertanya sambil memperbaiki panggilannya.
"Baju Mas ada di koper, kamu bisa mengambilnya di pojok samping pintu." Jawab Husein kemudian melenggang pergi meninggalkan Zahra yang kini berjalan mencari koper yang di maksud oleh sang suami.
__ADS_1