
"Kak Husein mau makan yang mana?" tanya Zahra.
"Aku suka yang itu! dan ini." Husein menunjukkan udang asem manis dan sayur kangkung.
Dengan telaten Zahra mengambilkan beberapa menu yang di minta oleh Husein, meski hati Zahra belum sepenuhnya yakin atau memiliki rasa lebih pada Husein, tapi ajaran untuk menghargai dan menghormati suami ataupun calon suami telah dia fahami sepenuhnya.
"Terima kasih calon istriku," cicit Husein dengan senyum centil yang sukses membuat Zahra terkejut, pasalnya sikap Husein kali ini benar-benar berbeda dengan sikap Husein biasanya.
"Sama-sama Kak," jawab Zahra seraya berlalu kembali mengambil piring untuk dirinya.
Husein berjalan mendekati Huda yang makan sendirian di ujung tempat duduk sedangkan Hasan dan Arum masih saja terlihat mesra.
"Bi, udang itu kayaknya enak," ucap Arum.
Tanpa menjawab pertanyaan Arum, Hasan yang mendengar ucapanyya langsung mengambil udang yang ada di piringnya dan memindahkan ke piring milik Arum.
"Makanlah! rasanya enak kok," ujar Hasan dengan senyum yang mengembang di pipinya.
Semakin mendekati hari H keduanya terlihat semakin akrab meski mereka harus terpisah saat ada di pesantren karena Arum akan tidur dan beraktifitas seperti sebelum menikah saat ada di pesantren.
Acara demi acara telah selesai kini semua keluarga kembali pulang ke pesantren.
"Loh Arum mau ke mana?" tanya Ummah saat melihat Arum tak ikut masuk ke rumah Hasan melainkan berjalan menuju pondok putri.
"Arum mau kembali ke asrama Umma." Jawaban arum membuat Umma tersenyum, apa yang di lakukan oleh Arum sama persis dengan apa yang pernah terjadi pada Ilzham dan Uqi yang tak lain adalah anak menantunya sendiri.
"Memang pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar-benar nyata adanya," lirih Ummah yang hanya bisa di dengar oleh telinganya sendiri.
"Memangnya ada apa ya Umma?" sambung Arum yang melihat Umma hanya diam dengan senyum samar di wajahnya.
"Gak ada apa-apa, kamu hati-hati di asrama." Jawab Ummah yang sedang tak berniat menceritakan kisah Ilzham dan Uqi.
__ADS_1
"Baiklah, Arum pamit dulu Umma." Pamit Arum seraya mencium punggung tangan Umma dan melenggang pergi meninggalkan Umma menuju asramanya.
"Iya, hati-hati!" sahut Umma.
"Apa Umma tidak ingin masuk?" ucap Umik yang baru saja turun dari mobil dengan beberapa barang bawaan di tangannya.
"Umma hanya teringat kisah masa lalu Nak," bukannya masuk Umma malah mengungkapkan ingatannya tentang masa lalu yang kini berputar kembali di fikirannya.
"Kenapa dengan masa lalau Umma? apa ada masalah?" tanya Umik yang tak mengerti masa lalu seperti apa yang di maksud oleh Umma, dia hanya khawatir jika masa lalu yang di ingat Umim bisa membuatnya sedih dan kembali jatuh sakit.
"Tidak ada masalah Nak, hanya saja mengetahui Arum yang tinggal di asrama setelah menikah membuat Umma mengingat kisahku dan Ilzham dulu." Jawaban Umma membuat seutas senyum muncul di bibir Umik.
"Semoga kisah mereka akan berakhir bahagia seperti kisahku Umma," untaian harapan keluar dari bibir Umik.
"Semoga saja seperti itu, dan semoga Hasan tak memiliki sifat seperti Ilzham yang cemburunya masya allah gak ketulungan," Umma kembali mengungkapkan harapannya, sebuah harapan yang membuat suara tawa terdengar di sana.
