Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Acara Pertunangan


__ADS_3

Matahari terus saja berlalu meninggalkan langit yang semula terang karena cahayanya kini berubah menjadi gelap gulita, cuaca malam ini sedikit tak mendukung langkah Hasan yang akan mengikat gadis pujaan hatinya.


Bintang tak terlihat apalagi sang bulan yang entah di mana saat ini, langit benar-benar terlihat gelap gulita karena tertutup awan mendung, meski cuaca terlihat tak mendukung tapi Hasan dan yang lain tak peduli, mereka tetap semangat untuk meneruskan niat dan rencana yang telah tersusun.


Keadaan Hasan yang selalu tersenyum dan sedang bersiap untuk berangkat dengan hati yang begitu bahagia bercampur gugup berbanding terbalik dengan keadaan Husein yang masih betah di dalam kamar berusaha menetralkan perasaannya yang tengah memanas terbakar oleh api cemburu.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu mengejutkan Husein yang sedang mengatur nafas menetralkan perasaannya yang sedang berantakan.


"Husein, ayo berangkat!" panggil Umik dengan ekspresi wajah yang khawatir, pasalnya sejak tadi siang Husein tak keluar kamar sama sekali bahkan dia melaksanakan sholat di dalam kamar.


"Iya, Umik," sahut Husein dengan nada yang di buat sebiasa mungkin.


"Apa kamu baik-baik saja Sayang?" tanya Umik.


Ceklek ....


"Memangnya Aku kenapa Umik?" sahut Husein setelah menampakkan diri di hadapan Umik.


"Sejak siang kamu tidak keluar dari kamar Nak, apa kamu baik-baik saja?" Umik kembali menanyakan kabar Husein yang justru terlihat biasa saja.


"Aku baik kok Umik, tenang saja." Jawab Husein dengan senyum yang tak pernah berhenti mengembang.


"Alhamdulillah jika begitu, Umik sangat khawatir Nak. Jadi Umik meminta keikhlasanmu untuk melepaskan semua perasaanmu pada Arum demi kakakmu!" pinta Umik dengan ekspresi wajah memelas.


"Umik tenang saja, Husein tak selemah yang Umik bayangkan. Husein bisa mencari Arum yang lain," Jawaban Husein benar-benar membuat senyum Umik merekah, dia begitu bangga memiliki putra seperti Husein.

__ADS_1


Tanpa basa basi Umik langsung memeluk puteranya itu dengan penuh kasih sayang, juga bermaksud memberi kekuatan untuknya.


"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik Nak," untaian do'a terindah lolos dari bibir Umik yang di amini oleh Husein yang selalu berusaha menampakkan senyum terbaiknya meski hatinya tengah hancur.


"Amin," jawab Husein dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


Rombongan keluarga Hasan kini mulai berangkat menuju rumah Arum, perjalanan kali ini terasa begitu panjang bagi Hasan yang sudah tak sabar ingin segera mengikat Arum pujaan hatinya, tapi perasaan Hasan berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Husein, perjalanan saat ini adalah perjalanan terberat baginya dimana dia harus benar-benar ikhlas melepas Arum yang sudah cukup lama mengisi sudut ruangan di hatinya.


"Alhamdulillah sampai juga," ucapan rasa syukur terdengar dari bibir Umik, sesaat setelah sampai di halaman rumah Arum.


Keluarga Arum terlihat begitu bahagia menyambut kedatangan keluarga Hasan, tapi kebahagiaan itu berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Abi Ilzham yang menatap malas ke arah Rifki yang berstatus sebagai Ayah Arum.


"Selamat datang Uqi!" sambut Bunda Fia berjalan menghampiri Uqi dengan senyum sumringah, akhirnya apa yang mereka impikan kini jadi kenyataan, persahabatan yang sudah terjalin kini akan segera jadi persaudaraan seperti yang mereka impikan selama ini.


"Bagaimana perjalanannya?" sambung Fia.


Kebahagiaan kedua sahabat itu sangat berbeda dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Abi Ilzham, dia kini memasang wajah datar tanpa ekspresi menatap ke arah Rifki sang rival.


