Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Bumil Emosian


__ADS_3

Semakin hari sikap Zahra semakin aneh, dia jauh berubah dari biasanya, Zahra yang dulu sabar dan penuh senyuman kini sering merengek dan manja setiap kali ada kesempatan.


"Mas," Zahra kembali merengek, sejak kemarin dia meminta Gurami bakar pada Husein, tapi sampai saat ini Husein belum juga mengabulkan apa yang di minta oleh sang istri.


"Tunggu weekend Dek!" lagi-lagi Husein menjawab permintaan Zahra dengan jawaban yang sama.


Husein bukan tak ingin menuruti apa yang di inginkan oleh Zahra, hanya saja saat ini dia tengah di sibukkan dengan beberapa pekerjaan di restoran dan hotel yang dia kelolah.


"Aku inginnya sekarang, Mas, bukan weekend nanti!" Zahra berbicara dengan nada sedikit keras, menghadapi Zahra ketika hamil benar-benar membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra.


Husein hanya diam dan tak lagi membalas ucapan Zahra yang sedikit membentak, pasalmya jika Husein terus saja meladeni ucapan Zahra maka pertengkaranlah yang akan terjadi.


"Ishhh," desis Zahra sambil menghentakkan kaki meluapkan segala rasa kesal yang kini menguasai hatinya.


"Kamu mau ke mana, Dek?" tanya Husein ketika melihat Zahra beranjak pergi keluar dari kamar.


"Cari angin," jawab Zahra singkat


Sebenarnya Zahra sendiri juga bingung dengan apa yang dia lakukan, emosinya selalu saja tidak bisa dia kendalikan ketika ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya, atau dia tak mendapatkan apa yang dia inginkan.


Kini Zahra duduk di taman belakang rumahnya, menikmati semilir angin yang berhembus menerpa wajah, Husein memang sudah tidak datang ke restauran untuk bekerja. Dia memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah, Husein akan datang ke restauran atau hotel jika ada masalah atau sesuatu yang mendesak, tapi jika semua berjalan sesuai rencana dia mempercayakan semua urusannya pada Ifan sang asisten pribadi. Meski begitu tetap saja dia memiliki banyak sekali email yang harus di periksa, alhasil Husein tetap sibuk meski di rumah.


"Kenapa hatiku terasa begitu sakit kalau Mas Husein tidak menuruti apa yang aku inginkan?" lirih Zahra menatap langit yang terlihat mendung.


Zahra sadar jika apa yang dilakukannya terkadang bukanlah hal yang baik, tapi dia tak bisa berbuat apapun karena apa yang di lakukannya terkadang di luar kendalinya, emosi itu datang tanpa bisa dia kendalikan.


Jika Zahra mengalami perubahan yang tak pernah di sangka maka berbeda dengan Arum yang kini tengah berdebar menanti kelahiran sang bayi, satu bulan lagi dia akan menjadi seorang Ibu. Sungguh Arum merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.

__ADS_1


"Abi, kemarilah!" panggil Arum.


Saat ini dia sedang merebahkan diri di atas kasur tempat tidur setelah melakukan aktifitas jalan-jalan pagi bersama Hasan.


"Kenapa Syei'?" sahut Hasan menaruh ponsel yang sejak tadi dia mainkan.


"Duduk, sini!" pinta Arum dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Ada apa Sayangnya Abi? hm?" Hasan berkata dengan suara lembut, selembut sutra.


Arum tak menjawab ucapan Hasan, dia malah memindahkan tangan Hasan ke atas perutnya yang kini sudah membuncit, di tambah pipi Arum yang semakin cubby memperjelas jika Saat ini Arum tengah hamil.


Hasan yang mengerti apa keinginan sang istri mulai menggerakkan tangannya di atas perut buncit sang istri, pelan dan sangat lembut gerakan yang di lakukan oleh Hasan.


"Dia nendang Syei'," ujar Hasan dengan wajah berbinar merasakan gerakan sang jabang bayi yang kini masih ada di dalam perut Arum.


