
Umik yang melihat raut khawatir di wajah Ayah Desy langsung menunjukkan sebuah senyum yang membuat Sulaiman Ayah dari Desy sedikit merasa lega, karena senyuman yang di tunjukkan oleh Umik itu berarti pertanda jika Desy tidak melakukan kesalahan.
"Desy tidak melakukan kesalahan apapun Pak, hanya satu kesalahan yang dia lakukan dan kami ke sini untuk membicarakan hal itu," ujar Umik membuat Sulaiman takut mendwngar jika Putrinya membuat kesalahan, Sulaiman yakin kesalahan yang di perbuat Putrinya pasti fatal.hongga membuat Umik Uqi dan keluarganya datang.
"Saya minta maaf sebelumnya jika Putri kami melakukan kesalahan, tolong maafkan dia," suara Sulaiman terdengar begitu memelas.
"Bapak tidak perlu khawatir, kami ke sini hanya mengantarkan puteraku Huda untuk meminang putri Bapak, apa bapak menerima pinangan putera kami?" Arif langsung berbicara pada intinya karena Umik terlihat ingin sedikit mengetes Ayah Desy dengan kata-kata.
Kedua orang tua Desy terlihat begitu terkejut mendengar ucapan Arif, mungkin semua yang terjadi memang terkesan tiba-tiba, karena tak ada yang memberitahukan kedua orang tua Desy sebelumnya.
"Apa ini sungguhan? atau hanya bercanda? maaf, kami hanya keluarga sederhana yang hidup di desa, apa benar kalian mau meminang Putri kami yang berasal dari keluarga biasa seperti kita?" Ayah Desy yang masih belum percaya membrondongi Umik dan yang lain dengan berbagai pertanyaan yang wajar untuk di dengar.
"Bapak tidak usah memikirkan status sosial ataupun kedudukan, karena kami tak pernah memandang hal itu, bagi kami setiap manusia itu sama yang membedakan hanya sikap dan ketaatannya pada agama," Umik menjelaskan jika Ayah Desy tak perlu memikirkan soal status sosial, karena Umik dan yang lain tak pernah memandang hal itu.
"Kami serius ingin menjadikan Putri Bapak, Desy, untuk menjadikan bagian dari keluarga kami, istri dari puteraku Huda," sahut Arif sambil menunjuk Huda yang sejak tadi diam.
Ini pertama kalinya dia datang ke rumah orang untuk meminta seorang gadis agar menjadi istrinya, Huda begitu gugup hingga mulutnya terasa keluh untuk berbicara.
"Bagaimana saya bisa menolak jika yang meminang anak saya adalah orang yang paling saya hormati, saya dan istri menerima pinangan yang di tujukan pada Putri kami," jawaban yang paling di tunggu-tunggu akhirnya keluar dari bibir Ayah Desy.
"Alhamdulillah," semua orang yang ada di ruang tamu berucap syukur karena pinang yang mereka lakukan sudah di terima.
__ADS_1
Rona bahagia terlihat jelas di wajah Huda dan yang lain, satu rencana sudah terselesaikan dengan baik, tinggal melanjutkan rencana yang lain.
"Khem," Huda berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang karena gugup.
"Maaf sebelumnya, tapi apa saya boleh meminta satu hal pada Bapak dan Ibu?" sambung Huda mengucapkan setiap kata dengan hati-hati.
"Permintaan apa ya, Nak?" tanya Ayah Desy yang bingung dengan permintaan yang di ucapkan oleh Huda.
"Maaf sebelumnya, saya tidak punya maksud apa-apa, saya hanya ingin meminta Bapak dan Ibu juga keluargaku yang lain merahasiakan pinangan saya ini, Bapak saya meminang Desy untuk menjadikannya calon istri tapi saya tidak bisa langsung menikahinya karena saya masih punya kewajiban untuk menyelesaikan beasiswa saya di Australia, selain itu saya juga ingin Desy menyelesaikan dulu sekolahnya jadi bolehkah saya meminta untuk merahasiakan pinangan ini sampai saya kembali dari Australia?" pinta Huda yang sukses membuat Ayah Desy bingung.
