
"Aku memang menyuruhnya pergi untuk belajar agama supaya dia menjadi lebih baik, tapi sebagai seorang Ibu Aku juga memiliki perasaan rindu dan khawatir." Ucap Fia.
"Aku juga merindukannya Sayang, tapi mau bagaimana lagi kita harus sedikit menahan rasa rindu ini, agar putri kita bisa belajar dengan tenang di sana." Rifki mencoba menenangkan hati Fia.
"Terima kasih Mas," ujar Fia melepas pelukan Rifki dan berbalik menghadap ke arah Rifki.
"Terima kasih untuk apa?" Rifki mengernyitkan kening bingung dengan ucapan terima kasih yang di ucapkan oleh Fia.
"Terima kasih karena sudah memberi cinta dan kasih sayang yang teramat besar padaku dan anak-anakku." Jawab Fia.
"Harusnya Aku yang berterima kasih padamu," Rifki tiba-tiba mengecup singkat kening Fia.
"Maksudnya?" tanya Fia yang tak mengerti dengan ucapan terima kasih Rifki.
"Terima kasih untuk semua penantian dan kesabaranmu yang selalu setia menungguku, Aku bersyukur kamu yang jasi istriku. Jika orang lain yang jadi istriku Aku tak yakin dia bisa terus bertahan dan tak pergi dari sisiku." Tutur Rifki yang mengingat betapa besar pengorbanan dan kesabaran Fia menghadapinya dulu, Fia begitu sabar menunggu Rifki yang masih belum bisa move on dari Uqi. Padahal Rifki sendiri tahu jika saat itu Fia juga sedang berusaha mati-matian menghilangkan perasaan cintanya pada Arif.
Rifki dan Arif adalah dua orang yang memiliki takdir yang sama, tak bisa bersatu karena suatu sebab dan kesalahan.
**********
Setelah perdebatan panjang antara keempat orang penghuni ndalem, kini keadaan kembali hening karena keempat orang yang tadi berdebat telah pergi ke kamar mereka masing-masing.
Arum masuk ke dalam kamar, duduk bersandar di pinggir ranjang, Menatap lurus ke depan. Terbayang wajah sang Bunda ada rasa rindu yang menyelinap di hati Arum. Tempat baru, lingkungan baru serta keadaan yang baru membuat Arum berfikir keras mampukah dia menyesuaikan diri di sini. Di tempat yang jauh berbeda dengan tempat tinggal dia sebelumnya.
"Bunda, Aku kangen." lirih Arum.
Ini pertama kalinya Arum berada jauh dari sang Bunda, meski dia terkenal menjadi pribadi yang tangguh, ceria dan mandiri tapi jauh di lubuk hatinya dia begitu rapuh dan manja.
Hanya Bunda Fia yang mengerti sifat asli sang puteri, "Aku harus kuat, Aku sudah dewasa maka dari itu Aku harus bisa." Arum menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah menumpahkan segala perasaan yang berkecambuk di hati dan menyemangati dirinya, Arum merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai memejamkan mata menuju alam mimpi yang jauh lebih indah.
Malam panjangpun telah berlalu, suara adzan subuh terdengar nyaring di area pondok, membangunkan seorang gadis cantik yang tengah tidur dengan lelapnya.
Biasanya Arum akan bangun lebih siang atau bahkan dia sering meninggalkan sholat subuh selama di luar negeri, tak ada suara adzan yang terdengar begitu indah seperti sekarang.
Arum yang mendengar suara adzan langsung beranjak meraih kerudung dan keluar dari kamar menuju kamar mandi, meski sebenarnya dia masih sangat mengantuk tapi saat ini dia sadar tengah berada di rumah orang bukan di rumahnya sendiri. Maka dari itu sebisa mungkin Arum menjaga sikap dan menyesuaikan diri.
"Arum!" suara seorang laki-laki terdengar dari belakang membuat Arum reflek menoleh.
"Iya," jawab Arum menoleh ke arah belakang.
