
Desy melangkah dengan cepat. Mengingat jika saat ini hari sudah semakin siang, dan benar saja dia terlambat, sebelum masuk ke kelas bel sudah berbunyi lima menit sebelumnya.
"Astaghfirullah, aku telat, ini gara-gara si Reyhan kutu kupret itu," gerutu Desy sambil terus berjalan menuju kelas.
"Assalamualaikum," ucap Desy sambil menundukkan kepala, pasalnya saat ini guru yang mengisi jam pertama sudah duduk manis di tempatnya.
'Mampus aku, pakai lupa segala kalau sekarang waktunya Bu Mira,' batin Desy.
Bu Mira adalah guru yang paling disiplin di sekolah, dia tak pernah memberi toleransi pada murid yang terlambat masuk, pedoman hidup yang selalu dia pegang dan ajarkan pada muridnya ^Waktu adalah pedang, dia bisa melindungimu juga bisa membunuhmu, tergantung bagaimana kamu menggunakannya,^ itulah pedoman hidup yang selalu di tekankan dan di ajarkan oleh Bu Mira.
"Waalaikum salam, kenapa kamu terlambat?" suara tegas Bu Mira terdengar di telinga Desy yang kini justru gemetar takut.
"Maaf Bu, tadi saya telat karena antri kamar mandi," jawab Desy gugup, dia terpaksa berbohong karena sangat mustahil baginya berkata jujur jika dia di hadang Reyhan, jika dia jujur maka yang akan terjadi hanya keributan dan gosip yang bikin panas telinga.
"Sudahlah, alasan yang kamu berikan sudah basi, sekarang kamu berdiri di tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!" Bu Mira memang selalu menghukum setiap murid yang telat berdiri di tiang bendera dan tak di izinkan ikut mata pelajarannya.
Desy harus ikhlas menerima hukuman yang di berikan oleh Bu Mira karena dia memang salah, alasan yang dia berikan sudah sering di pakai oleh murid-murid lain yang telat masuk, jadi wajar saja Bu Mira tak menerima alasan itu.
Dengan langkah gontai Desy berjalan menuju lapangan sekolah dan berdiri tepat di depan tiang bendera, dan ternyata Reyhan juga berada tak jauh darinya, dia tersenyum manis ke arah Desy, bukannya membalas senyuman Reyhan, Desy malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
'Dasar pembawa masalah, dia masih bisa senyum setelah menggangguku, sampai aku harus berdiri di sini, menyebalkan!' gerutu Desy dalam hati, pagi ini adalah pagi paling menjengkelkan baginya, bertemu dengan Reyhan adalah hal yang paling menyebalkan.
~
__ADS_1
Jika Desy sedang jengkel dengan kehadiran Reyhan dalam hidupnya, maka aangat berbeda dengan Arum yang benar-benar menikmati masa kehamilannya di dampingi oleh Hasan sang suami yang selalu siaga di sampingnya.
"Kamu sedang apa, Syei?" tanya Hasan saat melihat Arum sedang duduk di atas kasur sambil merapikan beberapa peralatan bayi.
"Ini Bi, aku sedang mengemas barang yang di perlukan saat lahiran nanti," jawab Arum.
"Bukankah kita di larang untuk menyiapkan apapun sebelum kelahiran?" tanya Hasan dengan ekspresi penuh kekhawatiran.
"Iya, Bi, aku tahu itu, tapi ini cuma baju ganti untuk bayi dan aku nanti, cuma satu setel aja, dan menurut aku ini penting, lagi pula kita gak membeli apapun untuk calon anak kita kecuali baju ini," tutur Arum.
"Kalau memang tidak apa-apa ya sudah, sini Abi bantu." Hasan yang merasa jika ucapan sang istri memang ada benarnya memutuskan untuk membantunya berkemas.
"Ini juga di masukkkan Bi," Arum menyodorkan satu sarung ke arah Hasan agar di masukkan ke dalam tas bayi yang hampir penuh isinya.
"Itu untukku nanti, kata Bunda aku harus bawa satu sarung dan kebetulan aku tak punya sarung, jadi aku bawa aja sarungnya Abi," jelas Arum tanpa beban.
"Oh, gitu," jawab Hasan singkat.
Keduanya terlihat begitu kompak mengemas semua keperluan untuk lahiran, setelah semua usai Hasan berdiri melenggang pergi meninggalkan Arum yang kini menyimpan tas yang sudah dia kemas di dalam lemari.
Hasan melangkah dengan langkah pasti menuju dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang istri, sejak Arum hamil Hasan mulai terbiasa memasak untuk sang istri, semua dia lakukan bukan tanpa alasan, pasalnya Arum selalu muntah-muntah saat makan masakan Hana ataupun orang lain, kecuali jika makanan itu di masak ataupun di beli dari luar rumah. Ibu hamil benar-benar aneh dan cukup merepotkan.
Arum yang baru menyadari jika sang suami sudah keluar dari kamar kini ikut keluar, mencari keberadaan sang suami yang dia tahu dengan pasti jika saat ini Hasan pasti ada di dapur membuatkan sarapan untuk dirinya.
__ADS_1
Senyum penuh rasa bahagia bercampur syukur terlihat jelas di wajah Arum yang kini menatap lekat ke arah Hasan yang sedang sibuk memasak di depan kompor.
"Abi lagi masak apa?" tanya Arum berjalan mendekat ke arah Hasan.
"Abi masak semur daging sama tempe goreng kesukaanmu," jawab Hasan tanpa menoleh ke arah Arum, karena saat ini dia sedang fokus menggoreng bumbu semur.
"Emmm baunya harum banget Bi, aku jadi laper," seru Arum.
"Kamu lagi muji Abi dengan tulus atau muji biar Abi mau masak lagi untukmu?" tanya Hasan yang merasa aneh dengan sikap Arum yang akhir-akhir ini suka memuji dan berkata romantis padanya.
"Aku ngomong kenyataan Bi, masakan Abi emang paling enak, buktinya aku selalu suka dan yang terpenting aku gak muntah setelah memakannya," jujur Arum yang sukses membuat Hasan sang suami tersenyum lebar karenanya.
"Sudah, jangan di puji terus! kalau kebanyakan di puji nanti Abi bisa melayang karenanya," ucap Hasan yang merasa jika Arum terlalu memuji dirinya.
"Aku muji Abi karena Abi memang pantas di puji, aku bersyukur banget punya suami kayak Abi, terima kasih untuk semuanya Bi," ungkap Arum sambil memeluk sang suami dari samping.
"Eh, jangan gini Syei'! lepas dulu!" pinta Hasan pada Arum yang tiba-tiba bergelayut manja padanya.
"Kenapa harus di lepas sih Bi? apa Abi gak suka aku peluk?" gerutu Arum dengan wajah cemberutnya.
"Abi suka di peluk sama kamu, suka banget malah, tapi sekarang Abi lagi masak, kalau kamu peluk kayak gini mana bisa gerak Abi? yang ada masakan Abi gosong nanti," Hasan menjelaskan alasan dirinya meminta Arum melepaskan pelukannya.
"Baiklah, aku mau nyiapin nasi buat makan nanti," ucap Arum sambil melepas pelukannya pada Hasan kemudian melenggang pergi menuju meja makan untuk menyiapkan nasi agar tak panas saat makan nanti.
__ADS_1
Hasan hanya tersenyum melihat tingkah Arum yang menurutnya semakin hari semakin menggemaskan si matanya, meski suka merepotkan dan bikin pusing kepala ketika meminta sesuatu, tapi hal itu tak menjadi masalah, bagi Hasan istrinya itu tetap menggemaskan dalam keadaan apapun.