
Keadaan di kamar Umik jauh beebeda dengan kamar asrama yang kini di tempati Arum, malam ini Arum memutuskan untk menginap di asrama putri dan tak kembali ke rumah Umik, meski sebenarnya Arum ragu dia bisa tidur nyenyak atau tidak mengingat ini pertama kalinya dia todur di pesantren setelah beberapa minggu tinggal di pesantren.
Rasa ragu itu terkalahkan oleh rasa penasaran yang hinggap dalam diri Arum, lomba yang baru saja dia dengar membuat jiwa penasarannya muncul.
"Mbak Fifi," panggil Arum
"Iya, Arum," sahut Fifi sang ketua kamar.
"Lombanya kapan di mulai?" tanya Arum antusias.
"Sebentar lagi, seksi kebersihan sedang berkeliling di Asrama lain." Jawab Fifi.
Di pesantren ada banyak pembagian kelompok santri yang sudah cukup lama ada di pesantren, ada beberapa santri lama yang di angkat menjadi pengurus dengan tugas masing-masing.
Ada yang bertugas menjadi penjaga kebersihan di sebut seksi kebersihan, tugasnya mengawasi santri yang membuang sampah sembarangan atau melakukan pelanggaran-pelanggaran lain yang berbungan dengan kebersihan dan seksi kebersihan ini bertugas mencatat dan memberi hukuman bagi yang melanggar, biasanya hukuman akan di umumkan di hari kamis dan di laksanakan di hari jum'at.
Begitu pula dengan seksi-seksi yang lain seperti seksi keamanan, seksi pendidikan, seksi kedisiplinan dan seksi lainnya.
Arum yang mendengar jawaban Fifi hanya bisa manggut-manggut tanda mengerti sembari memperhatikan sekeliling. Arum berjalan pelan keluar kamar dan suasana berbeda begitu terlihat.
Biasanya anak santri akan menaruh kitab atau sisa makanan yang di kirim dari rumah di sela-sela jendela kamar, berjejer rapi di antara susunan kaca jendela.
Kaca jendela kamar di pesantren memang jendela kuno yang terdapat beberapa susun kaca yang saling menyatu dan dapat di luruskan sebagai tempat menaruh barang bagi anak santri.
Saat ini semua asrama terlihat begitu rapi dan bersih tak ada satupun sampah atau barang-barang yang bertengger di jendela semua terlihat begitu bersih hingga mata terasa sejuk memandangnya.
Arum terus menelisik setiap sudut kamar yang ada di asramanya hingga beberapa santri senior yang terlihat berbeda dengan almamater hitam menjadi ciri khas para seksi di pesantren ini.
__ADS_1
Para seksi kebersihan masuk ke dalam kamar satu persatu hingga tibalah di kamar Arum, dengan rasa penasaran dan antusias yang tinggi Arum memperhatikan setiap gerakan para seksi kebersihan yang menjadi juri.
Mereka memperhatikan setiap sudut dan mengitari kamar dengan Mbak Fifi yang terlihat harap-harap cemas melihat ekspresi setiap seksi.
"Bagaimana hasilnya Mbak?" tanya Arum sesaat setelah semua seksi kebersihan keluar dari kamar.
"Nanti akan di umumkan setelah semua kamar di periksa beserta pengumuman pelanggaran yang di lakukan para santri. Aku harap anggota kamarku tak ada yang melanggar lagi dan berakhir menyusahkanku." Fifi mengucapkan semua kalimat dengan menekankan kata terakhir sambil melirik Desy dan Sinta yang sekarang sedang berdiri di samping Arum.
Sikap Fifi sontak membuat Arum bingung sekaligus kepo, Arum melirik ke arah Desy dan Sinta yang sedang di lirik oleh Fifi. Terlihat jelas kesedihan penyesalan di wajah ke duanya.
'Aku kok merasa aneh ya, apa ada sesuatu yang tak di ceritakan mereka padaku?' batin Arum mulai bersuara.