"Kamu mau ke mana?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Husein.
"Mau ke kamar mandi," jawab Arum.
"Jangan kamar mandi itu, tempat pembuangan airnya mampet." Husein memberitahu jika kamar mandi yang hendak di pakai Arum dalam keadaan rusak.
"Ada, mari ikut Aku!" Husein yang tadinya hendak mengambil air minum kini berubah haluan mengantar Arum untuk pergi ke kamar mandi yang ada di luar rumah, tepatnya berada tepat di sebelah kamar lama ilzham sebelum menikah.
"Pakailah kamar mandi ini dulu untuk sementara, mungkin besok siang kamar mandinya sudah bisa di gunakan lagi. Karena nanti pagi tukang yang akan benerin dateng." Husein memberi penjelasan.
Setelah memberi penjelasan Husein melangkah pergi meninggalkan Arum, tapi langkahnya terhenti karena Arum memanggilnya.
"Kak Husein!" panggil Arum, membuat Husein yang di panggil berhenti seketika dengan senyum yang terbit di bibirnya.
"Iya kenapa?" Husein berbalik dan menutupi senyum bahagia yang sempat muncul di bibirnya.
"Terima kasih," ucap Arum tersenyum manis ke arah Husein.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab Husein kemudian kembali berbalik, berjalan menjauh dari Arum dan masuk ke dalam kamar.
'Masya Allah, Arum masih saja terlihat begitu cantik. Padahal Aku tahu dengan pasti jika dia baru bangun tidur, wajahnya pun masih polos tanpa make up.' Batin Husein yang saat ini bersandar di balik pintu memegang dadanya yang bergemuruh.
"Subuh yang indah" gumam Husein dengan senyum yang begitu lembut, sakinh terpesonanya dia sampai lupa dengan tujuan awalnya yang ingin mengambil minum di dapur, Husein malah pergi ke masjid menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim.
Fajar pagi perlahan mulai muncul, sinarnya sedikit terlihat. Meski udara pagi ini terasa begitu dingin menusuk kulit tapi tak menyurutkan semangat Arum untuk memulai pelajaran.
"Arum!" panggil Umik.
"Iya, Umik," jawab Arum menoleh ke arah belakang, dia menghentikan aktifitasnya membantu seorang haddam membersihkan sayur.
"Tugasmu di sini belajar Nak, Bundamu sudah mempercayakan kamu pada Umik. Sekarang sudah waktunya mengaji kitab kuning. Pergilah! Mbak Hani biar Umik yang bantu." Umik memberikan satu kitab berukuran lumyan besar dari buku yang biasa Arum lihat, dan bentuknya pun tipis tak setebal buku yang biasa dia pelajari.
Arum menerima kitab yang di berikan Umik, perlahan dia membukanya.
"Maaf Umik, Arum tidak mengerti, Arum juga tidak bisa membacanya." Jujur Arum yang masih memperhatikan isi dari buku yang tadi di berikan oleh Umik.
"Kamu tenang saja, jika kamu tak mengerti maka cukup kamu dengarkan penjelasan Hasan nanti. Bila perlu tulis di buku ini dengan huruf kapital yang biasa kamu gunakan." Uqi memberikan satu buku yang sempat di ambilnya tadi pada Arum.
"Hasan?" bukannya langsung bilang iya atau terima kasih Arum malah tertarik dengan satu nama yang di sebutkan oleh Uqi.
"Iya, mengaji pagi ini akan di isi oleh Hasan." Uqi menjelaskan jia pagi ini gurunya adalah Hasan.
"Baiklah Umik, Aku pergi dulu." Arum hendak beranjak pergi baru satu langkah Arum langsung berhenti dan berbalik arah.
"Ada apa, Nak?" tanya Umik.
"Umik ngajinya di mana?" tanya Arum polos.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Umik lupa ngasih tahu di mana tempat ngajinya." Umik tersenyum geli menyadari kesalahan yang telah di perbuatnya.