
"Dasar Kakak sengklek, dari dulu hobinya bikin emosi mulu," gerutu Arum sembari meneruskan pekerjaannya membelah dan memotong sayur kangkung.
Bunda Fia hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya yang terlihat masih seakrab dulu meski jarang bertemu.
"Sudah jangan menggerutu pagi-pagi! gak baik untuk kesehatan kulit wajah, nanti bisa keriput bagaimana?" Bunda Fia yang melihat wajah Arum penuh dengan kekesalan mencoba untuk menghiburnya.
"Habis Kak Steve hobi banget bikin Aku kesel," keluh Arum.
"Sudah jangan di hiraukan! Kakakmu emang suka bercanda, lagi pula kalau kamu pasang wajah cemberut seperti itu di hadapan suami maka bukan pahala yang akan kamu dapat tapi dosa, sudah jangan cemberut!" Bunda Fia mendekat dan duduk tepat di samping Arum untuk membuat Arum kembalu tersenyum.
"Emang bisa gitu dapat pahala hanya dengan sebuah senyuman?" tanya Arum yang baru saja tahu jika sebuah senyum bisa mendatangkan pahala.
"Apa kamu pernah dengar istilah senyum itu ibadah?" Bunda Fia tak langsung menjawab pertanyaan Arum melainkan bertanya kembali.
"Arum pernah denger sih, tapi apa hubungannya dwngan dosa jika cemberut di hadapan suami?" Arum memang masih sangat awwam dalam mempelajari hukum islam, tapi tidak dengan Bunda Fia yang sudah cukup lama memperdalam ilmu agamanya meski hanya lewat ustad pribadi tanpa harus menjadi santri seperti Uqi.
"Begini Nak, kita senyum di hadapan suami otomatis membuat suami kita senang memandang ke arah kita, maka pahalah yang amat besar yang akan kita dapatkan, tapi jika kita memasang wajah cemberut yang membuat suami kita merasa malas untuk memamdang bahkan terkadang kita sering membentaknya tanpa sadar saat wajah kita sedang cemberut." Bunda Fia kembali memberikan nasehat yang mungkin akan berguna untuk sang Putri.
"Aku mengerti Bunda, terima kasih sudah mengajari banyak hal padaku," ucap Arum dengan perasaan begitu tulus, Arum begitu bersyukur karena memiliki Bunda seperti Bunda Fia. Mengajarinya banyak hal yang dia yakini akan sangat bermanfaat untuknya di kemudian hari.
Bunda Fia tersenyum tulus menatap puterinya, gadis kecil yang dulu selalu saja mengekor di belakangnya dengan tawa dan celotehan-celotehan lucu kini telah menjadi seorang wanita dengan pemikiran dewasa.
__ADS_1
"Semoga kamu selalu bahagia, Nak," untaian harapan keluar dari bibir Bunda Fia.
"Amin, terima kasih do'anya Bunda," sahut Arum sembari bergeser tempat mendekat dan memeluk sang Bunda penuh haru.
Jika Arum mendapatkan begitu banyak wejangan dari sang Bunda maka berbeda dengan Desy yang saat ini sedang duduk sendiri di kamar. Semalam kepalanya mendadak pusing dan suhu badannya juga panas, padahal sebelumnya Desy tak merasakan keluhan apapun, karena sakit Desy terpaksa izin tak masuk sekolah dan beristirahat di kamar seorang diri.
"Oh ya, kado dari Mas Huda isinya apa ya?" lirih Desy tiba-tiba mengingat satu kotak kado yang sempat dia sembunyikan semalam.
Dengan langkah pelan menhan kepalanya yang masih terasa berdenyut Desy berjalan menuju satu koper besar yang biasa di gunakan saat pulang liburan dari pesantren.
Semalam ada banyak benda-benda dilarang yang di temukan, mulai dari surat, foto, Novel, dan komik, sampai bunga mawar bertempelkan kertas tanda pernyataan cinta, semua benda itu tak di perbolehkan berada di pesantren karena menurut pengasuh barang-barang seperti itu dapat merusak konsentrasi belajar santri.
