Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sah


__ADS_3

Dari kejauhan rumah Omah Arum terlihat banyak tamu yang datang, semua saudara Arum fan beberapa tetangga juga saudara Hasan telah berkumpul bermaksud menghadiri acara akad nikah Hasan dan Arum.


Sesaat suasana yang tadi tenang menjadi riuh tatkala melihat kehadiran Arum yang baru saja turun dari mobil yang di tumpanginya, hampir semua keluarga berjalan mendekat ingin melihat Arum yang sudah di make up dan memakai gaun pengantin.


"Wahh Arum kamu cantik sekali," seru beberapa saudara Arum yang melihat kecantikan Arum.


Seutas senyum terlihat di bibir Arum sebagai isyarat jika dia tengah membalas pujian dari para saudaranya.


Arum melangkah dengan langkah pasti menuju kamar yang biasa di tempatinya saat pulang ke rumah Oma, dengan perasaan yang campur aduk membuat Arum duduk dengan keadaan tidak tenang.


"Bunda!" panggil Arum yang langsung berdiri berlari menghampiri Sang Bunda yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Arum kangen," ucap Arum sambil memeluk erat sang Bunda.


"Bunda juga kangen, bagaimana kabarmu Nak?" sahut Bunda Fia sambil menanyakan kabar sang putri.


"Arum baik Bun, Kakak sama Ayah mana Bun?" tanya Arum sambil celingukan mencari sosok laki-laki paling berarti dalam hidupnya.


"Ayah sedang mandi dan sebentar lagi pasti akan menyusul ke sini, dan Kakakmu mungkin sepuluh menit lagi sampai, dia sedikit terlambat tapi bisa di pastikan kalau kakakmu akan datang." Jawab Bunda Fia.


"Kenapa kakak gak pernah bisa on time? padahal Aku kangen banget sama dia," keluh Arum.


Sudah berbulan-bulan Arum tak bertemu dengan Kakaknya Stev karena Kakaknya itu harus pergi ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya di sana.


"Dia sedang bekerja Nak, dan pekerjaan kakakmu itu sangat banyak. Makanya di sering terlambat," jelas Bunda Fia yang membuat Arum mengerti.


"Masya Allah cucu Oma cantik sekali," suara Oma Arum terdengar begitu meneduhkan.


"Oma!" ujar Arum yang beralih memeluk Omanya.


"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Nak," untaian do'a terdengar begitu lembut keluar dari bibir Oma.

__ADS_1


"Amin," sahut semua yang ada di kamar.


"Uqi, Aku titip putri kesayanganku. Sayangi dan jaga dia seperti putrimu sendiri!" pesan Bunda Fia dengan wajah penuh keseriusan.


"Kamu tenang saja, Aku pasti bakal jaga dan sayangi Arum seperti puteriku sendiri." Jawaban Umik Uqi membuat seutas senyum terbit di wajah Fia.


Suara ribut saudara-saudara kedua belah pihak kini tak lagi terdengar menandakan jika acara akan segera di mulai, dan suara penghulu menuntun ijab kabul yang di ucapkan oleh Hasan hanya dengan satu tarikan nafas dan terdengar suara para tamu mengatakan satu kata sakral yang merubah status Arum.


"Sah," seru para tamu membuat hati Fia dan Uqi bahagia mendengarnya.


Apa yang di rasakan Fia dan Uqi juga di rasakan oleh Hasan yang sejak tadi menahan perasaan gugup yang menyerangnya, perlahan Arum keluar dari kamar bersama Fia dan Uqi menuju ruang tamu tempat Hasan dan para tamu berada.


Hasan yang melihat gadis yang kini telah menjadi istrinya itu langsung mematung karena terpesona oleh Arum yang terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang melekat di tubuhnya.


"Khem," deheman Bunda Fia menyadarkan Hasan yang sedang terpaku menatap kecantikan putrinya.