"Sudahlah, kenapa jadi bahas masa lalu, lebih baik kita masuk dan beristirahat." Umma yang kini mulai merasa lelah mengajak Umik untuk masuk ke dalam rumah dan beristirahat di dalam.
"Alhamdulillah ya Bi, sekarang putera-putera kita sudah punya pasangannya masing-masing, semoga mereka bisa terus bahagia," ujar Umim yang kini sudah berada di kamar.
"Amin," sahut Abi Ilzham yang sejak tadi tak pernah berhenti menjelajah ke tempat-tempat favoritnya.
"Abi," keluh Umik yang mulai merasakan keanehan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Emm, bagaimana performa Abi? apa masih seperti dulu hm?" sahut Abi tanpa menghentikan aktifitasnya memainkan sebuah gunung kembar yang kini telah menjadi tempat bermain paling menyenangkan.
"Ahhh, Abi benar-benar bikin Umim ah~" sahut Umik yang sudah terlihat larut dalam permainan Abi.
"Umik!" lirih Abi Ilzham dengan suara seraknya.
"Iya, tapi hanya satu ronde ya," jawab Umik.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Abi.
"Umik capek Abi, di luar juga masih ada Umma, gak enaklah kalau nanti Umik nemenin Umah dengan wajah lelah dan lesu karena kecapek'an," jawaban umik cukup membuat Abi Ilzham mengerti dan aktifitas panas di siang hari yang begitu panas itupun terjadi, sungguh pasangan yang bisa membuat semua orang iri jika mereka mengetahuinya, karena Umik dan Abi Ilzham masih saja seperti dulu meski usia pernikahan mereka sudah tak baru lagi.
Siang berlalu kini matahari perlahan mulai berjalan kembali menuju peraduannya, seperti hari-hari biasa Desy akan pergi ke halaman belakang ndalem untuk mengambil dan melipat jemuran di sana.
"Perlu di bantu?" suara seorang laki-laki yang tak asing di telinga Desy terdengar begitu dekat dan mengejutkan Desy yang sedang asyik melipat baju.
"Astaghfirullah, Mas Huda ngagetin aja," ujar Desy sejenak menghentikan aktifitasnya melipat baju.
"Kenapa? kaget ya?" bukannya merasa bersalah Huda malah tersenyum senang melihat ekspresi terkejut Desy.
"Kagetlah Mas, orang lagi serius ngelipet baju Mas Huda malah ngagetin," sahut Desy seraya mengusap dadanya berusaha meredakan rasa keterkejutannya.
"Makanya ngelipet baju itu jangan terlalu serius! di bawa santai saja." Ujar Huda sambil duduk di kursi yang terletak tak jauh dati tempat Desy duduk.
"Mas Huda sedang apa di sini?" tanya Desy yang merasa jika Huda selalu saja ada di halaman belakan saat dia juga ada di sana.
"Nemenin kamu." Jawab Huda santai sedang Desy langsung melotot terkejut dengan jawaban yang di berikan oleh Huda.
"Apa? nemenin Aku?" seru Desy dengan ekspresi sama saat Huda pertama kali menyapanya tadi.
"Hahahaha," tawa renyah Huda terdengar menggema membuat Desy semakin bingung.
"Kok ketawa?" tanya Desy dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi bingung.
"Ekspresi wajahmu membuatku tertawa, kamu jadi terlihat lucu," Huda kembali menjawab ucapan Desy dengan santai tapi hal itu berbeda dengan Desy yang merasa GR dengan jawaban yang di ungkapkan oleh Huda.
Bertemu dengan Desy memberikan hiburan tersendiri bagi Huda, dia sejenak bisa melupakan rasa sakit dan sedihnya karena di tinggal menikah oleh Arum saat bersama dengan Desy.
"Emang aku badut wajahnya bisa bikin irang ketawa," celetuk Desy.
__ADS_1
"Badut cantik," sahut Huda membuat wajah Desy menjadi merah karenanya.