"Mungkin anak kita ingin dekat dengan Abinya," jawab Hasan.


"Abi," Arum kembali merengek ketika sang suami sibuk mengusap perutnya sambil menciumi kening Arum. Mencoba menyalurkan segala rasa cinta dan sayang yang kini ada di hatinya.


"Iya, Syei'," sahut Hasan mengalihkan pandangannya ke arah Arum.


"Bi, aku pengen makan kolak kacang hijau," pinta Arum dengan wajah memelas.


"Kolak? bukankah kamu baru saja makan Syei'?" sahut Hasan yang merasa sedikit heran dengan istrinya itu, pasalnya Arum baru saja sarapan dengan satu porsi nasi kuning, dua gelas jus melon dan satu piring bakso goreng, belum dua jam dia memakannya dan sekarang malah meminta kolak kacang hijau.


"Iya, sih, tapi aku pengen makan kolak kacang hijau sekarang Bi," Arum kembali merengek meminta apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Baiklah, Abi akan suruh Pak Marto cari penjual kolak kacang hijau untukmu." Hasan berdiri hendak pergi meninggalkan kamar menuju rumah Pak Marto tapi Arum mencegahnya


"Aku inginnya Abi yang masak," ucap Arum.


Selama ini Arum sering sekali meminta Hasan memasak untuknya, dia selalu merasa jika masakan sang suami terasa jauh lebih enak dari pada masakan orang lain, meskipun terkadang hasil masakan Hasan terlalu asin atau bahkan hambar.


"Kalau kamu pengen Abi yang masak tunggu di sini, Abi mau lihat dulu apa bahannya masih ada atau tidak." Ujar Hasan.


Selama Arum hamil Hasan selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami yang selalu ada untuknya, apapun yang di minta oleh Arum selalu di penuhi oleh Hasan meskipun terkadang dia harus berkorban untuk mendapatkannya.


"Aku ikut Bi," Arum berucap dengan nada manja yang kini sudah biasa di dengar oleh Hasan.


"Kamu boleh ikut, tapi jangan mengganggu!" Hasan memberi peringatan.


Kemarin Arum sempat membuat Hasan kerepotan, saat itu dia meminta Hasan untuk membuatkannya sop ayam, bukannya membantu atau diam melihat Hasan memasak, Arum justru mengganggunya. Arum terus saja bergelayut manja memeluk Hasan dari belakan dan sesekali mencium pipinya, apa yang di lakukan Arum sukses membuat Hasan tidak fokus dan memasukkan garam terlalu banyak, alhasil sop ayam buatan Hasan menjadi sop ayam asin yang tak layak untuk di makan, tapi anehnya Arum justru memakan sop asin itu dengan begitu lahapnya.


"Aku gak bakal ganggu kok, cuma pengen lihat aja," ujar Arum dengan puppy eyes yang sukses membuat hati Hasan luluh.


"Baiklah, ayo ke ikut ke dapur!" Hasan yang tak pernah bisa menolak apa yng di mint oleh Arum langsung mengajaknya ke dapur untuk memask.


Hasan dan Arum berjalan beriringan menuju dapur untuk memasak.


"Kok sepi ya Bi," tanya Arum saat melihat suasana dapur sepi tak berpenghuni, biasanya jam segini Mbak Hana selalu ada di sana.


"Abi gak tahu, coba Abi lihat apa ada kacang hijau." Hasan melepas pegangan tangan Arum yang melingkar indah di lengannya, kemudian berjalan mencari kacang hijau yang tak kunjung dia dapatkan.


"Sepertinya di dapur inu tidak ada kacang hijau Syei'," tutur Hasan setelah mencari di berbagai sudut ruangan.

__ADS_1


Arum yang mendengar penuturan Hasan hanya bisa menunjukkan wajah cemberutnya, tanpa membalas ucapan Hasan, dia melangkah pergi meninggalkan dapur. Berjalan kembali menuju kamar.


__ADS_2