Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Penjelasan Huda


__ADS_3

Siang telah berlalu kini berganti sore, satu per satu para santri pergi meninggalkan pesantren menuju rumah mereka masing-masing.


"Loh, Erwin kok ada di sini Ibu?" tanya Desy yang bingung melihat kehadiran Erwin.


"Iya, Erwin ini yang akan mengantar kita pulang." Jawab Ibu Desy.


"Tap~" ucapan Desy terpotong karena sang Ibu langsung mengatakan hal lain.


"Sudah, ayo pulang! Ibu sudah menyiapkan sesuatu yang spesial di rumah untukmu," Ibu Desy memotong pembicaraan Desy.


Tanpa banyak protes Desy mengikuti langkah sang Ibu masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. Ada begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Desy saat ini, tapi dia hanya bisa diam tanpa bisa mengungkapkannya hingga mobil sampai di rumah sederhana milik Desy yang tampak sepi seperti biasa.


"Kok sepi sekali Bu, Vina ke mana?" tanya Desy saat melihat rumahyang dia fikir tadi akan ada Vina yang menunggu dengan pintu yang terbuka seperti biasa, tapi ternyata malah terlihat sepi seperti tak berpenghuni.


"Ada di dalam," jawab Ibu Desy sambil menggandeng tangan Dwsy.


"Tunggu sebebtar Bu!" cegah Desy saat sang Ibu hendak mengajaknya masuk.


"Ada apa, Nak?" tanya Ibu Desy dengan ekspresi bingung melihat Desy menahan dirinya.


"Aku mau ambil barang-barang dulu di mobil." Jawab Desy.


"Untuk apa, Nak? biarkan Erwin yang melakukannya." Jawaban Ibu Desy sukses membuat Desy terkejut, sejak kapan Ibunya itu bertingkah seperti bos yang suka menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaannya.


"Kenapa lagi, Desy?" Ibu Desy semakin heran melihat Desy yang justru semakin diam tak bergerak.

__ADS_1


"Sejak kapan Ibu suka menyuruh orang?" lirih Desy tapi masih di dengar oleh sang Ibu.


"Sekali-sekali minta bantuan orang lain itu wajar kan, Nak," ujar Ibu Desy.


Mendengar ucapan Ibu Desy sukses membuat sang anak terdiam sambil geleng kepala, Desy tak lagi berkomentar, dia hanya diam mengikuti langkah sang Ibu tanpa banyak protes.


Sampai di teras rumah suasana masih sepi tanpa penghuni hingga pintu rumah terbuka, nampaklah Ayah dan Ibu Huda bersama Vina duduk di kursi ruang tamu, kemudian keluarlah Hudan dengan buket mawar merah dan satu kotak bludru berwarna merah seperti yang tadi di lihat oleh Desy, berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat datang calon istriku," seru Huda membuat Desy terkejut bercampur bingung melihat Huda dan kedua orang tuanya berada di rumahnya.


"Apa maksud semua ini?" tanya Desy bingung.


"Ambil dulu buket bunga dan kotak ini, setelah itu aku akan jelaskan semuanya." Titah Huda.


Desy yang mendengar perintah Huda langsung berjalan mendekat ke arahnya dan mengambil buket bunga dan kotak yang di pegang oleh Huda kemudian melangkah mendekat ke arah sang Ayah dan Ibu yang sudah duduk di kursi ruang tamu.


"Apa yang di katakan Mas Huda benar Ibu, Ayah?" bukannya menanggapi ucapan Huda, Desy malah menoleh ke arah Ayah dan Ibunya, bertanya pada mereka tentang kebenaran yang telah di jelaskan oleh Huda.


"Iya, Nak, maaf kami merahasiakan semuanya padamu," jawab Ibu Desy.


"Nak, Huda benar Desy, kami semua sengaja merahasiakan darimu bukan tanpa maksud, Nak Huda meminta kami semua merahasiakan darimu agar kamu bisa berkonsentrasi belajar dan tak memikirkan tentang pertunangan ataupun pernikahan ini," Ayah Desy yang mengerti tentang keterkejutan Desy mencoba menjelaskannya.


Desy sejenak terdiam sambil menundukkan kepala, hatinya terasa begitu membingungkan, di sisi lain dia bahagia karena cinta dan penantiannya tidak sia-sia, tapi di sisi lain dia juga bingung harus bersikap seperti apa, semuanya terasa begitu mendadak.


"Apa kamu tidak bisa menerimaku Desy?" tanya Huda yang merasa bingung melihat Desy yang justru menundukkan kepala diam tanpa kata.

__ADS_1


"Maaf apa yang aku lakukan ini membuatmu kecewa," sambung Huda dengan ekspresi penuh kekhawatiran melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Desy.


"Maaf, aku hanya terkejut dengan semua yang terjadi, semuanya terasa begitu tiba-tiba," akhirnya Desy bersuara menjelaskan kediamannya.


"Apa itu artinya kamu menerimaku, Desy?" dengan ekspresi penuh harap Huda kembali bertanya.


"Apa cincin ini juga dari Mas Huda?" bukannya menjawab Desy malah balik bertanya.


"Iya, lihatlah! kita memiliki sepasang cincin yang sama, meski bahannya berbeda," ujar Huda dengan wajah yang kembali cerah.


Desy tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Huda, dan sikap Desy membuat seluruh anggota keluarga yang ada di ruang tamu bernafas lega karenanya.


"Bagaimana Desy? apa kamu sudah sepenuhnya menerima putera kami?" kali ini Imah yang melempar pertanyaan karena sejak tadi Desy tak menjawab pertanyaan Huda.


Desy tersenyum sambil menundukkan kepala, kemudian mengangguk membuat semua orang serempak mengucapkan kara syukur karena jawaban yang di tunggu-tunggu akhirnya terjawab sudah.


'Shinta, seandainya kamu di sini dan tahu apa yang telah terjadi ini, aku yakin kamu pasti akan ikut bahagia, ternyata penantianku selama ini tidak sia-sia,' batin Desy dengan senyum yang melekat di bibirnya.


"Alhamdulillah, sekarang lebih baik kita makan bersama untuk merayakan kembalinya Huda dan wisudah Desy," ujar Ibu Desy yang di setujui oleh semua orang.


Rumah Desy memang tak terlalu besar, di tambah tak ada ruang makan di sana, jadi acara makan bersama kali ini berada di ruang tengah di mana biasanya Desy dan yang lain menghabiskan waktu santai bersama dengan menonton TV di sana, semua makanan telah di tata sedemikian rupa meski lesehan tapi terasa begitu nikmat, Erwin yang sejak tadi ada di teras kini ikut bergabung dan makan bersama, sungguh suasana kekeluargaan yang telah lama di rindukan oleh Desy dan Huda.


Sudah setahun ini Huda makan sendiri di Australia, begitu pula dengan Desy yang hampir tidak pernah makan bersama keluarganya seperti ini karena harus berada di pesantren. Sungguh hari yang sangat sempurna, Desy mendapatkan semua yang dia inginkan, keluarga, cinta dan juara semua dia dapatkan hari ini, setelah berjuang selama setahun akhirnya dia menuai apa yang telah dia tanam.


"Terima kasih," ucap Huda, saat ini Desy dan Huda sedang duduk di kursi yang ada di teras rumah Desy, sedang keluarga yang lain sedang asyik mengobrol di ruang tamu.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa?" tanya Desy.


"Terima kasih karena telah setia menunggu, dan meberimaku, aku tak bisa menjanjikan apapun padamu, aku hanya bisa bilang jika aku akan berusaha jadi imam yang baik untukmu." Ucap Huda.


__ADS_2