
"Baiklah, jika kamu memang yakin dengan pilihanmu itu Aku tak bisa berbuat apa-apa, semoga kamu bisa bahagia." Huda yang mendwngar jawaban yang begitu jelas dari Arum hanya bisa menerima apa adanya tanpa bisa mengucapkan sepatah kata lagi.
"Amin," jawab singkat Arum kemudian melenggang pergi meninggalkan Huda tanpa mengucapkan satu katapun.
'Aku sudah berusaha untuk tidak peduli padamu Arum, tapi hatiku menolak keras untuk itu meski logikaku sudah mengerti jika saat ini kaku milik sepupuku,' batin Huda bermonolog.
Terkadang cinta itu mudah datang tapi percayalah kebanyakan cinta yang sudah datang akan sulit pergi saat cinta itu telah bersemayam dalam hati dengan waktu yang cukup lama.
"Zeyenk, ngelamun aja," tegur Sinta menepuk bahu Arum yang saat ini sedang duduk di teras asrama menatap kosong ke arah asrama.
"Eh kamu Sin, ada apa?" tanya Arum yang langsung sadar saat Sinta sudah menepuk bahu dan duduk di sampingnya.
"Harusnya Aku yang nanya ada apa? dari tadi Aku lihat kamu ngelamun aja di sini, inget Arum! ini pesantren bukan rumah jangan keseringan ngelamun di sini! nanti kalau kesambet Aku juga yang bingung cari pawangnya," jelas Sinta panjang lebar membuat Arum sedikit bingung karenanya.
"Maksud kamu apa?" tanya Arum yang tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Sinta.
"Emang kamu gak pernah denger cerita tentang kesereman yang ada di pesantren?" tanya Sinta yang membuat Arum semakin mengerutkan dahi bingung.
"Kesereman bagaimana Sin?" bukannya menjawab Arum malah balik bertanya.
"Fixs kamu masih belum tahu, sini Aku ceritain!" Sinta memberi isyarat pada Arum agar duduk lebih mendekat dan Arum yang mendengar langsung duduk di lebih dekat di samping Sinta.
"Apa kamu pernah denger cerita tentang santri yang hilang dan menikah dengan raja jin?" pertanyaan Sinta membuat Arum semakin bingung, pasalnya dalam fikiran Arum mana ada manusia yang mau menikah dengan yang bukan sebangsanya.
"Kamu yang bener kalau cerita, jangan mengada-ngada deh!" sergah Arum yang masih belum percaya dengan cerita yang di ceritakan oleh Sinta.
__ADS_1
"Aku serius Arum!" tegas Sinta tak terbantahkan.
"Emang ada ya yang seperti itu?" tanya Arum.
"Ya adalah, ingatlah semua tak ada yang mustahil saat tuhan sudah berkehendak!" Sinta mencoba meyakinkan Arum yang terlihat ragu.
"Bagaimana ceritanya dia bisa nikah sama jin yang notabennya tidak sebangsa dengan kita?" Arum mulai penasaran saat melihat dan mendengar penjelasan juga ekspresi tegas nan serius Sinta saat menjelaskannya.
"Awalnya dia hanya santri biasa yang memiliki masalah yang biasa di rasakan oleh santri baru, tidak betah dan rasa rindu pada rumah juga keluarga adalah salah satu alasan kenapa dia sering menangis dan melamun seorang diri di sudut ruangan," Sinta mulai bercerita.
"Lah dia ngelamun gara-gara kagak betah dan rindu rumah kenapa jadi di samain sama Aku yang betah-betah aja di sini?" Arum mulai membandingkan dirinya dan orang yang saat ini di ceritakan oleh Sinta.
"Kalian emang berbeda tapi punya satu kesamaan yaitu sama-sama melamun, dan kau tahu sasaran empuk bagi mereka adalah dia yang suka melamun dan fikirannya kosong," terang Sinta yang membuat Arum sesikit takut.