Fifi langsung berjalan meninggalkan semua anggota yang sedang berdiri di depan kamar, semua anggota kamar yang ada di asrama berkumpul di depan kamar masing-masing, ada yang duduk ada pula yang berdiri untuk melakukan sesuatu ada pula yang masih sibuk ngerumpi seolah acuh dengan keadaan seperti sekarang.
Semua seksi berdiri di tengah asrama dan semua santri memandang ke arah mereka berada.
Untungnya minggu ini anggota asrama Arum tak ada yang melanggar, terlihat jelas kelegaan di wajah Fifi yang sejak tadi tegang mendengar setiap santri yang melanggar.
"Hurfft, alhamdulillah malam ini Aku aman." lirih Fifi yang membuat Arum semakin penasaran dengan sikap yang di tunjukkan oleh Fifi.
"Mbak," panggil Arum yang mendekat ke arah Fifi
"Iya, Arum," sahut Fifi menoleh ke arah Arum yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Mbak kenapa?" tanya Arum.
"Tidak apa-apa, memangnya kenapa denganku sampai kamu tanya seperti itu?" tanya Fifi yang memandang aneh ke arah Arum.
__ADS_1
"Wajah Mbak seperti orang cemas sedang menantikan sesuatu. Dan Aku jadi penasaran dengan sikap Mbak Fifi." Ujar Arum jujur.
"Aku sedang khawatir, jika ada anghota kamarku ada yang melanggar." Meski Fifi terlihat sedikit kurang suka pada Arum tapi dia masih bisa menjawab pertanyaan Arum yang di balut dengan senyum manisnya.
"Apa hubungannya anggota Mbak Fifi yang melanggar aturan dengan Mbak Fifi?" Arum semakin penasaran setelah mendengar jawaban Fifi.
"Setiap anggota kamar yang melanggar pasti akan mendapat hukuman, dan ketua kamar yang bertugas menjaga juga mengawasi anggotanya akan mendapat ceramah panjang kali lebar, dan kau tahu hasil dari panjang di kali lebar itu bisa bikin kepalamu pusing tujuh keliling." Fifi menarik nafas pelan dan mengeluarkannya perlahan
"Jadi," Arum menunjuk ke arah beberapa santri yang sedang berdiri di sisi para pelanggar.
"Iya, mereka yang ada di sisi pelanggar adalah ketua kamar." Jelas Fifi.
'Oh, jadi ini jawabannya' batin Arum.
Arum yang mendengar penjelasan Fifi menyimpulkan jika tatapan Fifi pada Desy dan Sinta itu berarti jika mereka pernah melanggar dan Fifi mendapat ceramah panjang karenanya.
Semua acara rutinan yang di lakukan setiap hari kamis telah usai dengan kamar Arum sebagai pemenangnya.
"Akhirnya, kita selama seminggu ke depan, gak perlu lagi cari antrian kamar mandi," ucap Desy.
"Iya Des,kita punya satu kamar mandi yang bisa di gunakan kapan saja sampai satu minggu ke depan." Sahut Sinta.
Akhirnya cerita pun berakhir hingga malam semakin larut Arum berusaha memejamkan mata, meski terasa begitu sulit tapi Arum terus berusaha agar dirinya bisa tertidur pulas seperti biasa. Arum terus saja kesulitan tidur karena selain ini yang pertama baginya tidur di pesantren secara sadar, Arum juga merasa baru. pertama kali tidur di alas yang begitu tipis, Arum yang terbiasa tidur di kasur king size nya kini harus berusaha sekuat mungkin agar bisa tidur dan terbiasa dengan apa yang sekarang dia rasakan. Hingga perlahan kantukpun datang karena saat ini jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Dan arum tertidur dengan damainya.
*********
Suara adzan subuh berkumandang telah tiba, udara dingin masih terasa begitu menyengat dan menusuk ke dalam tulang.
__ADS_1