"Abi, ayo masuk!" ajak Umik yang mengerti dengan suasana hati Abi yang sedang tak baik.


Umik berjalan dengan menggandeng lengan Abi dengan senyum yang merekah.


Abi Ilzham yang mendapat perlakuan romantis merasa lebih tenang dan perlahan ekspresi datarnya berubah jadi senyum yang samar.


Berbeda dengan Abi Ilzham yang merasa kurang nyaman jika ada Rifki di dekatnya maupun di dekat sang istri, Rifki justru terlihat begitu santai dengan senyum manis di bibirnya.


Rifki memang sudah melupakan segalanya, meski dalam sudut hatinya yang paling dalam nama Uqi masih tersimpan sebagai mantan terindah seumur hidupnya, tapi rasa itu tak bisa mengubah sikap Rifki dalam menjamu tamu-tamu yang hadir.

__ADS_1


Semua anggota keluarga sudah berada di dalam ruang tamu duduk berjejer menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang, setelah mengutarakan semua maksud dan tujuan kedatangan mereka dan keluarga Arum juga sudah menerima pinangan Hasan, dan niatnya untuk mengikat Arum untuk di jadikan istrinya.


"Sekarang Mas Hasan bisa memasangkan cincin tanda pengikat di tangan kiri Arum." ujar seorang juru bicara yang sudah di tunjuk oleh keluarga Arum.


Dengan gerakan pasti Hasan mengambil cincin dan hendak memasangkannya ke tangan Arum, tapi sikap berbeda di tunjukkan oleh Arum. Dia yang semula diam kini malah menyembunyikan tangannya di balik punggungnya, sikap Arum sontak membuat semua keluarga yang hadir terkejut tak terkecuali dengan Hasan dan Husein yang langsung melebarkan bola mata kaget dengan sikap Arum.


"Kenapa Arum? apa kamu tidak mau menerima pinangan saya?" ucap Hasan dengan wajah terkejut bercampur kecewa.


"Maaf," jawaban Arum sungguh membuat semua keluarga terkejut dan bingung, semuanya saling memandang bingung satu sama lain.


"Maaf, maksudnya apa?" Hasan yang benar-benar merasa bingung kembali bertanya.


"Nak, apa kamu berubah fikiran atau ada masalah?" bisik Bunda Fia yang kini benar-benar merasa bingung dengan sikap Arum.


"Arum, katakan apa yang terjadi dan apa yang kamu rasakan? kenapa kamu sembunyikan tanganmu itu?" Umik yang juga memiliki perasaan yang sama seperti Bunda Fia ikut bertanya.


Arum hanya menunduk mendapatkan rentetan pertanyaan dari Hasan, Umik juga sang Bunda. Arum mulai mempersiapkan diri untuk merangkai kata selembut mungkin agar Hasan dan seluruh keluarga yang hadir tak salah faham juga mengerti apa alasan di balik sikap yang di tunjukkan olehnya.


"Ak~" ucapan Arum terhenti karena Husein yang melihat semua yang terjadi ikut berkomentar.


"Jangan paksakan dirimu Arum, katakan apa yang sebenarnya kamu rasakan, dan katakan saja apa maksud dari sikapmu itu?" Husein yang sejak tadi diam kini ikut berkomentar.


"Maaf jika sikap saya kurang baik dan terkesan tidak sopan, maaf juga jika sikap saya ini sudah menyinggung perasaan Kak Hasan dan yang lain," ucap Arum yang semakin menundukkan kepala khawatir jika sikapnya tidak bisa di terima oleh keluarga yang lain.


"Kamu tidak salah Arum, katakan saja ada apa denganmu? jika memang kamu tak menerimaku maka Aku akan pulang dan melupakan segalanya," ucapan Hasan benar-benar terdengar penuh kekecewaan juga keputus asaan dalam nada bicaranya.


"Maaf Kak, kita masih belum muhrim, apa boleh jika pasang cincinnya di lakukan oleh Umik?"

__ADS_1


__ADS_2