"Sudah jangan di pandang terus, pandang-pandangannya nanti saja." seloroh Bunda Fia yang membuat seluruh tamu tersenyum karenanya.


Acara ijab kabul hari ini berjalan dengan lancar tanpa ada masalah membuat semua keluarga mengucapkan kata syukur karenanya, Arum kini duduk di samping Hasan berkumpul bersama saudara-saudaranya. Hingga kedatangan seorang laki-laki mengalihkan perhatian Arum.


Tanpa banyak bicara Arum langsung berdiri memeluk laki-laki yang masih berdiri di tengah pintu.


"Aku rindu padamu, kenapa datang terlambat?" celetuk Arum sambil memeluk erat laki-laki itu.


"Maaf, Kakak terlambat tadi jualannya macet," sahut Steven.


"Khem," deheman Hasan membuat Arum sadar jika saat ini dia bukan lagi gadis lajang yang bisa bersikap sesuka hati.


"Siapa?" tanya Hasan yang memang belum pernah bertemu dengan Stev sebelumnya.


"Kenalin Aku Steven Ubaydillah, Kakak kandung Arum," terang Steven memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Maafkan Bunda yang belum sempat mengenalkanmu dengan Steven, ini anak pertama Bunda Steven Ubaydillah yang berarti Kakak Arum," sela Bunda Fia yang mengerti jika Hasan sedang bingung dengan perkenalan yang di lakukan oleh Stev.


"Kenapa Hasan tidak pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hasan yang tak pernah bertemu dengan Stev sebelumnya.


"Steven bekerja di luar negeri dan baru bisa cuti sekarang, jadi wajar jika Kamu tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya," Bunda Fia menjelaskan alasan Steven yang tak pernah dia temui.


"Maaf Kak, Aku kira Kakak siapa?" cakap Hasan yang langsung meraih tangan Steven dan mencium punggung tangannya.


"Tidak masalah, yang penting kamu bisa jaga dan membahagiakan adikku itu sudah cukup." Pesan Stev.


"Pasti Kak," tegas Hasan.


"Masuk dulu Kak!" Arum menarik tangan Steven masuk ke dalam rumah.


Arum memang terkadang bersikap manja pada Stev, apalagi saat Stev baru pulang setelah berbulan-bulan bekerja di luar negeri.


"Kakak bawa oleh-oleh apa untukku?" tanya Arum yang tiba-tiba memeluk lengan Stev dan mengabaikan Hasan yang duduk di sampingnya.


"Kakak punya oleh-oleh untukmu, tapi nanti saja kakak berikan." Jawab Stev sambil melepas pegangan tangan Arum di lengannya.


"Dek, saat ini kamu sudah menjadi istri dari Hasan, akan lebih baik jika kamu memeluk lengannya dari pada memeluk tangan Kakak," bisik Stev yang mengerti jika sikap Adiknya Saat ini bukanlah sikap yang baik di lakukan seorang istri saat ada suaminya.


Arum yang mendengar bisikan dari Stev perlahan melepas pelukan tangannya dari lengan Stev, dan perlahan menoleh ke arah Hasan yang terlihat diam tanpa kata dengan tatapan dingin.


Hasan hanya diam tanpa banyak berkomentar hingga semua tamu pulang dan acaranya benar-benar berakhir membuat Arum tak berani bersikap manja bahkan dia selalu duduk dan mengikuti langkah Hasan kemanapun dia pergi. Seperti anak ayam yang mengekor pada induknya.


"Dek, makan dulu, ajak juga suamimu!" titah Stev saat Hasan dan Arum duduk di ruang tamu.


"Kak! ayo makan dulu!" ajak Arum sembari memeluk tangan Hasan dan mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk makan bersama dengan anggota keluarga inti yang lain.


Mendengar dan mendapat perlakuan lembut dari Arum membuat hati Hasan yang semula emosi kini langsung dingin dan mengikuti langkah Arum masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2