"Terus nasib gadis itu bagaimana sekarang?" tanya Arum yang mulai penasaran dengan kelanjutan cerita yang Sinta ceritakan.
"Memangnya bisa seperti itu?" tanya Arum.
"Wallahua'lam, tapi menurut cerita terakhir yang Aku dengar bisa bahkan sekarang dia jadi ratu di sana lebih tepatnya ratu jin," Sinta kembali menceritakan apa yang dia ketahui.
"Kok serem sih Sin?" ujar Arum.
"Makanya kamu jangan keseringan melamun! karena akibatnya bisa fatal," pesan Sinta.
"Sudahlah Aku tak mau melamun lagi, lebih baik sekarang kita makan aja Aku udah laper," seru Arum sembari berdiri menarik tangan Sinta untuk pergi ke kantin.
__ADS_1
Jika Arum merasa takut dengan cerita yang di ceritakan oleh Sinta maka hal sebaliknya terjadi pada Desy yang saat ini justru asyik melancarkan aksinya mendekati Huda seorang laki-laki yang mampu menarik hatinya.
"Mas Huda ngapain di situ?" lirih Desy yang melihat Huda sedang duduk menatap sungai yang bergemericik di hadapannya.
Dengan langkah pasti Desy berjalan mendekat ke arah Huda.
"Khem," suara deheman Desy membuyarkan lamunan Huda.
"Eh kamu, ada apa?" tanya Huda.
"Mas Huda sedang apa di sini?" tanya Desy.
"Saya hanya menikmati suasana asri di sini, memangnya ada apa?" Huda yang merasa aneh dengan kehadiran gadis di hadapannya langsung bertanya pada intinya tanpa basa basi.
"Tidak ada apa-apa Aku hanya merasa heran saja tumben Mas Huda ada sini?" Desy yang setiap hari melewati tempat di mana Huda berdiam diri untuk membuang sampah tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Sesekali kita butuh waktu menyendiri untuk merenungi semua yang telah terjadi dan memikirkan masa depan seperti apa yang akan kita jalani," tutur Huda dengan tatapan yang masih fokus menatap air yang sedang mengalir.
"Terkadang apa yang kita harapkan dan kita fikirkan tak sejalan dengan takdir yang telah di tentukan, bukankah lebih baik kita mensyukuri apa yang ada dari pada harus terus memikirkan sesuatu yang belum terjadi atau bahkan memikirkan sesuatu yang sudah terjadi tapi tak sesuai harapan," ucapan Desy sungguh menyita perhatian Huda, dia langsung menoleh ke arah Desy yang saat ini ikut-ikutan menatap air yang mengalir.
"kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku?" sambung Desy yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Huda yang sedang menatapnya.
"Semua ucapanmu benar, tapi merelakan sesuatu yang awalnya milik kita untuk orang lain karena takdir yang tak berpihak pada kita adalah hal yang paling sulit untuk kita lakukan, dan jika kamu di posisiku apa yang akan kamu lakukan?" tanya Huda yang merasa cukup nyaman untuk bertukar pendapat dengan Desy karena ucapannya cukup bijak di dengar.
"Tak ada kisah yang sempurna, jangankan hanya kekasih ataupun calon terkadang yang sudah menikahpun akan berpisah jika takdir mereka memang harus terpisah," Desy sejenak menghentikan ucapannya dia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Hidup ini selayaknya panggung sandiwara ada banyak hal yang tidak kita tahu bagaimana akhirnya, karena sandiwara yang akan kita perankan tak pernah kita tahu sekenarionya, hanya satu yang bisa kita lakukan berusaha menjadi yang terbaik untuk masa depan yang lebih baik, dan merelakan apa yang memang bukan takdir kita baik itu harta, tahta ataupun kekasih. Hidup hanya sementara jadi lakukan yang terbaik untuk hidup yang sementara ini." Ucapan Desy benar-bebar membuat Huda menaruh simpati, begitu bijak dan menenangkan.