Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sabar Bi,


__ADS_3

"Permisi, room service," suara seorang wanita menghentikan aktifitas panas Hasan.


"Astaghfirullah, kenapa banyak banget yang ganggu sih," keluh Hasan dengan ekspresi wajah penuh emosi yang tertahan.


"Sabar Bi," Arum tersenyum manis sambil mengusap lengan Hasan mencoba meredam amarah yang terlihat di wajahnya.


Hasan tak menanggapi ucapan Arum dia hanya menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba mengumpulkan sisa kesabaran yang di miliki.


"Tunggu di sini dan jangan ikut keluar!" larang Hasan dan Arum hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


Dengan langkah lebar Hasan melangkah menuju pintu dan segera membukanya, menyuruh sang pelayan meninggalkan trolly makanan yang tadi dia pesan di depan pintu dan melarangnya masuk.


"Biarkan di sana, aku sendiru yang akan membawanya masuk dan ini untukmu!" Hasan memberikan tips untuk sang pelayan.


"Terima kasih," ucap sang pelayan melenggang pergi meninggalkan trolly berisi makanan yang tadi dia bawa.


"Syei', sarapan dulu!" suara Hasan terdengar membuat Arum segera berdiri dan menghampiri Hasan untuk makan bersama.


Jika Hasan memilih makan di kamar maka berbeda dengan Husein yang memilih makan di cafe yang ada di dekat Hotel, sebelum pergi bekerja Husein berusaha meluangkan waktu bersama Zahra, keduanya terlihat kompak dan romantis saat makan bersama hingga dering ponsel terdengar dari ponsel milik Husein.


"Kakak, kok tumben telfon pagi-pagi," gumam Husein saat melihat siapa yang menelfonnya.


"Hallo, assalamualaikum, ada apa, Kak?" ucap Husein sesaat setelah sambungan telfon di angkat.


"Ini aku Arum Husein," suara sahutan dari sebrang terdengar dan ternyata yang menelfon bukan Hasan melainkan Aru. sang Kakak Ipar.


"Oh Kak Arum, ada apa Kak?" tanya Husein merasa heran, karena ini pertama kalinya Arum menelfon dirinya menggunakan ponsel Hasan selama dia menikah.


"Setelah kamu dan Abi berangkat, aku boleh mengajak Zahra jalan-jalan ke malioboro?" tanya Arum penuh harap agar Husein mengizinkannya pergi.


Husein yang mendengar pertanyaan Arum sejenak terdiam berfikir sambil melirik Zahra yang juga terdiam menatapnya.


"Boleh kalau Zahra mau silahkan saja," jawaban yang sejak tadi di tunggu oleh Arum kini terdengar di telinganya dan sukses membuat hati Arum bahagia karenanya.

__ADS_1


"Kalau gitu berikan ponselnya pada Zahra, biar aku sendiri yang bicara padanya." Pinta Arum yang langsung di turuti oleh Husein, awalnya Husein merasa keberatan jika Zahra pergi jalan-jalan tanpanya, tapi mengingat jika dirinya akan pergi bekerja dan Zahra akan sendirian di kamar membuat Husein menghilangkan rasa berat di hatinya demi kebahagiaan sang isrri.


"Dek," panggil Husein saat melihat Zahra yang tadi menatapnya kini sedang asyik menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Iya, Mas," sahut Zahra sambil meletakkan sendok dan garbu yang dia legang.


"Kak Arum mau bicara denganmu," Husein menyodorkan ponsel yang tadi dia pegang pada Zahra.


"Assalamualaikum, ada apa Kak?" tanya Zahra langsung pada intinya.


"Waalaikum salam," sahut Arum.


"Dek, nanti kalau Husein udah berangkat kerja kamu ke kamar Kakak ya, kita pergi jalan-jalan ke malioboro. Bagaimana? apa kamu mau?" Arum yang mendengar pertanyaan Zahra langsung mengutarakan maksudnya menelfon.


"Kalau Mas Husein ngizinin aku mau Kak," jawab Zahra.


