
Hari terus berlalu sampailah di hari jum'at yang telah di tunggu-tunggu oleh Husein, semua keluarga telah bersiap untuk berangkat ke rumah Zahra untuk menemani Husein pergi mengikat Zahra sebagai calon istrinya.
"Gak usah tegang gitu Dek! biasa aja kali." Seru Hasan yang melihat Husein sedang berdiri di depan kaca dengan ekspresi tegangnya.
"Ishh diem kamu Kak! kayak situ gak tegang aja pas mau tunangan sama Kak Arum." Sahut Husein yang tak mau kalah dengan ledekan Hasan.
"Gimana kalau nanti acara pernikahannya bareng sama Kakak?" Hasan tiba-tiba memiliki ide untuk menggelar acara resepsi bersama.
"Ogah, Kakak fikir ngadain acara resepsi kayak orang yang mau ngadain undangan makan malam." Husein yang merasa ide sang Kakak sama sekali tak masuk akal menolak dengan tegas.
"Lah emang kenapa? bukankah menggelar acara resepsi bersama-sama itu menyenangkan?" ucap Hasan yang merasa jika melaksanakan acara resepsi bersama itu akan terasa menyenangkan.
"Kak, acara resepsi pernikahan Kakak itu cuma kurang lima hari, mustahil banget kalau keluarga Zahra bisa nyiapin acara resepsi secepat itu, iya kita udah siap tinggal nambah kursi atau beberapa hal kecil yang perlu di tambahkan tapi keluarga Zahra pasti akan kesulitan kak," Husein menjelaskanalasannya yang tak mau mengadakan acara resepsi bersama dengan Hasan.
"Iya juga sih, tapi Kakak bayangin kita ngadain resepsi bareng pasti akan menyenangkan," ujar Hasan seraya membayangkan betapa serunya jika saja bisa berada di panggung pernikahan bersama sang adik dan pasangan mereka masing-masing.
"Sudah Kak, jangan ngebayangin hal yang mustahil! bikin capek. Lebih baik kita keluar dan segera berangkat untuk mengikat Zahra, gadis pujaan hatiku." Ujar Husein seraya menarik tangan Hasan untuk ikut bersamanya.
"Dasar bucin!" ledek Hasan.
"Kayak situ gak bucin aja," sahut Husein memutar bola mata malas.
"Emang kamu tahu Aku bucin atau enggak?" Hasan memancing Husein untuk menjawabnya.
"Ya tahulah, Kakak juga bucin pakek akut pula," jawab Husein.
"Tapi kamu bener, Aku emang bucin. Akut pula," jawaban Hasan membuat keduanya tertawa.
Rombongan keluarga Husein berangkat menuju rumah Zahra dengan persiapan yang cukup matang, mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Zahra hingga sampailah di sebuah halaman rumah yang cukup luas.
"Ini rumah calon Adik kamu Bi," cicit Arum seraya menatap sekitar.
__ADS_1
"Iya, ayo masuk!" ajak Hasan.
Arum berjalan mengikuti langkah Hasan begitu pula dengan saudara yang lain juga ikut masuk ke dalam rumah Zahra yang ternyata begitu mewah di dalamnya.
"Umma, Umik!" sapa Mama Rina dengan wajah berbinar karena bahagia.
Siapa yang tak bahagia jika anak gadisnya di pinang oleh putera seorang kiyai yang dulu pernah menjadi guru di pesantren yang pernah di tinggali oleh Mama Rina.
"Masya Allah Rina, putrimu cantik sekali," cicit Ummah yang baru saja bersalaman dengan Putri Rina yang tak lain adalah Zahra.
"Alhamdulillah Ummah, ini Putriku Zahra dan ini puteraku Zein," Mama Rina memperkenalkan kedua anaknya kepada Ummah.
"Cantik dan tampan, dulu waktu kamu masih sering ke pesantren mereka masih kecil-kecil tapi sekarang Masya allah cantik dan tampan," Ummah tak henti-hentinya memuji kedua anak Mama Rina.
"Husein pinter milihnya Ummah," celetuk Umik.
Kedua keluarga terlihat begitu akrab karena sebelumnya mereka sudah saling mengenal, tapi apa yang terjadi berbanding terbalik dengan keadaan Husein dan Zahra.
