Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Cincin dan kalung warisan dari Oma


__ADS_3

"Dasar tukang narsis," seru Steve.


Keduanya berhenti tepat di halaman warung penyet tempe dan lele yang dulu sering sekali mereka datangi.


"Sudah cukup lama kita gak ke sini ya Kak, tapi tak ada satupun yang berubah semua masih sama seperti dulu," ucap Arum memperhatikan setiap sudut warung yang terlihat masih sama sebelum Arum dan keluarganya pindah ke luar negeri.


"Kamu bener Dek, masih sama seperti dulu," sahut Steve.


Arum dan Steve berjalan masuk menikmati menu spesial yang telah di sediakan, ternyata bukan hanya tempat yang sama begitu juga dengan rasa masakan yang di suguhkan masih sama seperti dulu tak ada yang berubah.


Sarapan pagi yang terasa begitu nikmat telah di lewati. Arum dan Steve kembali meneruskan perjalanan menuju mension. Dari kejauhan terlihat jelas kesibukan yang terjadi di mension dekor pernikahan sudah menghiasi halaman, ada begotu banyak orang yang berlalu lalang melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


"Wah rame banget kak," celetuk Arum.


"Kalau sepi kuburan Dek, situ lupa besok hari resepsi pernikahanmu yang sukses membuat semua orang sibuk karenanya." Ujar Steve yang terlihat sedikit lelah bercampur terpaksa.


"Ishhh yang ikhlas donk Kak, entar kalau kamu nikah aku juga bakal repot bantuin persiapan pernikahanmu," sahut Arum.


"Aku ikhlas Dek, kamu tenang aja," Steve mengelak.


"Ikhlas kok nadanya kayak orang terpaksa gitu," sindir Arum.


"Sudahlah jangan bahas ikhlas mulu, kamu mau turun apa mau terus debat di sini?" Steve merasa jika dia meneruskan perdebatan yang di mulai oleh sang adik maka tak akan pernah selesai.

__ADS_1


"Baiklah, aku turun duluan ya kak." Pamit Arum keluar dari dalam mobil masuk ke dalam rumah setelah mendapat persetujuan dari sang Kakak.


"Wahhh semuanya benar-benar sibuk, bagaimana kalau besok aku kabur dan pernikahan ini batal? pasti bakal heboh," celetuk Arum.


'Plak' satu tepukan lumayan keras mendarat mulus di punggung Arum membuat sang empu langsung terkejut karenanya.


"Astaghfirullah," spontan Arum.


"Husss, kamu ini ngomong apa? kalau sampai batal ku coret kamu dari daftar kartu keluarga dan hak waris, jangan sampai bikin malu Bunda dan keluarga kita kamu!" hardik Bunda Fia yang baru saja sampai dan tak sengaja mendengar ucapan ngawur sang putri.


"Hehehe maaf Bunda, Arum hanya bercanda," ucap Arum sambil nyengir kuda.


"Bercandamu gak lucu Arum, ingatlah setiap ucapan adalah do'a bagaimana kalau do'a yang kamu ucapkan di dengar oleh malaikat dan di ijabah, Bunda juga yang bakal kerepotan dan malu pastinya," Bunda Fia terlihat begitu geram dengan ucapan Arum yang terkesan ngawur, dan Arum yang tadi hanya asal bicara merasa menyesal karena kecerobohannya dia harus mendapat omel Bunda di pagi hari.


Bunda Fia selalu saja merasa sulit untuk terus marah saat sang putri mulai bersikap manja padanya.


"Habisnya kamu datang-datang bikin emosi, lain kali jangan pernah bucara sembarangan! kamu harus selalu ingat jika setiap ucapan adalah do'a." Bunda kembali mengingatkan Arum agar tak sembarang bicara.


"Baik Bunda, Arum mengerti dan berjanji kalau Arum tidak akan pernah mengulanginya lagi," tak ada lagi yang bisa Arum lakukan kecuali kembali berjanji dan mulai berhati-hati agar tak mengulangi kesalahan yang sama.