Sraaakkk ....
"Loh, bukankah ini gamis yang Aku pilih kemarin?" lirih Desy saat melihat dua gamis yang sempat dia pilih di butik kemarin, Huda tak hanya memberikan gamis, dia juga memberikan beberapa coklat silv** que**. Entah Huda tahu atau tidak cokelat yang di berikannya pada Desy adalah coklat kesukaan Desy.
Desy sebenarnya bukan tipe gadis yang suka mengumbar kesusahan atau kesedihan, dia lebih suka menikmati rasa sedih dan sakit hati itu seorang diri di temani oleh sebatang coklat yang menurutnya mampu menghilangkan sedikit rasa sakit yang dia miliki.
Tapi keadaan berbeda saat Desy berada di dekat Arum dan Huda, dua orang berbeda yang memiliki sifat hampir sama. Keduanya bukanlah tipe orang yang suka menceritakan ceritanya pada orang lain, mereka hanya akan jadi pendengar dan menyimpan cerita itu untuk mereka sendiri.
"Kenapa Mas Huda membetikan gamis dan cokelat ini padaku ya?" Desy mulai berfikir banyak tentang maksud Huda mengiriminya kado hingga satu pucuk surat terlihat di antara tumpukan coklat yamg ada di hadapannya.
__ADS_1
Assalamualaikum Desy,
Sebelumnya Aku minta maaf jika dengan datangnya kado ini bisa mengganggumu.
Terima kasih sudah sering memberiku kata-kata penyejuk yang tak secara langsung membuatku yang baru saja patah hati sadar jika dia memang bukan takdirku, juga tercipta bukan dari tulang rusukku, kamu gadis yang baik dan bijaksana. Terimalah sedikit barang yang mungkin tak berkenan di hatimu, tapu Aku tulus memberikannya padamu dan ku harap kamu bisa menerima. Lebih-labih jika kamu memakai gamis yang kamu pilih itu, maka Aku akan lebih bersyukur lagi.
Sekali lagi terima kasih untuk segalanya, Aku bersyukur bisa bertemu dengan gadis sepertimu.
^^^Salam manis^^^
^^^Huda.^^^
Wassalam ....
Bibir Desy seketika melengkung setelah membaca sepucuk surat yang di ketik oleh Huda, Desy benar-benar tak pernah menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini dari orang yang terlihat begitu sulit untuk dia gapai, jujur saja sejak pertama Desy melihat Huda dengan segala karisma yang dia miliki membuat hati Desy yang sudah cukup lama kosong kini mulai terisi. Meskipun Desy sangat tahu jika Huda bukan orang yang sederajat secara sosial tapu dia tak pernah berniat menghapus atau melupakan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, bagi Desy perasaannya itu tumbuh karena takdir dan anugerah dari yang maha kuasa, maka Desy hanya bisa memasrahkannya pada sang pencipta rasa.
Kepala Desy seketika membaik setelah membaca surat dari Huda, Desy langsung berdiri dan mencoba gamis yang di berikan oleh Huda. Sungguh hari yang mengejutkan sekaligus membahagiakan bagi Desy.
"Mbak Desy!" panggil seorang santri yang berdiri tepat di tengah pintu dan mematung melihat apa yang di lakukan Desy.
Desy sedang berputar menatap dirinya di depan cermin lumayan besar yang ada di kamarnya.
__ADS_1
"Eh, i~iya Mbak, ada apa?" sahut Desy gugup bercampur malu.
"Mbak masih sakit atau udah sembuh?" seloroh sang santri. yang merasa bingung, pasalnya baru saja dia di panggil oleh Huda keponakan Abi Zham pemilik pesantren untuk memberikan sebungkus bubur ayam pada Desy yang katanya sakit, tapi keadaan berbanding terbalik saat Santri itu sampai di dalam kamar, dia melihat Desy berputar-putar di depan cermin dengan senyum yang mengembang terlihat segar dan bugar.