"Husein sudah setuju, barusan aku udah bilang," sahut Arum membuat Zahra bingung, dia tak langsung menjawab tapi malah menatap Husein dengan ekspresi penuh tanya.


"Pergilah! aku sudah mengizinkan," ujar Husein membuat hati Zahra merasa lega, senyum manis terlihat mengembang di wajah Zahra.


"Baiklah, nanti aku tunggu di kamar ya," pesan Arum sebelum akhirnya sambungan telfonnya terputus.


"Ini ponselnya Mas," Zahra mengembalikan ponsel yang tadi dia pegang.


"Ini untukmu!" setelah melihat Zahra selesai melakukan telfon Husein langsung mengeluarkan sebuah black card dari dalam dompetnya dan beberapa lembar uang cash berwarna merah muda ke hadapan Zahra.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan Mas?" tanya Zahra merasa apa yang di berikan Husein terlalu banyak untuknya.


"Tidak, Dek, kamu sekarang sudah jadi istriku maka apa yang aku miliki juga jadi milikmu, pakailah kartu dan uang ini dengan bijak!" Husein tetap memberikan kartu dan uang yang tadi dia sodorkan dan Zahra menerimanya dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih, Mas," ucap Zahra mengambil alih kartu dan uang yang di sodorkan oleh Husein.


Husein tersenyum sambil mengangguk menanggapi ucapan Zahra, keduanya beranjak kembali ke kamar kemudian berjalan menuju kamar hotel.

__ADS_1


"Abi," panggil Arum.


"Iya, Syei', ada apa?" sahut Hasan.


"Apa Abi punya uang cash?" tanya Arum.


"Kenapa Syei'?" Hasan kembali bertanya.


"Uang cashku habis Bi, dan aku males mau ke ATM. Apa aku boleh minta uang cash sekarang?" Arum mengutarakan keinginannya.


Hasan yang mendengar permintaan Arum langsung berjalan mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa uang kertas berwarna merah muda dan memberikannya pada Arum.


"Di dompetku cuma sisa segini, apa cukup?" Hasan menyodorkan lima belas lembar uang seratus ribuan yang tersisa di dompetnya pada Arum.


"Kalau ini di berikan padaku Abi bagaimana?" Arum merasa bimbang saat mendengar jika di dalam dompetnya hanya tersisa itu saja.


"Aku bisa ambil di ATM nanti, kamu tenang saja," jawab Hasan meyakinkan Arum agar dia mau mengambil uang yang tengah di sodorkan ke arahnya.


"Terima kasih, Abi," ucap Arum mengambil alih uang yang tadi ada di tangan Hasan.


"Ingat Arum! hati-hati jika jalan-jalan nanti dan pulanglah sebelum sore karena aku akan tiba di hotel jam tiga sore." Hasan mengingatkan Arum.


"Siap Abiku Sayang, kamu yang semangat ya kerjanya," sahut Arum dengan nada sedikit manja membuat Hasan heran melihat sikap aneh Arum.


"Jangan tunjukkan ekspresi itu di hadapan orang lain selain aku!" hardik Hasan.


"Memangnya kenapa Bi?" bukannya menjawab Arum malah melempar pertanyaan padanya.


"Kalau aku bilang jangan, ya jangan Syei'! tidak usah banyak tanya!" jawab Hasan melenggang pergi mendekat ke arah cermin merapikan pakaiannya sebelum keluar dari kamar.


"Baiklah, Abi juga hati-hati ya!" Arum meraih tangan Hasan dan menciumnya mengantar Hasan sampai depan pintu kamar hotel.


"Abi berangkat dulu." Hasan mencium kening Arum kemudian melenggang pergi meninggalkan Arum yang masuk kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


Apa yang di lakukan Arum juga di lakukan Zahra, dia meraih tangan Husein dan mencium punggung tangannya sebelum Husein pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Zahra mulai bersiap pergi untuk jalan-jalan dan menyusul Arum ke kamarnya setelah berpakaian rapi dengan baju cream dan tas berwarna senada membuat Zahra terlihat begitu cantik sempurna.


__ADS_2