"Sudah ayo masuk! keluarga yang lain sudah menunggumu sejak tadi!" ajak Bunda menggandeng tangan Arum untuk masuk ke dalam mension.


"Cucu Oma sudah datang, kemarilah Nak!" belum juga dua langkah Arum masuk ke dalam rumah sang Oma sudah menghadangnya tanpa perlu persetujuan Arum Oma lnngsun menggandeng tangan Arum untuk ikut bersamanya masuk ke dalam kamar Oma.

__ADS_1


"Ada apa Oma?" tanya Arum yang melihat sikap aneh sang Oma.


"Oma hanya rindu padamu Cu, dan Oma punya sesuatu yang ingin Oma berikan padaku." Jawab Oma sambil berjalan menuju brankas penyimpanan uang dan perhiasan miliknya.


Oma Arum mengambil dua kotak perhiasan dari dalam brankas dan kembali berjalan mendekat ke arah Arum.


"Cucuku sudah tumbuh jadi seorang gadis dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri, Oma sungguh tak menyangka waktu berjalan begitu cepat, padahal Oma merasa jika baru kemarin Oma memangku dan menimangmu, tapi besok kamu akan ikut pergi bersama suamimu dan kembali meninggalkan Oma sendiri di mension ini." Oma Arum hari ini terlihat begitu berbeda dari biasanya, beliau lebih banyak bicara membuat Arum heran.


"Omma Arum hanya menikah tidak akan pergi ke mana-mana, lagi pula rumah suami Arum juga tak jauh seperti rumah Ayah di luar negeri, Arum masih bisa sering-sering datang ke sini untuk menjenguk Oma begitu pula dengan Oma yang bisa pergi ke rumah Arum kapan saja Oma mau nanti," tutur Arum sambil menahan segala rasa yang berkecambuk dalam dirinya, bagaimana tidak bercampur aduk saat melihat sang Oma berbicara dengan ekspresi wajah sedihnya.


"Apa yang kamu ucapkan memang benar, tapo tetap saja Oma merasa sedih bercampur bahagia ketika harus melepaskanmu. Kamu adalah cucu perempuan satu-satunya yang Oma miliki dan kamu juga sudah lama tinggal di luar negeri maka dari itu Oma merasa sedih karena harus di tinggal kembali," Oma Arum mencurahkan segala rasa sedih yang ada dalam hatinya.


"Oma, jangan bersedih di hari bahagia seperti saat ini! kalau Oma bersedih maka aku juga ikut bersedih," ujar Arum mencoba membujuk sang Oma agar tak lagi menunjukkan wajah sedihnya di hadapan Arum.


"Baiklah Oma akan berusaha menghilangkan rasa sedih ini, tapi sebelum itu kamu harus terima beberapa barang dari Oma." Ujar Oma seraya membuka dua kotak perhiasan yang tadi di keluarkan dari brankas miliknya.


"Apa ini Oma?" tanya Arum yang tak mengerti maksud dari dua benda yang oma keluarkan.


"Ini cincin dan kalung Arum," jawab Oma santai.


"Arum tahu jika ini cincin dan kalung, tapi yang gak Arum ngerti untuk apa cincin dan kalung itu Oma?" Arum memperjelas maksud dari pertanyaannya.


"Ini adalah cincin dan kalung pernikahan Oma bersama Opa kamu dulu, sudah cukup lama Oma menyimpan dan merawatnya, awalnya Oma berniat untuk memberikannya pada Putri kandung Mama. Tapi tuhan berkehendak lain, Oma tak memiliki Putri melainkan hanya memiliki seorang putera, jadi saat Ayahmu menikah Oma sudah berjanji untuk mewariskan cincin dan kalung penuh kenangan ini untuk cucu Oma nanti, dan sekarang adalah saat yang tepat untuk Oma memberikannya padamu." Jelas Oma seraya memakaikan kalung dan cincin yang dia keluarkan tadi.

__ADS_1


__ADS_2