
"Abi!" panggil Arum dengan penuh kebahagiaan.
"Apa Syei?" sahut Hàsan, menoleh ke arah Arum yang memanggilnya.
"Gak apa-apa, cuma kangen aja," jawab Arum berjalan mendekat ke arah Hasan yang berdiri tak jauh dari tempat Arum duduk.
Arum merasa begitu merindukan Hasan, padahal Hasan hanya pergi sepuluh menit tidak lebih dari itu, Arum yang merasa rindu langsung berjalan mendekat ke arah Hasan kemudian memeluknya dari belakang sambil mengusap-usap pipi dan hidungnya di punggung sang suami, menikmati aroma tubuhnya yang tercium begitu segar dan memabukkan.
"Sejak kapan bau Mas bisa se segar ini?" tanya Arum sambil terus mengendus-endus di punggung Hasan, menikmati aroma tubuhnya.
Jika Arum merasa begitu nyaman saat mencium aroma segar dari punggung Hasan, maka sangat jauh berbeda dengan Hasan yang langsung tegang. Mendapat perlakuan yang tak biasa membuat Hasan ingin melakukan hal lebih terhadap sang istri yang tak sadar jika perbuatannya bisa membangunkan singa yang tengah lelap di sarangnya.
"Syei'!" lirih Hasan dengan suara berat nan serak yang tertahan.
"Iya, Bi, kenapa?" Arum sejenak menghentikan aktifitasnya bertanya dengan ekspresi begitu polosnya, dia masih saja belum menyadari jika apa yang di lakukannya bisa membangunkan singa yang tengah lelap di dalam sarang.
"Syei', sikapmu yang seperti ini bisa bangunin si junior," jawab Arum.
"Terus kalau bangun kenapa, Bi?" Arum yang kini mengerti maksud dari ucapan Hasan.malah sengaja menggoda sang suami yang terlihat jelas sedang menahan sesuatu.
"Kalau bangun kamu harus tanggung jawab untuk menidurkannya," Hasan kembali menjawab pertanyaan Arum dengan jawaban yang mampu membuat Arum tersenyum lucu.
Wajah Hasan terlihat semakin tampan dan mempesona saat terlihat menahan sesuatu seperti sekarang, aroma tubuh Hasan yang sejak tadi di cium oleh Arum kini semakin kuat karena Hasan mengubah posisinya.
__ADS_1
Hasan yang juga mulai mengerti jika sang istri sedang menggodanya kini berbalik sambil memeluk Arum dari depan. Perlahan tapi pasti Hasan mendekatkan wajahnya mencoba meraih bibir manis yang saat ini dengan sengaja menggodanya.
"Syei', kita sudah lama tidak menikmati surga, Abi kangen dan ingin kembali ke sana, apa boleh?" izin Hasan yang mengerti jika saat ini istrinya itu berbeda dari biasanya, Hasan tak lagi bisa memaksa Arum untuk menuruti keinginannya lagi.
Saat ini Hasan harus bersabar dan sering-sering menahan diri saat keinginannya mulai muncul. Melihat ekspresi wajah Hasan yang sudah berkabut penuh gairah membuat Arum akhirnya tak tega untuk menolaknya, seutas senyum dia tunjukkan seolah memberi isyarat jika saat ini dirinya menyetujui apa yang di inginkan oleh Hasan.
Mendapat senyuman dari sang istri membuat Hasan langsung tersenyum senang, akhirnya si junior yang sudah berpuasa ber abad-abad kini sudah bisa berbuka menikmati surga yang indah tiada duanya.
"Syei', aku merindukan saat-saat seperti ini, aku mencintaimu, love you my everything," bisik Hasan tepat di telinga Arum dan bisikan Hasan sukses membuat Arum merinding disko.
"Abi," hanya suara panggilan terdengar begitu mendayu-dayu di telinga Hasan yang sedang menjelajah, menikmati setiap hal yang ada di depan matanya.
