Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Akhirnya, Dia Tidak Curiga


__ADS_3

Bunda Fia sejenak terdiam karena terkejut mendengar kabar kehamilan sang putri yang begitu tiba-tiba itu, hingga pada akhirnya dia berjingkrak karena bahagia.


"Alhamdulillah, aku akan jadi nenek!" Bunda Fia sampai melompat-lompat saking senangnya.


"Bunda, are you okey?" tanya Arum sedikit khawatir jika terjadi sesuatu pada sang Bunda.


Arum begitu mengerti dengan sifat sang Bunda yang akan melompat-lompat tak tentu arah sambil tersenyum bahagia saat mendengar sebuah kabar baik.


"Khem, aku baik kok, Nak, kamu tenang saja! jangan datang ke sini dulu sebelum swmuanya aman, kandunganmu sudah berapa bulan?" tanya Bunda Fia.


"Kandunganku sudah masuk empat bulan Bunda," jawab Arum.


"Sudah empat bulan tapi kamu baru ngasih tahu Bunda, Nak, astaghfirullah," spontan Bunda Fia.


Saat ini usia kandungan Arum sudah menginjak empat bulan yang berarti kurang lima bulan lagi dia melahirkan dan Huda juga akan kembali nanti, mungkin saat Arum melahirkan Huda sudah kembali atau setelah Arum melahirkan yang berarti kurang lima bulan lagi.


"Maaf Bunda, kemarin-kemarin Arum sangat susah mau melakuan aktifitas makanpun Arum pilih-pilih, jadi Arum tidak sempat untuk memberi Bunda kabar," Arum memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi agar sang Bunda tidak marah dan kecewa.


"Apa Oma juga belum tahu tentang kehamilanmu?" Bunda kembali bertanya setelah mendengar pengakuan sang putri sepertinya Oma Arum juga belum di beri tahu oleh sang putri.


"Maaf Bunda, belum," jawab Arum dengan nada penuh penyesalan.


Sebenarnya bukan keinginan dan niat Arum untuk menyembunyikan kabar tentang kehamilannya, hanya saja Arum tak memiliki waktu untuk memberitahukannya karena selama empat bulan belakangan ini dirinya selalu di landa rasa yang tak biasa, mulai dari mual, pusing dan pilih-pilih dalam segala hal termasuk makanan.

__ADS_1


"Kenapa Kamu tidak memberi tahu Oma, Nak?" tanya Bunda Fia yang merasa heran dengan apa yang fi lakukan Arum saat ini, bagaimana tidak heran Arum yang biasanya selalu memberi kabar tentang apapun dan selalu berbagi dengan keluarganya baik itu kabar gembira atau kabar yang bisa membuat yang mendengar sedih selalu Arum beritahukan. Tapi kenapa saat ini berbeda.


"Aku juga tidak sempat memberitahukannya Bunda, maaf," hanya kata maaf yang bisa Arum katakan untuk meredakan kekesalan sang Bunda yang mungkin saat ini dia rasakan.


"Sudahlah, tidak apa-apa, yang terpenting kamu dan calon cucu Bunda baik-baik di sana," Bunda Fia kini mencoba memahami keadaan dan perubahan yang mungkin terjadi pada sang Putri saat hamil.


"Maaf ya Bunda," sekali lagi Arum meminta maaf karena dia merasa jika dirinya memang salah seharusnya sejak awal Arum memberitahukan keluarganya tentang kehamilannya itu.


"Sudah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong hari tiga bulanannya kapan di adakan?" tanya Bunda Arum.


Tradisi di tempat Arum memang merayakan tiga bulanan di bulan yang ke empat, dan tujuh bulanan di bulan yang ke delapan.


"Mungkin minggu depan Bunda," jawab Arum.


Arum dan Hasan juga Umik dan Abi Ilzham sudah merencanakan tiga bulanan kehamilan Arum minggu depan tepat di hari sabtu malam minggu wage, kata orang jawa dulu harus mencari hari berweton wage agar nanti pas lahiran age-age yang artinya cepat keluar tidak kesulitan pas melahirkan.


