
Desy yang mendengar penjelasan Shinta langsung terdiam sambil memikirkan apa yang di katakan Shinta memang benar adanya.
"Kamu benar juga Shinta," cicit Desy yang kini mulai menyambungkan setiap kejadian dalam satu tahun ini seperti potongan puzzle yang kini mulai terangkai di kepalanya.
"Aku tidak pernah bohong ataupun mengada-ada padamu Desy, jadi, aku yakin jika orang yang di maksud Ayah dan Ibumu itu adalah Huda." Shinta kembali mencoba meyakinkan Desy yang terlihat sedikit ragu.
Desy kembali terdiam dan berfikir, "Ahh sudahlah, jangan di bahas lagi! aku jadi makin pusing karenanya," ujar Desy.
"Hah? kok pusing sih? dasar aneh kau ini, gitu aja pusing," ucap Shinta.
"Aku masih belum yakin jika laki-laki itu Huda, Sinta," ungkap Desy atas keraguan yang ada dalam hatinya.
"Kok kamu bisa gak yakin gitu sih, padahal sudah jelas loh kalau Huda dan tunangan yang di rahasiakan orang tuamu itu saling berhubungan," kini justru Shinta yang bingung mendengar jalan fikiran sang Sahabat.
"Bagaimana Huda bisa tahu dan kenal dengan orang tuaku Shinta? dia bahkan tak pernah bertemu dengan mereka," Desy benar-benar berubah menjadi seorang gadis yang memiliki IQ rendah saat ini, dia terlihat begitu polos hingga tak mengerti maupun menyadari apa yang telah di jelaskan oleh Shinta.
"Astaghfirullah, bukalah fikiran sahabatku yang tengah loading bin eror ini ya tuhan," ujar Shinta dengan ekspresi gemas bercampur heran sambil menangkup kedua pipi sahabatnya ity.
"Isshh, kamu apa-apaan sih Shinta," protes Desy yang sejak kecil kurang menyukai sikap yang di berikan Shinta padanya, Desy memang cukup tidak suka jika ada yang memegang kedua pipinya.
"Aku gemes Desy, kamu itu bikin orang greget, udah jelas kalau dia Huda, masih aja mikir," Desy terus saja berkata jika tunangan rahasia yang irang tua Desy ceritakan itu Huda.
"Sudahlah, aku cuma bisa berharap jika apa yang kamu katakan itu benar," Desy yang sudah pusing memikirkannya kini mulai menyerah dan memilih membiarkan semuanya mengalir seperti air dari pada terus-terusan menerka tak jelas.
"Ya sudaj, itu mah terserah kamu, bukankah kamu yang ngejalani semuanya," Shinta yang melihat Desy telah menyerah untuk menebak memilih untuk diam dan membiarkan Desy memecahkan sendiri apa yang telah terjadi.
Di belahan Dunia yang lain ....
__ADS_1
Huda kini sudah siap dengan semua barang yang akan dia bawa, setelah kemarin acara wisudah yang penuh suka cita telah terlewati, kini dia bersiap kembali ke tanah air untuk melanjutkan misinya, yaitu menghalalkan gadis yang setahun ini sukses membuat hati dan fikirannya kacau.
'Desy, tunggu aku!' batin Huda tersenyum manis sambil menatap foto Desy yang kini menjadi walpaper di ponselnya.
"Apa kamu sudah siap, Nak?" tanya Imah yang baru saja masuk ke dalam kamar sang Putera.
"Sudah Ibu, ayo pulang!" jawab Huda dengan ekspresi penuh semangat yang tampak jelas di wajahnya.
"Ayah!" panggil Imah pada Arif yang sedang menggeret dua koper cukup besar milik dirinya dan Imah.
"Iya, kenapa?" sahut Arif.
"Roman-romannya ada yang lagi berbunga-bunga, tapi bukan di taman," ujar Imah sambil melirik ke arah Arif yang masih setia tersenyum lebar.
"Berbunga apa sih? aku gak ngerti?" Arif justru tak mengerti dengan maksud dari ucapan Imah.