"Ahh ... pelan-pelan Bi," rintih Arum dengan tangan yang sudah bertengger insah di punggung sang suami. Sesekali Arum memainkan rambut Hasan dan menariknya pelan saat dia merasa terbang di atas awan, bibir Hasan kini sedang menjelajah menikmati gunung kembar yang terpampang jelas di depan matanya, menjilat puncak gunung yang berwarna sedikit merah muda seperti ice cream. Apa yang di lakukan Hasan sungguh disambut Arum lupa segalanya, matanya tak lagi mampu terbuka lebar, begitu pula dengan bibirnya yang mulai mengeluarkan suara-suara erotis pembangkit semangat dalam jiwa Hasan.
"Abi, ehh," hanya panggilan itulah yang muncul dari bibir Arum membuat semangat Jasan semakin membara dengan deru nafas yang memburu.
'Cup'
Satu kecupan penutup mendarat di kening Arum yang terlihat sudah lelah, entah mengapa Arum merasa begitu lelah setelah bermain, padahal biasanya dia masih mampu menemani sang suami bermain hingga beberapa kali.
"Terima kasih, Sayang, maaf sudah membuatku lelah," ujar Hasan tepat di samping wajah Arum dengan tangan yang sesekali terlihat mengusap lembut kening hingga kepala Arum.
"Tidak apa-apa Bi," jawab Arum.
__ADS_1
"Apa perlu Abi buatkan teh, atau susu mungkin?" tawar Hasan yang merasa tak tega melihat keadaan Arum yang lemah dan lesu itu.
"Tidak usah Bi, aku hanya ingin istirahat dan tidur sebentar," Arum menolak tawaran Hasan.
"Baiklah, kamu istirahat saja dulu!" titah Hasankemudian kembali mencium kening Arum penuh sayang sedang sang empu hanya bisa memejamkan mata menikmati bibir Hasan yang kini bertengger di dahinya.
"Abi, pergi dulu." Pamit Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang kini mulai memejamkan mata sedang Hasan memilih untuk segera mandi dan membuatkan makanan untuk sang istri.
"Mas Hasan mau ngapain?" tanya Hana yang kebetulan sedang ada di dapur mencuci beberapa piring dan peralatan masak yang kotor.
"Nungguin kamu nyuci semua peralatan itu." Jawab Hasan.
Kemarin dia membuatkan nasi goreng spesial dan Hasan juga membuat susu ibu hamil untuk Arum, tapi Hasan sama sekali tak mencuci piring dan peralatan masak yang sudah dia gunakan, Arum kini semakin aneh, dia akan muntah jika makan di rumah dan makanannya bukan Hasan yang masak, tapi jika Hasan yang masak atau makanan yang di makan itu masakan dari Hasan mual Arum mendadak hilang.
Kali ini Hasan ingin membuatkan sop ayam untuk Arum, untung saja Hasan bisa memasak karena sebelumnya dia sering berada di pesantren ikut memasak bersama santri-santri yang lain, jadi Hasan tidak perlu bingung menyiapkan makanan untuk Arum sang istri yang tengah hamil.
"Syei'!" panggil Hasan dengan suara lembut.
Arum tak merespon panggilan Hasan yang berarti saat ini dia tengah lelap dalam tidurnya, setelah pertempuran tadi pagi menjelang siang Arum masih saja tidur hingga kini puku satu siang.
"Syei', bangun sholat dulu." Hasan kembali mencoba membangunkan sang istri yang mendadak berubah menjadiputri tidur sejak hamil.
"Lima menit lagi Bi," sahut Arum.
__ADS_1
"Yakin kamu mau tidur lima menit lagi? Abi udah masak sop ayam yang enak loh, di tambah tempe penyet, rasanya enak banget, kamu yakin gak mau bangun sekarang?" Hasan mencoba membujuk Arum agar dia bangun.
Arum biasanya akan langsung bersemangat saat mendengar Hasan memasak untuknya, sejak hamil dia sangat menyukai masakan Hasan dan selalu merasa bahagia ketika Hasan memasak untuknya.