Tapi mau bagaimana lagi hati dan fikiran manusia bukan Zahra yang mengatur, jadi apa yang Zahra rasakan tak bisa dia atur sendiri.
Acarapun di mulai semua sambutan sudah di bacakan begitu pula maksud kedatangan keluarga Husein ke rumah Zahra juga sudah di ungkapkan.
"Bagaimana Nak Zahra? apa ananda Zahra menerima pinangan saudara kami Husein?" seorang jubir dari keluarga Husein melempar pertanyaan ke arah Zahra dan yang di tanya hanya menganggukkan kepala sebagai tanda jika dia bersedia.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di dalam ruangan.
Husein terlihat begitu lega dan bahagia setelah mendengar jawaban Zahra, kini tibalah waktu untuk memasangkan cincin sebagai tanda jika Husein dan Zahra sudah saling terikat meski belum sepenuhnya saling terikat tapi cincin yang tersemat di jari manis keduanya sudah cukup memberitahukan orang lain jika sang empu telah di miliki orang.
Umik memasangkan cincin di jari manis Zahra sedangkan Ayah Zahra memasangkan cincin di jari manis Husein sebagai tanda jika keduanya sudah terikat. Acara demi acara telah selesai kini tibalah saatnya untuk menikmati setiap hidangan yang telah di sediakan.
"Khem, yang udah punya calon, dari tadi senyum-senyum mulu," goda Huda yang kini berdiri di sebelah Husein dengan satu gelas es yang cukup membuatnya merasa dingin karena cuaca panas yang terasa.
__ADS_1
"Aku udah punya calon, terus kamu kapan Kak?" sahut Husein yang tak ingin terus di goda oleh Kakak sepupunya itu.
"Aku santai aja, entar kalau udah waktunya pasti ketemu sendiri." Jawab Huda santai, padahal hatinya sedang bercampur aduk mengingat kisah cinta yang kandas di tengah jalan, padahal Huda sudah berencana untuk meminang sang mantan kekasih.
"Jangan kelamaan Kak! entar keburu kadaluarsa malah kagak laku lagi," Husein berbalik menggoda Huda.
"Emang kakak barang dagangan sampek di bilang kadaluarsa segala, jodoh itu udah ada yang ngatur jadi slow aja," Huda kembali menanggapi godaan Husein dengan santai sedang matanya masih lurus menatap lekat kemesraan yang terlihat di hadapannya.
'Semakin hari kamu semakin lengket dan terlihat semakin cinta sama Hasan, semoga kamu bahagia seperti ini seterusnya Arum dan semoga Aku bisa cepat melupakanmu,' batin Huda mulai meracau.
"Sudah, jangan di pandangi terus Kak Hasan memang gitu hobinya bikin orang iri tiap kali lihat." Celetuk Husein seraya menyikut pelan tangan Huda.
Sampai saat ini tak ada yang tahu jika Huda dan Arum adalah sepasang mantan kekasih yang kandas akibat sebuah perjodohan, hanya Hasan dan keluarga inti juga kedua orang tua Huda yang tahu tentang hubungan yang pernah terjalin di antara keduanya.
"Kamu benar, tapi tetap saja kita harus berdo'a untuk kebahagiaan mereka dan semoga apa yang ku lihat saat ini akan bertahan sampai maut memisahkan keduanya." Huda mengutarakan apa yang dia harapkan.
"Amin," jawab Husein.
"Melihat mereka begitu mesra bikin perut jadi laper, mending kita ikut makan," Cicit Huda melenggang pergi meninggalkan Husein yang masih terdiam di tempat.
"Tungguin Kak!" ujar Husein.
"Cepetan!" sahut Huda yang masih saja berjalan dan tak menghentikan langkahnya.
Huda langsung mengambil sepiring makanan untuknya, sedang Husein justru masih berdiri di depan tempat makan.
"Kak Husein mau makan?" tanya Zahra yang kebetulan hendak mengambil makan juga.
"Iya," jawab Husein dengan senyum yang mengembang di pipinya.
"Biar Zahra yang ambilkan." Ucapan Zahra kali ini benar-benar membuat dia begitu bahagia.
__ADS_1
"Boleh," sahut Husein berjalan mengikuti langkah Zahra menuju stand makanan.