Mendengar penuturan sang istri perhatian Arif langsung teralihkan, dia yang awalnya siap untuk pergi keluar kini malah berhenti dan berbalik menatap Huda yang masih saja setia dengan senyumannya.
"Jangan menunggu terlalu lama! setelah pulang langsung nikah saja!" singkat, padat dan jelas. Perintah sang Ayah semakin membuat Arif yakin dan ingin segera pulang untuk menghalalkan Desy sang gadis pujaan hati.
"Aku akan menikahinya Ayah, tapi tidak langsung setelah sampai di tanah air, aku akan menunggu sebentar, sampai dia selesai wisuda," jawab Huda.
"Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu, Nak," Ayah Arif mendukung sepenuhnya keputusan yang akan di pilih oleh Sang Putra, karena saat ini Huda sudah dewasa dan mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, Ayah Arif juga yakin jika Huda pasti bisa memilih waktu yang tepat untuk dirinya mengambil keputusan.
Huda dan kedua orang tuanya kini kembali pulang ke indonesia, kelegaan dan kebahagiaan terpancar jelas di wajah ketiganya, terutama sang bintang saat ini yaitu Huda, dia adalah orang yang paling bahagia di antara semuanya, menjadi sarjana dan lulus dengan nilai terbaik adalah impian Huda yang kini sudah jadi kenyataan. Perjalanan dari Australia menuju indonesia terasa begitu cepat, semua itu karena Huda dan kedua orang tuanya sama-sama berkelana dalam dunia mimpi.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tanah air," celetuk Imah setelah berada di parkiran bandara.
__ADS_1
"Rasanya udah lama banget gak nginjakin kaki di sini ya, Bu," sahut Huda sambil menghirup udara sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan, menikmati udara yang terasa berbeda.
"Sudah jangan banyak ngobrol dulu! nanti aja di lanjut di rumah ngobrolnya!" Ayah Arif menengahi sang istri dan puteranya yang terlihat sedang asyik menikmati suasana.
"Issh, Ayah, Ibu cuma mau nikmati udara di bandara, siapa juga mau ngobrol lama-lama di sini," sahut Imah.
Ketiganya masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan pulang, semakin jauh mobil melaju semakin berdebar pula jantung Huda, dia benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu dengan Desy yang sudah hampir setahun dia tinggalkan, saat ini Husa juga sengaja tak memberitahukan Desy tentang kepulangannya, dia ingin memberi kejutan pada Desy.
Huda berencana datang saat Desy di wisuda lusa, dan saat itulah Huda juga akan memberitahukan Desy semuanya, termasuk masalah pertunangan rahasia yang sudah terjalin hampir setahun, dan Huda juga akan memberitahukan jika dirinya akan segera meresmikan hubungan mereka dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
"Sudah jangan mikirin do'i terus! kamu lupa kalau punya keponakan yang baru lahir," tegur Imah.
"Aku gak lupa kok Bu, anak Hasan cewek, Kan?" sahut Huda.
"Iya," jawab Imah singkat.
"Ibu tenang, tiga hari yang lalu aku sudah beliin boneka dan beberapa baju juga selimut lucu buat keponakan pertamaku, jadi Ibu gak usah khawatir!" Huda menceritakan apa yang telah dia beli untuk Anak Hasan dan Arum.
"Semua kamu beliin, tapi Ibunya sendiri di lupain," sahut Imah.
"Untuk Ibu juga ada, tapi nanti kalau sampai di rumah aku kasih," jawab Huda.
"Memang pemberian dari Ayah masih kurang Bu?" Arif yang sejak tadi hanya diam kini ikut menyahuti percakapan kedua orang terpenting dalam hidupnya.
"Barang pemberian Ayah itu beda dengan barang pemberian Huda," jawab Imah.
"Apa bedanya? sama-sama barang juga, Kan?" sahut Arif heran mendengar jawaban sang istri.
__ADS_1
"Sudahlah, Ayah, intinya mah beda dan aku gak perlu memberi penjelasan karena itu," ujar Imah tak terbantahkan, sedang Arif dan Huda sama-sama geleng kepala tanda jika mereka heran mendengar ucapan Imah.