"Maksudnya bagaimana ya? saya jadi bingung," sahut Ayah Desy.
"Begini Pak, maksud keponakan saya, saat ini dia hanya ingin mengikat Desy agar Bapak dan keluarga tidak menerima orang lain untuk di jadikan menantu, dua hari lagi keponakan saya ini akan pergi ke Australia melanjutkan kuliahnya yang tinggal satu tahun lagi, tapi sebelum itu dia ingin meminta Desy pada bapak agar tidak di nikahkan dengan orang lain sampai dia kembali nanti, setelah Huda kembali baru kita akan datang lagi untuk membicarakan acara pernikahannya, maklum Pak, Desy kan cantik dan baik jadi Keponakan saya khawatir jika Desy di ambil orang lain saat dia kembali ke Australia untuk menyelesaikan beasiswanya." Umik menjelaskan apa yang di maksud oleh Huda sang keponakan.
Setelah mendengar penjelasan Umik dan Huda orang tua Desy langsung terdiam memikirkan apa yang baru saja di jelaskan oleh keduanya.
"Menurut Ibu bagaimana? apa Ibu setuju dan menerimanya?" kali ini Ayah Desy tak ingin mengambil keputusannya sendiri, dia bertanya pendapat sang istri.
"Kalau Ibu menurut saja sama keputusan yang akan Bapak pilih, bagaimana baiknya saja Pak," jawaban Ibu Desy membuat Huda semakin yakin untuk menjadikan Desy calon istrinya karena Huda yakin orang tua adalah cerminan bagi anak-anaknya. Meski pepatah itu tak selamanya benar setidaknya Huda sudah banyak melihat kenyataan yang sama seperti pepatah yang dia yakini.
Ayah Desy sejenak terdiam, dia memikirkan setiap hal yang akan terjadi, baik atau pun buruk semuanya sudah dia fikirkan.
__ADS_1
"Baiklah, Nak, aku setuju dengan permintaan yang kau pinta," dengan berbagai pertimbangan Ayah Desy menyetujui permintaan yang di ajukan oleh Huda.
"Alhamdulillah," lirih Huda penuh dengan rasa Syukur yang tak bisa di ukur oleh apapun.
"Ibu, ini minum dan camilannya." Seorang gadis remaja dengan senyum ramahnya membawakan minuman dan camilan ke arah sang Ibu.
"Silahkan di minum!" ujar Ibu Desy menaruh minuman yang di bawa sang gadis.
"Maaf, cuma ada gorengan silahkan di cicipi!" sambung Ibu Desy menaruh sepiring penuh pisang goreng dan singkong goreng di atas meja.
"Loh, ini siapa ya Bu?" kali ini Umuk yang bertanya, melihat seorang gadis remaja yang di perkirakan masih SMP dengan perawakan lembut dan baju syar'i yang menutupi tubuhnya membuat Umik tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ini Putri kedua kami, namanya Silvi, Nak salim sama Umik dan yang lain!" titah Ibu Desy sambil memperkenalkan Adik Desy pada yang lain.
"Owalah jadi ini adiknya Desy, kenapa saya gak pernah lihat dia ke pesantren?" Umik kembali bertanya.
"Dia jarang ikut ke pesantren Umik, maklum sepeda motornya sempit kalau ikut, sekalipun dia ikut dia tidak pernah ikut masuk ke ndalem atau masuk ke dalam pesantren, Silvi hanya duduk di balai pengiriman saja," jawab Ibu Desy.
"Pantas saja aku gak pernah lihat," gumam Umik menatap ke arah Silvi yang kini sedang tersenyum di hadapannya.
"Kenapa tidak ikut jadi santri saja?" sambung Umik.
__ADS_1
"Rencananya kami mau memasukkannya ke pesantren, tapi nanti Umik kalau sudah lulus sama seperti Kakaknya," Ibu Desy kembali menjawab pertanyaan Umik dengan jawaban apa adanya.