"Hari Sabtu malam minggu Bunda tanggal dua puluh," jawab Arum.


"Baiklah, Bunda sama Ayah akan usahakan datang sebelum hari sabtu, begitu juga dengan Kakakmu Steve dan Oma, mereka mungkin juga akan datang." Ujar Bunda Fia.


"Benarkah? apa kakak sudah selesai menjalankan tugas Bunda?" tanya Arum dengan ekspresi yang penuh antusias.


"Sudah, Nak, saat ini Kakakmu sedang membantu Ayah di sini dan mungkin empat bulan lagi Ibu dan Ayah akam pulang dan tinggal di indonesia untuk menemani Oma kamu seperti yang pernah kami janjikan," Bunda Fia menjelaskan apa yang sudah di rencanakan.

__ADS_1


"Empat bulan lagi, berarti sebelum Arum lahiran ya Bunda?" tanya Arum penuh dengan semangat mengingat betapa bahagianya dirinya jika benar sang Bunda dan Ayah akan ada di indonesia saat dia melahirkan nanti.


"Kala usia kandunganmu benar empat bulan maka itu benar, Nak," jawab Bunda Fia dengan senyum yang mulai mengembang di bibirnya, karena saat dia dan suami kembali nanti akan ada anghota baru yang memberi warna baru di hidupnya, Fia akan merasakan kembali menggendong bayi kecil yang pasti akan imut nan lucu nanti.


"Aku seneng banget dengernya Bunda, semoga saja semua akan tetap baik-baik saja sampai nanti bayi ini lahir," sahut Arum sambil mengungkapkan harapannya.


"Semoga, Nak, Binda akan selalu berdo'a untuk kesehatanmu dan bayi yang kamu kandung," ujar Bunda Fia.


"Kalau begitu aku tutup dulu telfonnya ya Bu, aku mau makan. Laper Bunda," Arum yang baru ingat dengan gethuk pesanannya tiba-tiba langsung lapar dan ingin ke dapur melihat sang suami apa semuanya sudah selesai atau belum.


"Kamu baik-baik di sana, Nak, jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak beraktifitas," pesan Bunda Fia sebelum akhirnya panggilan telfon itu bebar-benar terputus.


Arum yang sudah tidak sabar ingin segera makan gethuk yang dia pesan pada sang suami langsung berjalan hendak keluar dari kamar untuk menemui sang suami di dapur setelah menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, kini Arum berjalan menuju arah pintu untuk membukanya tapi belum sempat Arum sampai di dekat pintu, justru pintu itu lebih dulu terbuka dan nampaklah Hasan datang dengan sepiring gethuk yang di taburi kelapa juga gula merah sesuai pesanan Arum.


"Abi sudah selesai membuatnya?" tanya Arum dengan wajah berbinar melihat seporsi gethuk sudah ada di hadapannya.


"Sudah, ayo makan!" ajak Hasan.


Arum yang sudah tidak sabar di tambah rasa bahagia yang masih melekat dalam dirinya, setelah mendengar kabar dari Bunda Fia jika Ayah dan Bundanya akan pindah ke indonesia setelah empat bulan lagi dan kabar-kabar yang membuat Arum bahagia membuatnya tak menghiraukan hal lain saat ini kecuali bisa makan gethuk.


Sedangkan Hasan terlihat gelisah dan khawatir, dia khawatir kalau Arum menyadari jika gethuk yang dia makan bukan gethuk buatan Hasan melainkan beli di tempat lain.


"Bagaimana Syei'? apa rasanya enak?" Hasan mulai memancing mencari tahu apa Arum curiga atau malah sebaliknya.

__ADS_1


"Enak Bi, apa Abi mau?" jawab Arum dengan senyum bahagia yang terlihat jelas di wajahnya, Hasan melihat dengan jelas jika tak ada gurat kecurigaan di wajah Arum membuat dia bisa bernafas dengan lega.


'Akhirnya, dia gak curiga,' batin Hasan.


__ADS_2